Minggu, 22 September 2013

Rindu


Kala itu, 
kumencoba sedikit membantu mencapai impian mereka.
bersamanya kutemukan canda,
                                     tawa,
                                     tangis,
                                     luka,

dan segalanya yang kini terukir menjadi cinta,
                                                            rindu,
                                                            kasih,
                                                            dan sayang,

Sering terbesit kehawatiran yang menggelayuti pikiranku,
bagaimanakah hatinya?
                      al-qur'annya?
                      akhlaknya?
                      pergaulannya?

Ah, aku sendiri merasakan kehidupan yang rawan di luar sini,
yang selalu mampu mengotori sekeping hati.

Tapi, mohon Rabbi,
jaga diri mereka,
        hati mereka,
        akhlak mereka,
        pergaulan mereka,

Agar Al-Qur'an yang telah tertanan dalam nuraninya tetap tumbuh selamanya...
Aamiin.
                                                         




Bersamamu kuhabiskan waktu
senang bisa mengaji denganmu
rasanya dunia begitu sempurna
sayang untuk mengakhirinya.. :')

Sabtu, 21 September 2013

Sejernih Cinta Lisa


Cinta
Katanya fitrah manusia
Anugrah dari yang Maha Esa
Setiap insan yang memiliki hati nurani
pasti merasai keajaiban cinta
Apakah itu kepada Sang Pemberi cinta
Atau kepada keluarga
Kepada teman dan sahabat
Juga kepada yang terkhusus,
Yang terpilih untuk dicinta

Cinta
Hingga tak cukup kata tuk memaknainya
Beribu bahasa di dalamnya
Bercampur aduk,
Membentuk rasa yang tak tersisa
Ada, dan semakin ada
Jika tiada,
Maka itu hanya dusta

Hati ini, sulit mendefinisikan cinta di dalamnya. Meski terasa, namun tak terungkap oleh kata-kata. Mungkin seperti bunga, saat ia merona, merekahkan kelopaknya, memancarkan pesona keindahannya, memenuhi warna pada tiap pelupuk mata yang memandangnya, mendamaikan siapa saja yang memerhatinya, seolah sedang berada di puncak kemekarannya. Tapi, mungkinkah? Sedangkan bunga memiliki saat di mana ia akan layu, mengguguri kelopak yang pernah mempercantiknya itu, memudarkan aroma keharumannya seperti dulu, mematahkan batang dedaunan, yang dahulu melengkapi wujud keindahan. Ah, seperti itukah cinta? Tidak! aku tidak ingin begitu, egoku memaksa cinta untuk terus mekar selamanya, tanpa harus melewati musim gugur yang merusak keindahan bunga-bunga cinta.

Kata-kata itu terus bertempur meresahkan hati Lisa. Gadis berkerudung biru itu masih terisak di dalam kamarnya, setelah ia mengetahui Kang Ahmad baru saja menemui kedua orang tuanya tadi pagi. Lisa sudah menduga sebelumnya, bahwa Ayah dan Ibu tidak akan menerima lamaran Ahmad.
“Ahmad itu masih terlalu muda nak, kalau dia mau, dia bisa menunggumu sampai lulus kuliah kan?” kata ibu menatap lekat wajah sembab Lisa.
Padahal Lisa sudah berusaha menyembunyikan kekecewaannya di depan sang Ibu, tapi Ibu selalu tau apa yang tersirat tentang hatinya.
“Kalau dia ngga mau nunggu juga ngga papa kok bu.” balas Lisa sambil memalingkan wajahnya.
“Ibu cuma mau kamu belajar dulu, sarjana dulu, setelah itu Ibu izinkan kamu menikah.” kata Ibu dengan lembut.
“Iya bu.” Singkatnya. Padahal batinnya tak begitu setuju dengan ucapan Ibu.
Apa setelah menikah berarti tak bisa meneruskan pendidikan? bisiknya dalam hati.
“Maksud Ibu bukan tak bisa belajar setelah menikah, tapi konsentrasimu akan terganggu dengan urusan keluarga.” Tegas Ibu membaca pikiran Lisa.

