Selasa, 31 Desember 2013
Senin, 30 Desember 2013
Muslimah dan Impian Hebatnya!
“Temukan, dan sebutkan tiga target dekat dalam hidupmu, lima menit dari sekarang!”
***
Sejak
kecil, aku sangat suka membeli dan mengumpulkan buku-buku nota yang lucu
sebagai wadahku menuliskan apapun. Apakah itu curahan hati, cerita, gambar,
puisi, ataupun impian-impian yang kumiliki. Banyak sekali. Mungkin, tiap kali
ke toko buku dekat rumah, incaran pertamaku adalah mencari buku nota terbaru
dan menarik. Meskipun seringkali kena omel sama ibu gara-gara boros.
Terpaksa harus beli secara diam-diam. Hehe..
Tapi
entah kenapa, aku bukanlah tipe orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Sehingga siapapun yang ingin ngintip nota-notaku, meskipun hanya sekedar
puisi-puisiku, cerita pengalamanku, impian kecilku, tak akan aku izinkan. Aku
tak punya cukup keberanian untuk memberitahukan kepada orang lain, terutama perihal
mimpi-mimpiku dalam nota itu. Hanya sekedar meminta didoakan, didukung, dan
sebagainya saja.
Pernah
untuk pertama kalinya, aku mencoba menuliskan impian-impian, target mendatang,
serta harapan-harapan secara mendetail di selembar kertas binder. Lalu kutempel
kertas itu di dinding tepat di samping ranjangku di pesantren. Alhasil,
bukannya menambah semangat, justru aku semakin malu jika ada teman-teman yang
membacanya. Dan akhirnya, kucopot lagi dari dindingku dan kusimpan kembali
dalam lemari.
Suatu
hari orangtuaku bertanya kepada kami, anak-anaknya. Mengenai cita-cita kami
kedepan. Ingin kuliah jurusan apa? Ingin berprofesi sebagai apa? Dan pertanyaan
lainnya. Dan lagi-lagi, aku hanya menjawab “Ada deh, lihat saja nanti.” Orang tuaku sih yakin-yakin saja
kalau anaknya yang satu ini memiliki impian keren (ciye). Tapi, tak cukup percaya
diri.
Seorang
sahabatku mengatakan, “memang, rata-rata orang lebih memilih diam daripada
bercerita. Bahkan jarang sekali ditemui orang yang bercerita dengan antusias
tentang cita-citanya di masa mendatang. Padahal, siapa tahu dengan bercerita
itulah ada peluang-peluang yang Allah titipkan melalui orang-orang sekitar
kita.”
Benar.
Tapi lagi-lagi aku masih belum berani mengutarakan.
***
Seorang
sahabatku di kampus meminjamkan sebuah buku karya mas Ippho Santosa. Kayanya
sih dia penggemar beratnya. Semua buku karya beliau dia punya. WOW. Hehe. Ya,
buku itu benar-benar menyuruh kita untuk action dalam merealisasikan mimpi.
Satu impian = seribu aksi. Jangan malah dibalik. Buku itu juga menganjurkan
untuk percaya diri. Ungkapkan kepada orang-orang tercinta tentang mimpi-mimpi
kita. Karena dengan begitu, mereka pasti akan mendoakan dan mensuport secara
sungguh-sungguh. Sebab, harapan kita sudah jelas dipengetahuan mereka,
Khususnya keluarga.
Hmm, aku
masih belum Pe-De untuk yang satu ini. Kalau action insyaAllah sudah. Tapi, rasanya
masih ada yang kurang jika belum kuceritakan kepada orang lain tentang mimpiku.
***
Kamis
siang, seperti biasa. Aku dan segenap komunitas Muslimah Anti galau
(Jiahh..alay) berkumpul di atas rumput hijau yang berembun akibat hujan malam.
Masih menunggu seorang teman yang bertugas menjadi narasumber kami. Detik
berlalu, menit berlalu, akhirnya dia datang. Bukan datang dengan raganya
melainkan mendatangkan sebuah sms, “maaf temen-temen M.Ag, ada urusan
mendadak. Siang ini tak bisa hadir.”
Saat yang
tepat. Kucoba membuka diskusi santai. Mengajukan sebuah pertanyaan sekaligus
mencari tahu, apakah mereka bisa menjawabnya dengan antusias.
“Teman-teman, coba temukan, dan sebutkan tiga
target dekat dalam hidup kalian, lima menit dari sekarang!”
