Jumat, 30 Agustus 2013

Ya Hamilal Qur'an...


Guru spiritualku pernah bercerita, bahwa dulu, kegiatan menghafal Al-Qur’an masih lumayan langka di kalangan masyarakat khususnya Indonesia. Terutama masyarakat awam. Pasalnya adalah, karena kurangnya motivasi dari dalam maupun luar. Sehingga bagi seseorang yang telah menghafal seluruh ayat Al-Qur’an adalah sesuatu yang sangat ‘wah’ dan ‘istimewa’ saat itu. Waktu itupun tidak bisa dipungkiri, mereka yang telah resmi menyandang title ‘hafiz’ atau ‘hafizhah’ adalah mereka yang banyak membawa pengaruh baik pada masyarakat dalam meluruskan fitrah kereligiusannya. Tak jarang dari mereka yang sukses dan harum namanya di dunia, bahkan setelah wafatnya sekalipun. Mereka lebih dulu mencintai serta mengimani Al-Qur’an, yang kemudian dilanjutkan dengan menghafal serta mengamalkan dan tak lupa pula di ajarkan. Tak terhitung karya-karya mereka yang telah mengubah oase hidup jadi lebih tertata indah.

Namun, seiring bergantinya zaman, semakin lama semakin banyak terlahir generasi-generasi Qur’ani yang hafal hingga 30 juzu’ Al-Qur’an. Semakin terealisasikanlah acara-acara resmi beserta kompetisi yang membawa nama Al-Qur’an. Misal, MTQ, MHQ, MSQ, dll.

Tapi yang cukup mencuri perhatianku, miris, sekian banyak di antaranya tak sedikit pula mereka yang ‘dicap’ sebagai ‘mantan hafiz/ah’. Seolah Al-Qur’an hanya sebagai ajang pameran yang langka adanya, tanpa mengindahkan syarat dan norma ketentuan para ‘allamal qur’an itu sendiri. Padahal, yang seharusnya diketahui tidak hanya balasan surga bagi si penghafal tersebut, namun juga balasan siksa yang pedih bagi mereka (para penghafal) yang ‘sengaja’ meninggalkan apa-apa yang pernah terpatri dalam hati serta memori ingatan mereka. Artinya, setelah ayat-ayat itu telah dihafal, kemudian dengan entengnya melupakan tanggung jawab terutama dalam mengulang hafalan tersebut. Bedakan antara ‘lupa’ dan ‘melupakan’. Keduanya memiliki hukum yang tidak sama. Mengapa? Ketika statusnya adalah lupa, bisa jadi si penghafal masih sedang proses berupaya untuk mengingatnya kembali terhadap sesuatu yang tak sengaja terlupa, atau lebih tepatnya lupa yang bukan atas kehendaknya. Itu biasa. Tapi lain hal jika statusnya adalah melupakan, maka itu adalah suatu kesengajaan yang timbul dari kehendak diri. Alangkah RUGI! 

Coba kita simak Al-Qur’an surat Thaha ayat 125-126 yang artinya :

125. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
126. Allah berfirman: "Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun dilupakan".

Na’udzubillah tsumma na’udzubillah…
Di akhirat kelak ketika hamba-Nya bertanya, “mengapa kini Engkau menghimpun kami dalam keadaan buta?” Allah pun menjawab, “Dulu kamu melupakan ayat-ayat kami, pura-pura tak tau apa yang telah engkau peroleh atas peringatan dari-Ku, maka kini Kamu akan dilupakan, sebagaimana balasan yang setimpal.” Demikianlah menurut penafsiran globalnya atas ayat tersebut. Jika kalam itu telah tergenggam, relakah kau melepaskannya demi menggenggam yang lain yang ternyata hanya dapat menjerumuskanmu ke dalam neraka-Nya? Fa’fu anna yaa Kariim…

Seorang oficial di kompetisi Musabaqoh pernah bertanya padaku, “apakah seorang hafizh/hafizhah itu tidak boleh berbuat maksiat?” spontan kutanya balik, “apakah seorang yang bukan hafiz/ah itu boleh berbuat maksiat?” beliau malah bingung menjawab. Akhirnya aku mencoba sedikit menjelasakan, “Allah melarang seluruh hamba-Nya bermaksiat, tidak membedakan siapapun itu, baik ia hafiz atau tidak, memiliki jabatan tinggi atau tidak, kaya ataupun miskin. Bedanya, timbalan yang diterima setelah bermaksiat itulah yang berbeda beda. Seperti misal seorang hafiz dengan seorang yang bukan hafiz, yang hafiz tentu mendapat resiko dowbel karena Al-Qur’an yang telah mereka hafal bisa jadi buyar dikarnakan maksiat tersebut. Sedangkan yang bukan hafiz, tentu ia tidak merasakan hal yang sama kecuali akibat lain yang menimpanya.