Lisa berlalu, ia tidak ingin membuat konflik dengan Ibunya. Sakit hatinya masih terasa sangat ngilu, dirinya pun belum bisa menerima keputusan dari sang Ibu. Dia sangat mencintai Ahmad. Namun, sepertinya Ibu tidak begitu menyukai Ahmad - seorang ustad dari sebuah pesantren ternama di Ibu kota, setelah Ibu tahu mereka berdua belum sama sekali bertemu, namun sudah sangat dekat. Memang, awalnya Lisa dan Ahmad berjumpa di dunia maya, tiada lain hanya sebatas pertemanan di jejaring sosial. Hingga sampai saat itu, setelah Lisa memberikan nomor handphone nya kepada Ahmad, Ahmad berniat untuk datang ke rumahnya, menemui kedua orang tuanya.

***

Siang hari di kampus, Lisa menceritakan semuanya perihal kegalauan yang tengah ia rasakan kepada Nur, teman dekatnya sejak awal mereka kuliah. Nur selalu bisa menjadi pendengar setia Lisa. Tidak hanya itu, Nur sangat bijak memberikan solusi-solusi atas permasalahan sahabatnya itu.
“Kamu sudah istikhoroh?” Tanya Nur serius.
“Sudah. Baru tiga kali sih, tapi aku yakin dengan dia.” Jawab Lisa sambil menyeka air matanya sedikit mengalir.
“Loh, tapi kamu belum sekalipun menemuinya kan?” lanjut Nur menyerongkan badan mengadap Lisa.
“Aku sendiri gak paham nur. Hanya saja dia sangat baik. Tanpaku melihatnya intuisi ini sudah bisa menilai bahwa dia lelaki yang cocok.”
“Kamu sudah katakan ini kepada orang tua? Kamu sudah utarakan semuanya?”
“Belum nur, aku ga bisa terus terang pada mereka.”
“Hhh…Lisa, bagaimana Ibumu bisa menyetujui kalau kamu gak berani terus terang?”
“Seorang Ibu itu selalu tau isi hati anaknya nur, Apalagi soal beginian, Ibu mana sih yang gak peka, pake harus dikasih tau dulu baru ngerti!” Kata Lisa sebal.
“Istighfar sa! pasti beliau punya alasan yang tepat, Ibu itu selalu ingin yang terbaik buat anaknya.” Tekas nur membela.
“Iya, seperti yang kuceritakan tadi, beliau ingin agar aku menyelesaikan studiku ini. Ibu khawatir setelah aku menikah maka kuliahku akan terbengkalai.”
“Yasudah, turuti saja kata Ibumu. Selagi beliau masih ada, dan kamu belum milik orang lain, kapan lagi kau akan membahagiakannya? Yang Ikhlas ya Lisa, kalau jodoh gak kemana kok.” Kata Nur menguati Lisa yang sedari tadi membendung butiran di matanya.
“Baik nur, makasih ya.” Lirihnya sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan pulang, ucapan Nur tadi masih terngiang dalam hati dan pikirannya. “Sepertinya Nur benar, kalau tidak sekarang, kapan lagi aku membahagiakan kedua orang tuaku?” Lisa membatin. Kedua orang tuanya memang sangat saklek kalau soal pendidikan, khususnya sang Ibu. Meski beliau bukan lulusan sarjana, namun disiplinnya terhadap Ilmu sangat menggelora. Jika saja masa mudanya tak ia habiskan hanya untuk bekerja, membanting tulang demi kehidupan keluarganya yang hidup di bawah rata-rata, pastilah saat ini dia telah menyandang gelar di belakang namanya. Karna itu, ia ingin anak semata wayangnya mampu berpendidikan tinggi, hingga kelak sang anak dihormati oleh orang lain, terutama oleh keluarga suaminya nanti.