Semua
diam. Berpikir. Mencari-cari impian terdekat mereka. Bagi yang sudah biasa
merancangnya, terlihat dengan jelas ia sudah siap untuk menjawab. Oke, lima
menit sudah berakhir. Dimulai dari yang kanan.
“Untuk
target dan harapanku dekat ini, aku ingin menjadi designer busana muslimah,
ingin memantabkan lagi bahasa Arab, Ingin istiqomah menghafal Qur’an.”
“Aku
ingin menjadi da’i, yang dengan mudah menyampaikan nasihat di hadapan banyak
orang, ingin menikah dini, juga ingin istiqomah menghafal Qur’an.”
“Aku
ingin istiqomah salat Tahajud, ingin beli sepeda buat kendaraan ke kampus,
serta ingin melancarkan bahasa Arab dan Inggris.”
Dan
lain-lain...
Subhanallah.
Aku salut dengan mereka. Yang dengan antusias menceritakan tiga impian terdekat
mereka. Sepertinya, sahabat-sahabatku adalah calon muslimah sukses di masa
mendatang. Tidak hanya impian, ternyata mereka juga sudah mulai bergerak.
Bertahap mewujudkan impian-impian mereka itu. Kini, giliranku menyebutkan tiga
impian.
“Bismillah..
dalam waktu dekat ini, minimal terealisasikan di tahun 2014 mendatang. Pertama,
aku ingin menulis sebuah buku. Buku yang tidak jauh dari tema Al-Qur’an. Karna
memang itu bidang yang kugeluti selama ini. Kedua, aku ingin menjadikan Rumah
Tahfiz kami berkembang dan maju, juga permanen dengan fasilitas yang memadai.
Ketiga, aku berharap komunitas kita pun berkembang, diminati dan bermanfaat
bagi setiap muslimah di kampus.”
Kami
semua bertepuk tangan atas masing-masing penjelasan mengenai impian-impian
kami. Tak kusangka, ada getaran positif menyetrum pada tiap-tiap urat syarafku
setelah kujelaskan semuanya. Mungkin apa yang kurasakan sama dengan yang
teman-temanku rasakan. Kami semakin bersemangat untuk bergerak. Solusi yang
belum di dapat kami selesaikan bersama. Saling membantu dan mendukung atas
segala cita-cita.
***
Alhamdulillah,
kini Ibu dan Ayahku antusias mensuport dan mendoakanku. Setelah sesekali dengan
riang kujelaskan apa-apa yang aku impikan. Mulai dari target Indeks Prestasi,
target pekerjaan, target impian, dan sebagainya. Sehingga keringanan, serta kemudahan
dalam urusan terus mengalir dalam tiap langkahku mengejar mimpi. Tentu saja, karena
doa muslim kepada muslim lainnya pasti diijabah oleh Allah. Apalagi doa Orang
tua. Selain lancar, juga berkah. Insya Allah.
“Nah, ini
impian kami, apa impianmu?”
"Selamat Tahun Baru yah! Semoga menjadi lebih baik" ^_^
Minggu, 29 Desember 2013
Mushaf Encun
Senja
kian hinggap, gerimis masih saja membasahi bumi di kota Jombang. Seorang wanita
paruh baya tengah berjalan menyusuri trotoar di sepanjang pinggiran jalan raya,
hendak kembali ke rumah. Tubuhnya basah terkena guyuran hujan. Hari ini adalah
yang kesekian kalinya ia tidak diterima untuk mendaftarkan diri sebagai santri
di beberapa pesantren khusus menghafal Al-Qur’an.
“ndak
diterima lagi kan cun?” tanya seorang wanita tua yang tiada lain adalah
mertuanya, ketika ia baru saja memasuki rumah kecilnya yang bisa dibilang tak
layak pakai itu.
“Belum
mak, tapi akan saya coba lagi besok” jawabnya dengan optimis.
“Sudahlah
nduk.. kamu itu sudah berumur. Tak pantas lagi masuk pesantren yang
dihuni anak-anak remaja. lebih baik kamu jaga ibumu yang sudah tua renta ini.”
Ia tak
berkomentar. Disadarinya memang, saat setelah sepeninggal suaminya yang terkena
penyakit keras dua tahun lalu, kini mertuanya adalah satu-satunya keluarga yang
ia miliki.
“Saya
janji mak, hanya sebentar saja, tak lebih dari setahun.”
“Yo
karepmu lah, andai kamu punya anak, pasti tak perlu seribet ini mengabulkan
impianmu.
