Selasa, 28 Januari 2014

SENJA


Matahari pergi
Bukan keletihan melanda
Dan mengalah pada senja
Tetapi,
Sebuah keniscayaan
Laksana api yang panas
Atau air yang mengalir
Atau bumi yang berputar
Bagai kisahku,
Yang mengekor pada nasib
Hampa,
Pudar,
Lebur,
Bak petang kini
Mengusir cerah mentari



SEMOGA


Letih ini kuharap tak berakhir sendu
Melainkan kucapai getaran rindu,
Peluhku membasahi kening
Pintaku tak kian berujung hening,
Sebab,
Dalam lelah kutemukan gairah
Dalam helaan kudapati kehangatan
Dalam guntai kuperoleh cinta nan damai,
Semoga..


Pulau Kenanga


Silir angin menghembus ujung kain jilbabku
membuatnya menari-nari serasa di tepian pantai
gemericik air yang saling berbenturan, menjadi ombak
riuh menemani kesendirian

Tatapanku menerawang ke dasar lautan
seolah tenggelam amat sangat dalam
berenang kian kemari bersama kekawanan lumba betina
lalu, menghayal bersama

Tak terasa begitu lama termenung
Suara kapal berbunyi pertanda akan merapat
Mengusik kenangan indah yang tengah kuselami
Bersama mereka yang kurindui

Sahabat,
Inilah pelabuhan kita, pulau terindah kita,
Di mana aku, dan kamu, dipertemukan, lalu dipisahkan,
Harapku kini, semoga dipertemukan kembali,



SERAHKAN


Gelora itu hadir,
Tatkala yang tercinta mendorong mendukung cita,
Terasa beda,
Oh amat beda,
Sempurna mengundang asa yang sempat kelabu,
Namun,
Sekejap saja ia mampu memudar,
Jika sokongan tak lagi menawan mewarnai hati,
Pupus oleh degupa tak menentu,
Rapuh oleh pematah kalbu,
Entah,
Meskipun begitu,
Janganlah!
Usirlah!
Kembali menuju sasaran mimpi,
Dan serahkan semua pada Ilahi []

TAHUKAH CINTA



Tahukah cinta,
Derai kata mulutmu berbusa,
Mencuap curahan isi hati nan permai,
Sajakku membisik,
Bahwa sejatinya ungkapanmu tak butuh rupa,
Sebab hati tlah menjadikanmu nyata,

Tahukah cinta,
Beradu rinduku di malam sunyi,
Berteman huruf membentuk puisi,
Kata demi kata,
Kuurai tuk nyatakan cinta,
Meski berakhir padaku sahaja,
Dan tatapmu tak pernah menyaksikan,
Kuharap keu menantikan,
Adegan yang pasti,
Yang nyata walau tak berarti,

Karna aku,
Lunglai dalam rindku.

Jumat, 17 Januari 2014

HIJABMU IDENTITASMU




“Kenapa belum berjilbab?”

“Ah..nanti deh, hijabin hati aja dulu.”

“Apa hubungannya?”

“Iya, hati dan akhlak dulu diperbaiki, baru berhijab.”

Hmm.. mendengar alasannya, sebetulnya ada benarnya juga. Nabi Muhammad diutus sebagai penyempurna AKHLAK, dan akhlak bersumber dari hati. Tapi, apakah Allah memerintahkan wanita islam berhijab dengan syarat? Dengan ketentuan harus sudah baik lahir dan bathin? Sudah sempurna akhlak dan hatinya? Sedangkan manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan. Jika demikian, sampai kapankah alasan ‘menghijabi hati’ itu berujung?

Entahlah,

Namun yang harus kita ketahui, hijab atau jilbab, adalah IDENTITAS. Adalah KEWAJIBAN. Adalah KEHORMATAN. Bagi seluruh wanita baligh yang beragama Islam. Dengan tidak memandang apakah ia baik hatinya ataukah buruk hatinya. Apakah kaya ataukah miskin. Apakah berpendidikan tinggi ataukah tidak. Apakah bangsa Arab ataukah tidak. Lantas, alasan apapun untuk menunda berhijab tidaklah bisa diterima. Sebab perintah Allah bukanlah untuk dikompromi.

Andai kita menyaksikan, tatkala Allah menurunkan firmannya dengan perintah “..Hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..” (24:31), maka saat itu pula para wanita mengambil kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka, dari kepala hingga melabuh ke dada. Tanpa protes, tanpa komentar, tanpa alasan apapun melainkan “sami’na wa ‘atha’na”.

Andaikan pula, wanita yang beralasan itu tahu, bahwa ada hikmah disebalik segala perintah. Allah tidak akan menjadikan segala sesuatu itu sia-sia, semua ada manfaatnya. Justru dengan melaksanakan perintah berhijab, sedikit-demi sedikit, hati pula akan ikut terhijabi, secara otomatis pula akhlak akan menyesuaikan apa yang telah menjadi identitas diri. Bukankah Allah telah menjelaskan, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak akan diganggu.” (33:59)  

Lihat saja adegan-adegan yang sering terjadi ketika para wanita melintasi segerombolan laki-laki yang suka menggoda. Apa yang mereka katakan kepada wanita yang tak menutup aurat? Dan apa yang mereka katakan kepada wanita yang menutup aurat dengan berjilbab? Kontras! Meski sama-sama disapa, namun maksudnya berbeda. Setidaknya mereka sentiasa mendoakan wanita yang berjilbab dengan iseng menyapa, “Assalamu’alaikum Bu Haji”. So, tinggal dijawab dan meng-aminkan dalam hati, semoga segera pergi haji. Hehe..

() () ()

Bersyukur, dewasa ini jilbab bukan lagi hal yang tabu disandangkan oleh para wanita muslimah. Berbagai fasilitas telah disediakan guna memper-elok penampilan para hijaber. Banyak toko-toko menyediakan bermacam model jilbab. Dari warnanya yang cantik, gayanya yang anggun, coraknya yang memperindah, kombinasi yang menawan, dan sebagainya. Tapi, mari kembalikan lagi kepada tuntunan syari’at. berfachion tidaklah masalah, asalakan tidak berlebihan dalam berhias. Memperindah diri dianjurkan, asalkan niat murni tetap diteguhkan.

Firman Allah, “..dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah..”  (33:33)



() () ()

Teruntuk muslimah di manapun berada, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua, memurnikan hati untuk taat kepada-Nya, terjaga dengan hijab yang melindungi, anggun dengan akhlak yang menawan hati, lembut oleh tutur yang berhikmah, mempesona dengan jiwa yang rahmah.

(I LOVE you coz ALLAH ^_^)