Pandangan Lisa masih tertuju ke luar jendela angkot yang ia naiki. Ia merasa bersalah, padahal dari awal Ibu sudah sering mewanti-wantinya agar tidak dulu berkenalan secara spesial dengan lelaki manapun. Ibu sudah sering mengingatkannya untuk fokus belajar dan belajar. Tapi, Lisa membuat Ibu kecewa. “Maafkan Lisa bu..” Bisik hatinya.

“Assalamu’alaiakum dek Lisa, maafkan saya, saya tau anti kecewa dan sedih. Saya hanya ingin serius, karna saya menghargai anti sebagai muslimah, maka dari itu saya tidak ingin berlama bermain dengan ketidakpastian ini. Sampaikan salam maaf saya kepada Ayah dan Ibu ya, Wassalam.”
Bunyi pesan dari Kang Ahmad membuyarkan lamunannya. Ia teringat, sebelum Kang Ahmad datang ke rumah, mereka berdua berjanji seandainya orangtua tak mengizinkan, maka setelahnya adalah menjalani kehidupan masing-masing, tanpa ada ikatan yang menggantung hubungan mereka, seperti pacaran. Agak berat bagi Lisa, namun itu sudah menjadi kesepakatan yang menentukan akibat baik buruknya hati mereka. Ahmad memang lelaki yang baik, dia tidak ingin memperburuk kualitas hati wanita yang dicintainya. Walau usianya masih terbilang sangat muda, ia berani mengutarakan keinginannya meminang Lisa untuk dijadikan istrinya. Mungkin saat ini juga terselip rasa resah gelisah di hatinya, kecewa dan takut kehilangan wanita pujaannya, namun lelaki tampan itu tetap tegar, bersikeras atas janji yang telah disepakatinya bersama Lisa.

***

Malam itu Lisa menatap lekat sebuah buku di hadapannya. Buku itu hadiah dari fauliya, seorang sahabat yang sudah hampir dua tahun tak lagi berada di sisinya, ia telah kembali kepada Sang Ilahi. Buku itu berjudul ‘Aku Mencintaimu Karena Allah’ sebagai hadiah di ulang tahun Lisa yang ke 18. Ia meresapi kalimat yang tertulis di cofer buku itu, merenunginya, dan mencari tau kemana arah jalan cintanya.

“Rabb.. mungkin untuk bersamanya dalam waktu dekat ini bukanlah hal yang tepat. Maka tekadku sudah bulat, ingin membahagakan kedua orangtuaku, menyelesaikan terlebih dahulu kuliahku. Tapi, sulit untuk tidak mengakui bahwa hatiku masih mengharapkannya. Desir-desir cinta ini hanya Kau yang mengetahui, jika ini sebagian dari fitrahku, mohon jaga hatiku sampai aku sanggup menghalalkannya. Namun jika ternyata rasa ini hanya sekedar nafsu, mohon Bantu daku tuk mengendalikannya.”  

Malam masih dalam kepekatannya. Lisa berharap dapat menemui hatinya yang baru tuk esok hari, hati yang jernih sejernih tetesan embun, seputih gumpalan awan, dan seindah rembulan yang menyinar di gelapnya malam.


Ah, karnamukah cinta?
Mengubah duka menjadi suka
Menghapus tangis membuat tawa
Meredam benci membentuk sayang
Menghilangi frustasi, mengunggah asa dalam diri     

Senin, 16 September 2013

Inspirasi, where are U ?

Siang yang sejuk. Tepat di depan mataku sebuah pemandangan asri nan indah, diiringi musik gamelan dengan sindennya yang menyenandung sedari tadi. Aku bukan sedang berada di tempat wisata, melainkan di sebuah Rumah Sakit di puncak kota Purwakarta. Nenekku dinyatakan terkena kanker stadium akhir. Sambil membawa tumpukan tugas kuliahku, kami sekeluarga dari rumah pun datang untuk merawat beliau.