Ah,
lagi-lagi emak mengungkit hal itu. Tiga puluh tahun lamanya ia menikah belum
juga dikaruniai seorang anak. Anak yang ia harapkan kelak menjadi sosok ulama
yang hafal Al-Qur’an, agar derajat keluarganya tak selamanya di bawah rata-rata.
Ia selalu
teringat ceramah ustad Soleh di mushola kala itu. Bahwa Al-Qur’an mampu
memuliakan hidup seseorang yang berpegang teguh pada ajarannya, mengamalkannya,
bahkan sampai menghafalkan seluruh ayatnya. Karna Allah melihat manusia bukan
dari segi materi, melainkan dari ketakwaan dalam dirinya. Itulah yang mendorong
Encun untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Meski wanita pedagang sayur keliling ini
sudah berumur lima puluh tahun, namun ia tetap yakin bahwa harapannya akan
menjadi nyata, yang kelak akan menghantarkannya kepada kehidupan sesungguhnya.
***
Malam
yang pekat, selepas tahajud encun belum bangkit dari sajadah lusuhnya. Ia masih
mencari cara bagaimana agar ibu-ibu seusianya mampu menghafal Al-Qur’an meski
tidak tinggal di lingkungan pesantren. Padahal untuk sekedar membacanya saja ia
masih sangat terbata-bata. Sedang sang mertua akhir-akhir ini sering
sakit-sakitan sehingga tidak bisa ditinggal sendiri untuk merawat diri. Pikirannya
berkecamuk, sungguh harapan ini cukup sulit direalisasikan.
Namun
tekad itu sangat kuat tertancap dalam hati Encun. Seolah impiannya itu adalah
panggilan Ilahi kepadanya agar ia mampu mendalami ilmu agama secara mendalam.
Sebelum ia manyusul sang suami dan kembali ke pelukan Tuhan.
“Cun..”
panggil emak dari bilik kamar yang sudah reot, berdinding kayu yang sedikit
lembab terkena rembesan air hujan.
“Ya
mak..” Encun segera membuka mukenanya dan meletakkannya asal ke atas sajadah
lalu menghampiri emak.
“Emak
sesak nafas lagi, dada emak terasa di tekan-tekan.”
Dengan
cekatan Encun segera mengambil air putih dan langsung meminumkannya ke mulut
emak yang sedari tadi mangap lebar memaksa udara keluar masuk ke dalam
paru-parunya melalui mulut.
“Nanti
pagi kita ke Rumah Sakit ya mak”
“Ndak
usah nduk, mak tahu seminggu ini kamu tidak jualan sayur, sedangkan uangmu
habis untuk ongkos pergi ke beberapa pesantren”
“Njih
mak, hari ini saya mulai berjualan lagi, semoga hasilnya bisa cukup membawa
emak berobat.”
Encun
segera bergegas membawa sayur seadanya untuk dijual di sekitar desa tempat
tinggalnya. Baru dua tahun ia menekuni pekerjaannya sebagai pedagang sayur
keliling, hanya dengan modal sayur-mayur segar di belakang rumahnya, ia
berjalan melewati rumah-rumah tetangga sembari menawarkan dagangannya.
Baru
seperempat jalan, tiba-tiba bu Eti, tetangganya memanggil dari teras rumah yang
berubin hijau kebiru-biruan.
“Bu
Encun..! Sini sebentar..!”
“Ya
sebentar bu..” Jawab Encun segera menyongsong.
“Saya
dapet kabar katanya bu Encun lagi nyari tempat pengajian ya?” tanyanya seolah
mengintrogasi.
“Iya..
sebenarnya bukan tempat pengajian ibu-ibu biasa, tapi saya kepingin yang ada
khusus menghafal Al-Qur’annya.” Jelas Encun.
“Ada bu..
kemarin lusa menantu ustad Sholeh, ustad Agus baru membuka rumah... apa tuh
namanya...” Putus bu Eti sambil mengingat-ingat.
“Oh iya,
rumah Tahfiz. Pokoknya yang khusus menghafal Al-Qur’an gitu.” Lanjut bu Eti
sembari menjawil centil lengan Encun.
“Bener
bu??” Tanya Encun penasaran. Ada secercah harapan yang menerangi kembali hati
kelabunya pagi itu.
“Iiiih
kalau ndak percaya tanya aja langsung sama ustad Agus.”
“Nggih
bu, nanti saya tanyakan. Terima kasih banyak ya.” Pamit Encun dengan
senyumnya yang merekah laksana kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong.