Memang, sebutan seorang ‘hafiz/hafizhah’ itu tidak perlu diletakkan dibelakang nama panjang kita. Khawatir akan timbul perasaan sombong dan tinggi hati. Sehingga menjadi sia-sialah gelar tersebut. Nabi sang penerima wahyu saja tak menyandang gelar tersebut bukan? Namun, ada baiknya pula hal itu dijadikan sebagai motivasi bagi hal layak umat, juga mendorong semangat kita untuk terus berpegang teguh atas apa yang semestinya dipertanggung jawabkan.

Ayolah kawan, kita sama-sama berjuang menjadi mutiara-Nya yang berkilauan, menghiasi kelak di pelaminan surga nan damai. ^_^

Kamis, 29 Agustus 2013

Ghibah? Oh no!


Ghibah, mengapa acapkali diidentikkan kepada kebiasaan para kaum hawa? apakah itu ABG, remaja, maupun ibu-ibu. Memang, seringkali aku melintasi sekelompok ibu-ibu yang sedang ngerumpi di teras rumah mereka, entah apa atau siapa yang sedang mereka ceritakan, hingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Menurut ilmiah, wanita memang memiliki keterampilan bahasa yang lebih tinggi dibanding lelaki. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa kaum wanita terkhusus ibu, seringkali dicap ‘cerewet’ dari pada seorang bapak. Bedanya, bapak memiliki wibawa yang lebih tinggi dibanding ibu.

Ngomongin soal ghibah atau menggunjing, anak SD juga sudah tau bahwa hal tersebut adalah perbuatan tercela. Namun terkadang, karena kebiasaanlah yang suka membuat awal perbincangan berujung menjadi pergunjingan. Jika ditengan obrolan ada yang mengingatkan untuk menghentikannya, tak jarang dari mereka berdalih bahwa hal itu bukan termasuk ghibah, karena bertujuan untuk bla..bla..bla.. ya begitulah, mungkin sebagian dari mereka, atau terkadang diriku sendri tidak menyadari dan kurang berhat-hati dengan lidah yang tak bertulang ini.

Lalu, pembicaraan seperti apa yang telak masuk ke ranah ghibah?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Rasulullah Saw. bersabda, “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Sabda beliau, “Ghibah ialah kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang kukatakan itu memang terjadi pada saudaraku?” Jawab beliau, “Kalau memang terjadi apa yang kamu katakan itu pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya. Jika tidak terjadi, berarti kamu telah melakukan tuduhan dusta kepadanya.” (HR.Muslim-8:21 S.M.)  

Demikianlah pengertian ghibah yang dijelaskan oleh Nabi Saw. Perhatikanlah, tema-tema yang dighibahkan pun tak jarang yang sampai membuka aib-aib orang lain, padahal dalam pelajaran Riyadhus Shalihin diterangkan, bahwa orang yang menyebarkan atau menceritakan aib orang lain di dunia, maka kelak di hari kiamat Allah akan membuka aibnya di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak menceritakan aib orang lain di dunia, maka kelak di hari kiamat Allah akan menutupi aibnya. Sebab, pahala yang Allah janjikan sesuai dengan jenis amal yang dilakukan. Allah akan menutupi aibnya, bisa berarti menghapus dosanya dan tidak menanyakannya, atau menanyakannya secara pribadi lalu mengampuninya. Nah, setelah tahu balasan yang telah Allah janjikan, masihkah kita berani untuk berghibah? Na’udzubillah..

Mari kita buka Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha penyayang.”

Meski berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain serta menggunjing memiliki kesinambungan, namun kali ini mari kita bahas sesuai judul yang tengah kita diskusikan saja, yakni ‘menggunjing’.

Sebagaimana hadis Rasul tadi, Al-Qur’an lebih dulu melarang aktivitas tersebut. Yaitu membicarakan orang lain yang sesuai dengan realita yang tidak disukainya. Pada suatu hari seorang lelaki berdiri dihadapan Rasulullah, sedangkan para sahabat yang hadir melihat perawakan lemah pada diri orang tersebut ketika ia berdiri. Kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah lemahnya (perawakan) fulan itu.” Lantas Rasul bersabda, “Kalian telah memakan daging saudara kalian dan kalian telah menggunjingnya.”
Lihatlah, alangkah seringnya kita berkata demikian tanpa menyadari bahwa hal tersebut telah dicatat dosa oleh para malaikat. Tidakkah kita merasa jijik jika memakan bangkai saudara kita sendiri? Namun lihatlah kalimat indah selanjutnya yang mengakhiri ayat tersebut, “Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”.

Menurut imam Zaki Al—Barudi, ada beberapa faktor yang memicu seseorang untuk melakukan ghibah, antanya ialah adanya rasa dengki dan benci, persaingan yang tidak sehat, egois, lalai dengan dzikrullah, bergurau yang berlebihan, sikap berpura-pura, menganggur dan sebagainya.