Pandanganku masih tertuju pada perbukitan di depan ruang inap nenek, dengan berbagai ranting tanaman yang menghiasi gazebo-gazebo mungil itu. Menerawang, sembari mencari inspirasi untuk karya yang akan kukumpulkan sebagai syarat menjadi anggota Forum Lingkar Pena di kampusku. “ah..” kukira menulis tak serumit ini. Tiap kali kumemulainya, bahkan hingga hampir selesai, selalu saja ada bisikan kecil yang menyinggung bahwa itu bukan cerita yang menarik untuk kujadikan karya. Hingga “Back Space” di keyboard laptopku yang akhirnya menjadi langganan ketukan jemariku.

“Nak..” sahut ibuku dari dalam kamar. “kemarilah! Pijit dulu kaki mbah uti, sambil didoakan supaya lekas sembuh” aku mendekati nenekku yang tengah tergeletak lemah di ranjang kayu beralas kasur putih. Aku tahu, penyakitnya bukanlah yang mudah disembuhkan, namun ibuku selalu menghiburnya agar ia tak terbebani dengan penyakit yang belum diketahuinya itu. Kusentuh kakinya, kulit betisnya masih bersih dan putih, persis seperti warna kulit orang belanda, hanya saja gelombang keriput telah memenuhi kulit tuanya.

Tanganku masih memijat-mijat kakinya yang semakin kurus itu. Tiba-tiba pikiranku melayang, membayangkan jika di suatu hari nanti akulah orang yang akan meniduri kasur ini, tergeletak lemah tak berdaya, hanya tinggal menunggu ajal saja. “Ya Rabb..” lirihku. Aku tak tahu sampai kapan umurku di dunia ini. Kuharap sebelum ajal menjemputku, sebelum malaikat Izrail mendapat tugas untuk mencabut nyawaku, sisa nafas ini masih terus untuk mendayu berzikir menyebut asma-Mu. “Dek..!” suara kakakku membuyarkan bayang-bayang sendu itu “keluar yuk, liat-liat pemandangan” kulirik wajah nenekku, ia sudah tertidur. Semoga di alam mimpinya ia tak membawa rasa sakit yang sedang menjalar di sekujur tubuhnya.

***
Aku berlari menaiki tangga-tangga batu menuju ke kamar, untuk memperbaiki jilbab segi empat putihku yang sudah tak karuan posisinya, beberapa helai rambut juga sudah muncul dari balik kain itu. “ceklek..!” kubuka pintu perlahan, Ada ibu dan nenekku yang sedang duduk di kursi rodanya, dengan mukenah yang masih menempel menutup rapi seluruh tubuhnya. Lantunan Al-Qur’an dari sebuah stasiun televisi ikut menyejukkan ruangan ini. “hidup ini kaya mimpi ya..tiba-tiba sudah di atas kursi roda” sahut nenekku. Kami hanya tersenyum mendengarnya. “drrrt..drrt..” si Samsung bergetar dari balik saku gamisku, menandakan ada pesan datang. “ya, ndak apa-apa dek, semoga neneknya lekas sembuh ya, salam untuk keluarga semua :)” begitulah bunyi teks sms balasan dari seorang teman liqo’ku. Seharusnya pertemuan kami hari ini diadakan di rumahku. Tapi aku berhalangan karna kondisi nenekku yang sudah sedemkian rupa.

Aku kembali keluar dengan membawa laptopku, menuju pada sebuah bangku yang terbuat dari semen berukiran batang pohon. “klik” kupencet tombol power di Asus mungil itu, kusentuh pointernya dan menuntunnya membuka Microsoft Office Word. Kutatap kertas putih di dalam layar berukuran kecil, sambil tersenyum dan… “aha..!” sekarang aku tau apa akan kutulis. Agaknya pemandangan di sekitarku yang membuat otak ini merayap menelusuri alang-alang, menemukan inspirasi yang dari tadi sembunyi entah di mana. Oke… akan kucoba membagi kisah hikmah di hari ini, esok, hingga seterusnya. Sampai jemari ini mudah dan terbiasa memainkan susunan kata dan kalimatnya, lalu menuangkan beberapa cerita pendeknya.