***
“Benar bu Encun.. saya memang
membuka rumah tahfiz, tapi untuk anak-anak usia Sekolah Dasar.” Jelas ustad
Agus.
“Kalau begitu saya ingin belajar
privat saja sama ustad. Saya ingin menghafal tapi tidak tahu metodenya. Apalagi
untuk ibu-ibu seperti saya, pasti cara menghafalnya berbeda dengan anak-anak.” Encun
memohon.
“Hmm..
baiklah, begini saja, bu Encun cukup seminggu sekali ketemu saya untuk
menyetorkan hafalan dan membenarkan bacaan. Di hari-hari biasa bu Encun tetap
jualan, pagi sebelum pergi berjualan sempatkan waktu satu jam untuk mengafal
setengah halaman saja. Mulai dari juz 30 dulu ya. Oiya, jangan lupa ayat yang
sudah dihafal diulang terus menerus dimanapun dan kapanpun bu Encun berada.” Kata
ustad Agus menjelaskan dengan gamblang.
***
Setelah
mengikuti saran ustad Agus, hari-hari yang dilewati Encun terasa lebih
bergairah. Kini ia tidak lagi berdagang sayur keliling, semenjak pertama
kalinya ia disuruh mengisi pengajian di majelis ta’lim, para jama’ah merasa
puas dengan penyampaiannya. Hingga akhirnya ia resmi menjadi guru ngaji di mushola
desa.
Prosesnya
dalam menghafal Al-Qur’an sangat getir ia rasakan. Sesekali jenuh menerpa,
namun segera ia tepis demi mewujudkan impian dan cita. Pasalnya, impian ini
bukan sekedar mencari kebahagiaan dunia semata. Tapi juga infestasi untuk
kehidupan akhirat nanti. Oleh sebabnya, Encun merasa harus mengubah nasib
dirinya dengan cara ini.
“Alhamdulillah..
Emak, Abang..” suaranya lirih hampir tak terdengar. Matanya sembab. Dipandanginya
dua gundukan tanah yang kian dihiasi ilalang kecil dan rumput-rumput yang
menjalar. Tepat setahun yang lalu mertuanya wafat menyusul suaminya. Sesak
nafas yang sering dideritanya waktu itu tak lekas sembuh meski sudah dibawa
berobat.
“Terima
kasih telah menemaniku dalam perjuangan hidup ini. Encun harap Emak dan Abang
damai di sisi Tuhan. Jangan khawatirkan kesendirian Encun. Encun punya
Al-Qur’an yang sentiasa menemani.” Air mukanya memerah, seolah tak mampu
menahan haru senang bercampur sedihnya itu.
Encun
memang tidak lagi memiliki keluarga. Tapi dia tak pernah merasa sebatang kara.
Al-Qur’an yang telah ia hafal selalu membuat tenang hidupnya. Orang-orang
sekitarnya semakin kagum dan menyayanginya. Rezeki dan Materi untuk kebutuhan
hidup serta merta ia dapati dari mana saja datangnya tanpa disangka. Kini, di
usianya yang ke lima puluh lima tahun ia merancang impian dan target baru yaitu,
“Naik
haji”.
(TEEEEEEEEET!!! Fiksi)
NASIHAT
(Tanpa teks Arab)
Artinya :
Abu Ruqayyah, Tamim bin Aus Ad-Dari ra,
berkata bahwa Nabi saw, bersabda, “Agama adalah nasihat” Kami bertanya, “Untuk
siapa?” Rasulullah saw bersabda, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para
pemimpin kaum muslimin, dan orang-orang awam di antara kaum muslimin.” (HR.
Muslim)
***
Agama adalah nasihat. Begitu yang termaktub
dalam hadis Rasulullah saw. Memberikan nasihat adalah kewajiban bagi tiap-tiap
muslimin. Sebab, nasihat merupakan tiang agama. Nasihat adalah Islam itu
sendiri. Sementara Islam dilakukan melalui ucapan dan perbuatan. Dan diantara
syaratsempurnanya iman adalah seorang muslim merasa senang jika saudaranya,
muslim yang lain, mendapatkan kebaikan dan kemudahan seperti yang ia rasakan.
Bentuk paling nyata adalah dengan menasihati dan membimbingnya pada kebaikan.