Tapi, adapula jenis-jenis ghibah yang diperbolehkan, yakni :
  1. Berghibah karena dizalimi dan meminta pengadilan.
  2. Berghibah untuk meminta fatwa.
  3. Berghibah untuk bermusyawarah.
  4. berghibah untuk memberi peringatan atau penjelasan.
Namun, jangan juga kita memakai point-point di atas untuk mendalih, padahal jelas-jelas yang kita lakukan ialah dosa. Berhati-hatilah, jangan sampai orang lain merasa terganggu dengan lidah kita yang tajam tak bertulang ini, yang kerap kali menyakiti hati mereka. Rasul bilang, “Man kana yu’minu billahi wal yawmil akhir, fal yaqul khairan aw liyasmut!”. Anda beriman dengan Allah dan hari akhir? Maka berkatalah yang baik atau DIAM!. Benarlah kata pepatah mutiara yang popular terbaca oleh kita, bahwa diam adalah emas. Ingin mendapat emas, maka diamlah dan ucapkanlah amar makruf nahi munkar, agar kamu dan orang sekitarmu selamat dari bahaya lisanmu.

“Tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaf: 18)

(LISANA SHIDQIN ‘ALIYYA ^_^)


Minggu, 25 Agustus 2013





Minggu, 25 Agustus-2013 

Saat itu, sahabatku bercerita tentang proses ta'arufnya dengan sang ikhwan yang telah menjadi suaminya. ia mengakui bahwa ia belum pernah sama sekali mengenal ikhwan tersebut apalagi bertemu dengannya sebelumnya. jadi suatu ketika, setelah halaqoh liqo telah bubar, ia diminta oleh sang murabbi untuk menemuinya karna ada yg ingin dibicarakan. tanpa basa-basi murabbi itupun segera berterus terang bahwa ada seorang ikhwan yg berniat menikah dan meminta tolong kepada murabbi (yg biasa disebut umi) itu untuk mencarikan wanita yg sesuai dengan kriterianya, yakni wanita yang hafal beberapa ayat Al-Qur'an. 

Singkat cerita, sang murabbi pun mengumpulkan beberapa biodata untuk dipilih oleh ikhwan tersebut. termasuk biodata sahabatku tersebut. Subhanallah, ia lah wanita yg sesuai. tak pakai berlama, sang ikhwan pun segera menemui orangtua sahabatku di rumah. hingga akhirnya mereka menentukan tanggal pernikahan.

Ada banyak pelajaran yang bisa kuambil dari kisah tersebut. terpenting soal 'jodoh'. lagi-lagi jodoh adalah salah satu rahasia Tuhan yang tak bisa kita tebak kepastiannya. siapapun dia, jodoh tentu telah disediakan oleh-Nya, sesuai dengan kadar keimanan dan kualitas diri kita. ia akan datang pada waktunya, kadang dengan sendirinya, kadangkala dengan beberapa upaya. lalu, bagaimana dengan pacaran? perlukah? sebagai sarana menjemput jodohkah? atau bagaimana?
mungkin persepsi orang berbeda-beda. namun bagiku, Islam itu baik. Islam melarang aktivitas pacaran tersebut, karna apa? logisnya, orang yang berpacaran adalah orang yang memiliki kedangkalan 'TAWAKKAL' atas skenario Tuhan.

Marilah! aku, kamu, dan kita semua, sudahi segala bentuk kemaksiatan khususnya 'berpacaran'. Tawakkal itu lebih baik, tentu disertai upaya pengembangan kualitas keimanan dan potensi diri. niscaya sang Ilahi kan penuhi janji. Semoga dengan upaya tersebut, Allah Sang Maha Cinta yang Agung, menganugrahkan kepada kita seseorang yang menawan akhlaknya, luhur budinya, santun perawakannya, kuat imannya, cinta pada tuhan dan nabinya, hebat potensinya, tinggi kepeduliannya, besar kontribusinya, mengamalkan firman-Nya, ganteng/cantik wajahnya, dan tebal dompetnya,, hehe,, AAMIIN ^_^

So, Putusin aja Doi mu, Now!

Kamis, 22 Agustus 2013

Cuma 'nyerocos' aja

Hey,, entah sejak kapan aku membuat blog ini dan membiarkannya kosong tanpa kata. isi hati atau kisahku masih tersimpan di memori sel-sel otak yang aku sendiri belum mengerti bagaimana cara menuangkannya di atas kertas putih ini, di layar laptop mungilku. Sebenarnya bukan hanya itu, namun karna aku belum pernah menggunakan blog ini, hingga aku gak begitu paham cara mengotak-ngatiknya. hehe..

Tralala... hari ini kepalaku serasa mau meledak! bukan karna masalah, atau pikiranlah, atau banyak tugaslah, atau susah murojaah lah, atau apalah,, tapi karna saking nganggurnya di hari libur ini, membuat tubuhku sering lemes, bawaannya pengen bobo melulu, nah karna tidur terus-menerus itulah yg membuatku pusing tujuh keliling,, hehe (mudah2ah ini cerita kaga ada yg baca) -_-

Ah, dari tadi ngaco aja ceritanya,
woxe, hari ini santri-santri sudah mulai aktif menghafal, waktunya bergegas menuju ladang pahala,(biar ga tidur mulu,he2) wassalam dulu ya, mudah-mudahan besok dan seterusnya bisa kupenuhi blog ini, tentu dengan cerita atau pengalaman yang lebih bermanfaat. InsyaAllah. Bye!