Selesai.

Jumat, 06 September 2013

Berbagi


Siang itu, akhirnya kami memulai kegiatan di forum perdana kami. Meski baru sedikit yang hadir, namun tak mengurangi semangat kami dalam menjalaninya. Karna belum begitu ada persiapan, akhirnya aku mencoba mengisi materi dari sebuah buku yang sudah tiga kali aku khatam membacanya.

Perkumpulan awal kami berlokasi di taman kampus, di atas rerumputan, di bawah pohon rindang, serta dikelilingi beragam tanaman. Lingkungan enjoy dan nyaman, itu yang kami butuhkan dalam pertemuan ini demi menyejukkan suasana, serta membantu kami untuk bisa berpandangan luas dalam melihat aneka ragam kehidupan yang tak terbatas.

Usai temanku membacakan tilawah Al-Qur'an, aku mencoba berbagi ilmu dari sebuah buku tipis yang padat makna, mungil namun cukup menggugah jiwa. Berjudul “Agar Ujian Ditolong Allah” karya Ahmad Rifa’I Rif’an. Buku ini cukup semakna dengan karyanya yang lain, “9 Rahasia Doa”. Mungkin semua sudah banyak yang tahu, bahwa buku ini tidak hanya memberikan tips-tips belajar atau menghadapi ujian dengan cara cerdas. Namun juga menjelaskan dengan gamblang bagaimana agar Allah selalu di sisi di saat kita sedang belajar maupun menghadapi ujian.  

Kesuksesan itu hanya tiga hal: bemimpi setinggi-tingginya, berupaya sekeras-kerasnya, dan mendekati Tuhan sedekat-dekatnya. Maka punya harapan tinggi tanpa upaya dan doa yang tekun, pasti hasilnya nol. Upaya keras tanpa mendekati Allah, pasti hasilnya timpang. Karna Allah telah berfirman dalam kitab-Nya surat Ali-Imron : 160, yang artinya,

“Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kamu, jika Allah membiarkan kamu, maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”

Sekarang pertanyaanya bagaimana cara agar Allah sentiasa menolong kita? Benar, yaitu dengan sentiasa pula mendekatkan diri padanya. Jika orang bodoh dapat dikalahkan oleh orang pintar, maka orang pintar juga mudah dikalahkan oleh orang yang beruntung. Jika ingin berada di antara orang-orang yang beruntung itu, mari kita amalkan tips-tips berikut :

1. Keajaiban Tahajud
          Dalam buku tersebut diceritakan, bahwa ada seorang muslimah yang mengaku sedari SMA nya ia telah merutinkan shalat malam, hingga ia selalu meraih juara 1 dalam tiap semester. Bahkan selama kuliahpun ia selalu mendapat predikat cumlaude, dan setelah lulus ia memperoleh beasiswa ke Jepang. Subhanallah! Begitu hebatnya pengaruh shalat lail bagi prestasi hidup kita. Sekarang, mari bertekad dalam hati, untuk tidak meninggalkan tahajud.

2. The Power of Giving (sedekah)
          Alkisah, ada seorang mahasiswi yang rutin menyedekahkan uang beasiswanya. Juka pada hari-hari biasa dia bersdekah dengan jumlah yang standar, sangat berbeda menjelang ujian. Sedekah yang dia keluarkan besar-besaran, berharap pertolongan Allah datang saat ujian. Bisa juga kita lihat contoh teladan dari seorang ustad tersohor di Negri ini, Ust.Yusuf Mansyur. Beliau sukses karna sedekahnya yang luar biasa.

3. Dua Manusia Keramat
          Siapakah kedua manusia itu? Ya, mereka adalah kedua orangtua kita, yang di mana ridho Allah berada atas ridho mereka berdua. Ketika seorang yang sukses ditanya atas rahasia kesuksesannya selama ini, dia menjawab, “Satu hal yang nggak pernah aku lupakan untuk misi-misi pentingku adalah tak lupa meminta doa dari ibu. Hampir semuanya dibicarakan kepada ibu.”
Doa kedua orangtua kepada anaknya adalah salah satu yang pasti diijabah oleh Allah.