Imam Ibnu Al-Jauzy, dalam bukunya Shaidul
Khatir berpendapat, “Tatkala nasehat-nasehat diperdengarkan kepada seseorang,
seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan, namun tatkala ia
keluar dari majelis ilmu hatinya kembali mengeras dan membatu.” Yang seperti
itu dapat saja menimpa siapapun. Apalagi jika diri tak dapat mengatasi
pengaruh-pengaruh duniawi. Namun, hanya yang memiliki kesadaran tinggi,
berpegangan kokoh dengan prinsip, menerima sepenuh hati terhadap segala nasihat
yang mereka terima, niscaya mereka tidak menoleh-noleh dan tersesat kemanapun
lagi.
Atau mungkin, terkadang manusia hanya butuh
pembiasaan. Nasihat yang pertama belum ampuh, maka carilah atau berilah nasihat
yang kedua, hingga seterusnya dan seterusnya. Sampai nasihat-nasihat itu mampu
menembus hati dan jiwa yang meskipun awalnya sangat keras. Sama halnya dengan
batu. Ia keras, namun dapat dilubangi oleh tetesan air yang lembut, yang
terus-menerus menetesinya.
Mengenai pelajaran-pelajaran pada hadis di
atas, dalam Syarah Riyadus Shalihin telah diterangkan :
1. Keharusan memberi
nasihat kepada muslimin karena nasihat merupakan tiang agama.
2. Adapun yang dimaksud
dengan nasihat untuk Allah adalah beriman kepada-Nya dengan benar dan beribadah
dengan ikhlas. Komitmen terhadap masalah ini, dalam setiap ucapan maupun
perbuatannya, akan mendatangkan kebaikan bagi seorang muslim, di dunia dan
akhirat.
3. Nasihat untuk kitab
Allah (Al-Qur’an) yaitu dengan beriman dengan kitab-kitab sebelumnya, beriman
dengan apa-apa yang ada dalam kandungannya. Rutin membacanya, mengamalkan
isinya, dan tidak sedikitpun mengubahnya, mengajarkannya kepada generasi
muslim, menghafalnya, serta mentadaburinya.
4. Nasihat untuk
Rasulullah, yaitu mempercayai risalahnya, patuh pada perintah-perintahnya,
berpegang teguh pada sunnahnya, mencontoh akhlaknya, serta ikut andil dalam
penyebaran sunnah (hadits) di tengah-tengah masyarakat yang sering membantah
dan memusuhi beliau.
5. Nasihat untuk para
pemimpin kaum muslimin, yaitu dengan mendukung mereka dalam kebenaran, patuh
kepada mereka dalam hal yang tidak ada unsur maksiat kepada Allah dan
Rasul-Nya, menegur mereka ketika mereka salah langkah, dan tidak melakukan
pemberontakan selama mereka tidak kafir.
6. Nasihat untuk kaum
muslimin, yaitu dengan membimbing mereka untuk melakukan kebaikan dan menjauhi
keburukan agar mereka bisa hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Para ulama menyebut hadis ini sebagai
siklus ajaran Islam karena hadis ini menghimpun semua kebaikan.
Dalam menasihati, tentu tidak semua orang
mudah mendengarkan nasihat. Atau justru si pemberi nasihat itulah yang tidak
menggunakan adab ketika memberi nasihat. Atau tidak mengetahui cara-cara jitu
dalam nasihat-menasihati. Dalam hal ini, telah di ajarkan pada kitab Al-Wafi,
bahwa “Diantara adab nasihat adalah menasihati saudaranya dengan tidak
diketahui orang lain. Karena barangsiapa yang menutupi keburukan saudaranya,
maka Allah akan menutupi keburukannya di dunia dan akhirat. Sebagian ulama
berkata, ‘Barangsiapa yang menasihati seseorang dan hanya ada mereka berdua,
maka itulah nasihat yang sebenarnya. Barangsiapa yang menasihati saudaranya di
depan banyak orang, maka yang demikian itu mencela dan merendahkan orang yang
dinasihati.’” Fudhail bin Iyadh berkata, “Seorang mukmin adalah orang yang
menutupi aib dan menasihati. Sedangkan orang fasik adalah orang yang merusak
dan mencela.”
Alhamdulillah, sedikit penjelasan mengenai
hadis di atas. nasihat manasihatilah dengan kebaikan dan kesabaran. Nasihat yang
paling baik adalah nasihat yang diberikan ketika seseorang dimintai nasihat. “Jika
seseorang dimintai nasihat, maka nasihatilah” begitulah wajengan yang diberikan
Nabi kepada umatnya. Dan semoga tulisan sederhana ini bisa menjadi nasihat
untuk kita semua. Khususnya saya pribadi. :)
Langganan:
Postingan (Atom)