4. Dahsyatnya Shalawat
          Juga dipaparkan dalam buku ini, suatu hari KH. Zubairi Rahman penah mengungkapkan, “ketika engkau ragu pada jawaban yang akan kau pilih saat ujian, bacalah shalawat kepada Rasulullah semoga goresan penamu akan selamat.” Mengapa harus shalawat? Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya datanglah malaikat kepadaku. Ia berkata: “Wahai Muhammad, bukankah menjadikan engkau ridha, bahwasannya tidaklah seseorang membaca shalawat atasmu melainkan Aku melimpahkan rahmat atasnya sepuluh kali, dan tidak seorangpun memohon keselamatan atasmu, melainkan Aku memberikan keselamatan atasnya sepuluh kali.” (Ditakhrij oleh An-Nasa’i).

5. Hubungan Taubat dengan kecerdasan
          Imam syafi’i pernah mengadu kepada Waki’ gurunya, tentang buruknya hafalan. Gurunya membimbingnya agar meninggalkan kemaksiatan. Ia memberitahukan bahwa ilmu itu cahaya. Dan cahaya tak akan turun kepada pendurhaka. Maka kita perbanyaki istighfar, agar Malaikat Atid segera menghapus dosa-dosa kita dalam catatannya, dan membuka kembali bagi kita jalan masuknya ilmu dan pengetahuan.  

6. Doakan Orang Lain
          Jadi misalnya kita ingin kekayaan, jangan berdoa, “Ya Allah berikan hamba kekayaan”, tetapi berdoalah dengan ikhlas, “Ya Allah, berikan si fulan kekayaan. Hamba tak tega menyaksikan kemiskinannya”. Mengapa? Kita yang pengen, kok pake doain orang lain segala? Karna Rasulullah saw bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa spengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata, ‘Aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (Shahih Muslim).

7. Hebatnya Puasa Sunnah
          Rasulullah saw bersabda, “Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: 1. Doa orangg yang berpuasa sampai ia berbuka, 2. Pemimpin yang adil, 3. Doa orang yang teraniaya. (HR. At-Tirmidzi).
Semua pasti sudah kenal Pak Habibi, mantan Presiden kita. Rahasia sukses briliannya otak beliau adalah dengan meritinkan puasa senin kamis. Allahu Akbar!

Demikianlah beberapa tips yang secara singkat aku tuangkan di sini. Ingin lebih jelasnya, beli saja bukunya. Hehe..

Hingga akhirnya, detik demi detik tlah terlewat. Kami masih saja meneruskan diskusi. Mengenai segala macam. Membahas berita aksi penolakan Miss Word, hingga ke ranah politik. Tak terlewatkan pula untuk saling berbagi curahan hati. Semoga di minggu seterusnya dan seterusnya… dapat kami isi forum yang kami namakan M.Ag (Muslimah Anti Galau ^^) ini dengan kegiatan yang lebih positif lagi. Allahulmusta'an :)
         

Minggu, 01 September 2013

Tiga Kaum Durjana


Alhamdulillah, pagi tadi memulai kembali liqo’ (pertemuan) dengan Murobbi beserta kawan-kawan, setelah beberapa saat vakum dalam organisasi tersebut akhirnya bisa join kembali dalam rangka menuntut ilmu serta mempererat silaturahm. Jujur saja, tiap kali berkumpul bersama orang-orang shalih seperti mereka, selalu ada ghairah positif yang muncul bertubi membentuk semangat dalam diri.

Langsung saja yah, aku tak ingin berlama mengendapi ilmu yang baru kuperoleh. Meski tak seluruhnya kuterima dengan jelas dan masih ada beberapa materi yang belum kupahami, namun sedikit kucoba membagi, agar pohon tak sunyi tanpa kesegaran buahnya yang lezat. hehe..

Murabbiku pernah menyempatkan diri bersama kawan-kawannya berbondong menuju ke rumah seorang ibu rumah tangga, sekaligus seorang anggota DPR yang memiliki sepuluh orang anak, yang seluruhnya sudah hafal Al-Qur’an. Subhanallah! Beliau bernama Wirianingsih. Sesampainya di sana ibu wiwi menyampaiakan sedikit tausiyah yang menyangkut pada realita kehidupan kita saat ini. Beliau mengaitkannya kepada sifat para kaum durjana yang tlah tercatat dalam Al-Qur’an, yakni : Kaum Fir’aun, Haman, dan Qarun.

Benar sekali, mereka adalah tiga dari beberapa contoh kaum yang tercatat sebagai kaum pembangkang. Bahkan di era abad ke 21 sekarang pun telah banyak manusia-manusia semacam mereka.

1. Fir’aun >>   Semua pasti sudah kenal siapa itu Fir’aun. Ya, dia adalah sebutan dari seorang raja yang hidup pada zaman Nabi Musa as. Dia tercatat dalam Al-Qur’an sebagai raja yang sombong, dan karna kesombongannya itulah ia menyebut dirinya sebagai Tuhan, yang bisa menghidupkan dan mematikan. Berbagai cara yang Nabi Musa pakai untuk membuktikan kepadanya bahwa ada Tuhan yang lebih berkuasa, yang menghidupkannya lalu mematikannya lalu menghidupkannya kembali. Namun kesombongan telah menutupi mata hatinya, hingga tak ada celah bagi masuknya secercah hidayah.

Sepertinya sudah bisa terlihat jelas ketika anda ingin menyocokkannya kepada sifat manusia zaman kini. Ada yang sombong karna jabatannya, sombong karna usahanya, sombong karna kekayaanya, dan lain sebagainya. Padahal, semua itu tak lain adalah karunia dan ujian dari Allah SWT.

2. Haman >> Mungkin jarang ada tau cerita tentang Haman, aku sendiri belum begitu mempelajari sejarahnya. Ia digambarkan sebagai seorang penghianat. Coba kita cocokkan saja dengan kisah saat ini, tepatnya tragedi yang terjadi di Mesir. Seorang mentri pertahanan yang diangkat langsung oleh sang Presiden, berkhianat dari dalam, mencoba melengserkannya dengan cara yang keji dan tak berprikemanusiaan. Begitulah sedikit contohnya, (kalo diterusin bisa nangis nanti :’(  

3. Qarun >> Seorang yang miskin papa yang diubah nasibnya oleh Allah menjadi saudagar kaya raya. Kunci gudang emasnya saja bejibun. Tapi apa? Setelah harta yang melimpah serta merta Allah berikan padanya, ia malah berkata, “ini adalah hasil dari kerja kerasku selama ini!”. Yaps, dialah hamba yang termaktub dalam kitab suci Al-Qur’an sebagai sosok yang sangat kufur dan tak pandai bersyukur. Hingga akhirnya hartanya pun semua ‘ambless’ terkubur ke dalam tanah, sebagai balasan nyata atas ketidaksyukurannya.

Inilah saat yang tepat untuk mengintrospeksi diri, mungkin saja kita adalah qarun di zaman modern ini. Kita tak pandai bersyukur atas karunianya, selalu merasa kurang, suka mengingikan dan mencari yang tak ada, padahal yang ada belum sekalipun diterima dan disyukuri keberadaanya. Lihatlah Nabi Sulaiman as. Ketika hidupnya Allah menganugrahinya harta yang berlimpah ruah, namun ia berkata, “hadza min fadhli Rabbi liyabluwani aasykuro am akfur”.

Demikianlah tiga contoh daripada kaum yang tlah dicap sebagai kaum durjana. Meski begitu, selalu ada cara demi menghindari kedurjanaan kita terhadap Tuhan, yakni dengan iman dan amal shaleh :)

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr).