Jumat, 21 November 2014

"Al-Qur'an Mengantarku ke Haramain"

Lambaian tangan sanak family semakin menjauh, seiring dengan melajunya bus yang kami tumpangi. Tak terasa bulir bening yang menjuntai di kelopak mata jatuh seketika. Melukiskan sembab di mataku dan rona merah di hidungku. Sekuat tenaga kutahan suara agar tidak mengeluarkan isak tangis yang bisa menjadikanku pusat perhatian oleh kedua sahabatku. Meski kutahu, suasana hati mereka juga sama, mengharu biru karena bahagia.

“Drrrtt.. Drrrtt.. Drrrtt.”

HP-ku bergetar dari balik saku seragam batik yang kukenakan. Tiga sms masuk dengan inti pesan yang sama. Mengirimkan doa tulus agar kami selamat dalam perjalanan hingga ke Saudi nanti. Tertulis pula beragam doa yang mereka pinta untuk kami panjatkan kepada-Nya di depan rumah-Nya yang persegi, serta di sisi makam hamba-Nya yang paling mulia. Ialah Ka’bah dan Raudhah.

Bus melaju cukup cepat. Menghantarkan rombongan kami sampai ke muka Bandara Radin Inten Lampung. Setelah check-in dan prosedur lainnya telah usai kami lakukan, maka tiba waktunya aku, dan kedua sahabatku menaiki pesawat untuk yang pertama kalinya. Lalu melesatlah benda raksasa itu hingga menembus gumpalan awan, terbang menjauh dari daratan yang sungguh amat rupawan jika dilihat dari ketinggian. Betapa takjub kami memandanginya, seraya mengucap syukur berjuta kali dalam hati, atas karunia yang Ia hadiahkan untuk kami.

***

“Hadirin yang kami hormati, mari kita panggilkan, tiga Wisudawati terbaik dari Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an, Al-Huffazh,” Suasana riuh di acara wisuda siang itu lengang seketika. Para hadirin, tak terkecuali peserta wisudawati, memasang telinga mereka dengan saksama, menanti tiga nama yang akan dipanggil oleh sang pembawa acara.

“Wisudawati dengan nama Hafizha Fillah, Fauliya Shalihah, dan Nisfah Fadhilah, dimohon agar menaiki panggung,” jantungku berdegup kencang saat mendengar namaku disebut pertama kali oleh pembawa acara itu. Puluhan pasang mata para wisudawati yang lain tertuju ke arah kami bertiga, yang ketika itu duduk bersebelahan.

sorak-sorai tepuk tangan dimeriahkan oleh para hadirin yang menyaksikan. Ada semburat senyum bahagia yang terlontar dari bibir kedua orang tuaku yang berada di antara tamu undangan, tatkala kami bertiga telah sampai di podium. Aku dan kedua sahabatku disambut oleh Kyai Pondok beserta para Asatidz yang lebih dahulu sampai ke atas panggung. Sebuah map disodorkan oleh Kyai kepadaku, juga kedua sahabatku, yang kami sama-sama belum mengetahui apa isi di dalamnya. Hingga sambutan yang diutarakan oleh Kyai sesaat setelah kami bertiga kembali ke tempat duduk, membuat hatiku tersentak tak percaya. Mataku menoleh cepat ke arah panggung, tercengang mendengar sepatah kata yang baru saja beliau sampaikan. Buru-buru kami bertiga membuka isi map. Ada secarik kertas di dalamnya. Allahu Akbar. Tertera tulisan di atasnya dengan huruf Kapital “HADIAH UMRAH WISUDAWATI TERBAIK”.
Ada binar di mataku kala itu. Dan bulirnya pun membendung.



***

Angin malam menampar pipiku tepat ketika kaki melangkah menuruni tangga pesawat. Rombongan kami telah tiba di kota Jeddah setelah hampir sepuluh jam lamanya duduk di dalam Garuda Indonesia, seraya mengisi waktu dengan tadarus. Selepasnya kami pun langsung dijemput oleh bus menuju kota suci Madinah Al-Munawwarah. Makin lama hati ini kian berdesir kegirangan. Ada campur aduk rasa yang membahana dalam jiwa. Di samping bahagia, kecemasan jua terngiang membentuk tanya dalam benakku, ‘Akahnkah diberkahi? Akankah diridhai?’

“Bangun, Nak. Lihat jendela sebelah kanan,” Ustazahku, yang juga turut serta dalam perjalanan ibadah ini menepuk pundakku yang sedang terlelap di bus. Lekas kepalaku menoleh ke arah kanan. Mataku masih sedikit berkabut. Aku memilih beringsut dari tempat duduk dan menuju kursi kedua sahabatku, nisfah dan fauliya, yang berada tepat di sisi jendela kanan.

“Subhanallah!” Decak kekaguman bersamaan terlontar dari bibir kami, saat berpuluh pasang mata sama-sama tengah terpana memandang bangunan Masjid nan megah yang sedang dilintasi bus dengan sangat perlahan.
Burung-burung pun tak kalah ramai menikmati panorama keindahan laksana bangunan syurga yang bertapak di dunia. Sesekali segerombol burung-burung itu mengepakkan sayap mereka, berterbangan, mempersilahkan para jama’ah yang hendak lewat untuk ke Masjid. Tiang-tiang berpayung elektrik yang melebar dan menguncup secara otomatis pun turut memperindah Majid berkubah hijau itu. Hatiku kian melonjak-lonjak tak sabar ingin segera berlari meraih keutamaan yang tersedia di dalamnya.

***

“Labbaikallâhumma labbaîk, labbaika lâ syarîka laka labbaîk..”

Lafaz talbiyah terus saja menggema dalam kumandang. Seluruh rombongan kami serta para jama’ah umrah dari berbagai negara tengah berduyun mengayunkan kaki, melangkah bersama menuju Ka’bah yang berada di dalam Masjidil Haram. Air mataku telah berhasil mengubah pipi menjadi sembab, bersamaan dengan bibir yang mengirama, serta hati yang telah sepenuhnya siap menjalani inti dari perjalananku ini.

Baru saja kedua kaki berhasil memasuki Masjid yang indah menjulang, mendadak air mataku jatuh dengan deras. Terlihat bangunan hitam persegi yang kokoh tengah berdiri gagah di hadapanku. Sontak saja Fauliya, sahabatku yang sejak perjalanan tadi menggandeng tanganku, memelukku dengan erat. Sehingga Nisfa, yang melihat kami berpelukan pun turut menyusul. Kami bertiga tenggelam dalam isak tangis yang menggetarkan.

Tersimpan takjub dalam hatiku. Selaksa pengembaraan batin ini hanya sebuah hayalan yang mungkin akan terwujud saat keriput nanti. Namun tanpa dinyana, Dia bersedia mengundangku dan kedua sahabatku meraih kenikmatan ibadah yang tiada tara di tanah haram ini, kendati tanpa modal sepeserpun yang harus kami keluarkan. Lantas, sekelabat bayangan seseorang hadir di pupil mataku, tiada lain adalah guru kami yang kala itu pernah bertutur bahwa, ‘Al-Qur’an-lah yang akan membawamu, kemanapun engkau mau’.



(Terimakasih untuk semua yang telah mengupayakan)
*True Story berpoles fiksi*

Jumat, 26 September 2014

Pelitaku

Kala malam menggelayut sunyi, insan kebanyakan sedang berkemul hendak menutup hari, namun disebagian lain sekawanan peri tengah menghidupkan sepi, mengalahkan sahutan jangkrik, mencampakkan keheningan menebarkan kedamaian.

Tak terasa sudah hampir tiga tahun lamanya bersama mereka, menghidupkan hari-hari kami dengan Al-Qur’an. Belajar, berkisah, membaca, menghafal, mentadabbur, yang semua itu berkaitan dengan Al-Qur’an. Hingga sedikit demi sedikit, perasaan cinta dalam hati mereka tumbuh bersemi untuk Al-Qur’an, tak lain karena interaksi yang tak terbatas dan terus-menerus. Seketika malam itu kucoba melontarkan pertanyaan sederhana kepada mereka,

“mengapa ingin menghafal Al-Qur’an?”
“karna ingin masuk syurga!” jawab salah seorang anak.
“karna ingin dicintai Allah!” jawab yang lain.
“ingin memberikan mahkota cahaya kepada kedua orangtua!”
“ingin naik ke syurga tertinggi!”
“karna ingin sekolah beasiswa!”

Terharu, saat mendengar jawaban dari masing-masing sosok polos mereka. Ternyata hadis-hadis keutaman yang biasa di sampaikan telah membentuk motivasi dalam nuraninya. Tak heran jika peluh bening itu seringkali mengalahkan ajakan sekawanan lain yang tengah bermain. Namun namanya anak-anak tetaplah kodrati mereka, melihat teman yang lain bermain adalah godaan terbesar bagi para bocil itu ^_^


Cebisan Kenangan (ditulis hampir dua tahun yang lalu)

Sebelum memulai, jangan lupa baca ‘basmalah’ ya…
“بسم الله الرحمن الرحيم”

Hari ini

Tak terasa usiaku sudah hampir menginjak 19 tahun. Kata orang-orang itu adalah usia anak yang baru menginjak dewasa. Rasanya baru kemarin aku lulus SMP, eh SMA maksudku. Dan sekarang, UAS baru saja berakhir dan aku akan naik kelas semester 2.

Ya, kini aku adalah mahasiswi seperti anak-anak kuliahan yang lain. Tepatnya mahasiswi di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Asyik juga, banyak hal-hal baru yang kudapati, seperti; teman baru, guru baru, ilmu baru, suasana baru, dan lain-lain yang serba baru.

Hey…. Ngomongin teman baru, membawaku pada kenangan itu.
Yap, Kenanganku bersama teman lama. Ooh aku jadi ngerasa kangen sekangen-kangennya dengan mereka. Teman semasa aku masih di usia SMA, SMP, bahkan SD. Teman yang tinggal seatap denganku, yang sama-sama berjuang demi cita-cita kami. Tentu saja, mereka selalu membuatku merindu. Rindu yang selalu memaksa untuk bertemu.

Flashback

Seingatku, hari itu bertepatan pada tanggal 5 juli 2005.
Setelah tes mengaji dan menghafal Al-Qur’an dihadapan guru-guru wanita, atau sebut saja para ustazah. Aku diterima dan langsung mendaftarkan diri sebagai calon santri Pondok Pesantren Darul Huffazh Lampung. “Oh, begini rupanya suasana pesantren? bagus juga” kataku dalam hati. Inilah awal kehidupan baru sekaligus perjuangan baruku.

Bayangkan, beberapa santri baru tugas mereka tiap malam adalah menangis. Lho? Hehe.. namanya juga baru ngerasain nginep di tempat asing, tanpa orang tua yang biasa menemani di rumah. Tapi tidak denganku, ya jelas saja, waktu itu aku bersama kakakku yang setahun lebih dulu sekolah disana. Membuatku merasa ada yang menemani.

Awal perjuangan

Alhamdulillah… beberapa minggu setelah masuk pesantren baru, aku di izinkan ustazah memulai menghafal surat-surat pendek ― setelah melalui proses pembenaran bacaan. Inilah awal dari perjuangan. Ya, perjuangan menghafal firman-Nya. Meskipun waktu itu aku hanyalah anak kecil yang masih suka main-main, tapi keyakinan dapat menggapai cita itu sudah tertanam. 

Di usiaku yang masih 11 tahun, aku relakan pisah jauh dari orang tua untuk belajar di sebuah pesantren (yang telah kuceritakan sebelumnya) tahfizh Al-Qur’an, yang berada di pulau seberang. Keinginanku sendiri dan tanpa paksaan siapapun. Entah motivasiku waktu itu berawal dari mana, namun yang kuingat, aku hanya kagum dengan profesi ibuku sebagai guru ngaji. Aku rasa itu adalah suatu pekerjaan yang mulia. Dan aku ingin sepertinya.

Sahabat

Aku lupa awal mulanya. Dia baik, cantik dan pintar. Meskipun kami sekelas, tapi dia adalah seniorku, karena sudah satu tahun lebih ia nyantri di DeHa (singkatan pesantren kami). Hmm.. Belum lama bersama dengannya, kami harus berpisah karena ia akan melanjutkan SMP di kampung halamannya, Padang. Waktu itu kami baru lulus SD.

Alhamdulillah… setelah kepergiannya, Allah menggantikan sahabat-sahabat yang lebih baik buatku (menurut keyakinanku) untuk menemani perjuangan ini. Hingga (kini) cita-cita itu tergenggam erat di hati kami. Terima kasih sobat, kalian telah melengkapi ceritaku. ^_^

Teladan

“lan tana lul birro hatta tunfiqu mimma tuhibbuun…”
Suara itu terdengar merdu. Seorang akhwat dua tahun lebih tua dariku, yang tengah duduk di dalam Musholla tepatnya di bagian shaf pertama. Hanya ada aku dan dia saat itu. Kami duduk berjauhan, aku duduk di sudut paling belakang (kalo ga salah). Ku ikuti gaya duduknya, cara memegang mushafnya, nada bacanya, pokoknya semuanya. Hihi… untungnya dia ga sadar kalo aku sedang meniru gerak-geriknya.

Namanya… sebut saja Mutiara (bukan nama asli). Sosok teladan bagiku. Bukan karena nasehat atau pesan apapun yang ia beri, melainkan sikap tawadhu’ dan rajinnya yang aku suka, yang menarik minatku untuk mencontohnya. Setelah mendengar nasihat ustazah, bahwa menghafal Al-Qur’an membutuhkan sosok teladan untuk memotivasi diri. Saat itu pula kutemukan seseorang yang tepat, untuk membantuku mencapai cita-cita ini.

Tersayang

Sore itu, masih dalam suasana haru. Sebagian besar santri menangis, dan aku diantaranya. Tahu kenapa? Ustazah kami yang tersayang (menurut pengakuanku), akan pergi meninggalkan pesantren kami tercinta. Beliau ingin melanjutkan perjuangannya di kota Garut. Tentu saja aku bersedih, beliau wanita yang sentiasa membantuku dalam perjalanan cita-cita ini, sejak aku kesulitan dalam menghafal sampai mudah dan terbiasa. Semua karna bantuannya. Sebelum akhirnya aku bertemu dengan guru-guru hebatku yang lain.

Ingat sekali, ketika itu (masih dengan beliau) aku tengah menghafal juz dua. Kata orang-orang juz dua itu agak sulit untuk dihafal. Entah aku percaya atau tidak dengan pernyataan itu, tapi yang kurasakan sama seperti kata mereka. Aduuh.. sebentar lagi giliranku untuk menyetor. Tanpa pikir panjang aku ambil selembar mushaf yang telah terpisah dari kelompoknya. Kebetulan sekali lembaran itu adalah halaman yang akan kusetorkan. Aku masukkan kertas itu ke dalam jilbab merahku, dengan alasan ingin khusyu’ aku meminta izin ustazah untuk merundukkan kepala ketika setor. Setelah selesai dan ‘kecuranganku’ itu sukses, ustazahku hanya tersenyum tanpa sepatah kata. “hmm.. tak biasanya beliau diam. Biasanya setelah setoran selalu ada nasehat atau pesan yang beliau sampaikan padaku” bisik hatiku.

Besoknya, aku coba lagi ‘kecurangan’ itu. Ketika mengantri hendak menyetorkan hafalan, ustazahku bilang, “hafi terakhir ya setornya”. Tanpa mencurigai apapun langsung saja kuanggukkan kepalaku. Loh..loh.. sampai jam belajar (tahfizh) habis belum juga ustazah mempersilahkan aku untuk menyetor. Sampai akhirnya semua bubar ustazah baru memanggilku, “sini setorannya sekarang aja, tapi jangan kaya kemaren ya…” aku tersentak, “Astaghfirullah ustazah… maafin aku…” kataku sambil menunduk malu. “Ga usah dengar kata orang nak, semua itu mudah kalau hafi mau usaha dengan sabar. Bagaimanapun hasilnya, lancar atau tidak, ustazah ga akan marah asal hafi ga bohong kaya kemarin, ya…” kata ustazahku menasehati sembari tersenyum simpul padaku. Persisnya beginilah kisah ‘kecuranganku’ waktu itu. Aku ingin para pembaca yang budiman mengetahui hal ini (meski memalukan), namun pengalaman ini adalah suatu pelajaran buatku, karna yang terpenting bagiku adalah keberkahan ilmu.

Surat kaleng

“Keikhlasan yang terdapat dalam niat dan tekat di hati akan timbul rasa untuk mencintai Rabbnya, dan dengan ikhlas itu timbulah rasa mencintai seseorang…”

Sedikit kutipan yang tak sengaja kuingat, isi dari secarik kertas yang entah siapa pemiliknya, namun ia berikan untukku melalui temanku. Kertas yang wangiiii sekali baunya. Tapi, tidak diragukan lagi siapakah pengirim surat kaleng itu, tiada lain ia adalah santri sebrang (ikhwan). Hmmm… tanpa pikir panjang surat itu segera kubakar sebelum ia lebih dulu membakar hatiku hingga membuatku susah menghafal (jiee..), lebih tepatnya sebelum ketahuan ustazah. Hehe.. yasudah, ini hanya cerita. Kisah macam ni hanya sekilas pengalaman dalam kenangan. ndak perlu dibaca :D

Takdir istimewa

Kalian tau? Berinteraksi dengan para penghafal Al-Qur’an amat sangat membuat hidupku penuh warna, penuh arti, dan selalu memberikan ketenangan dalam hati (mata mendung). Tak pernah kubayangkan sebelumnya, tentang takdirku yang kurasa istimewa ini. Menghafal Al-Qur’an itu seperti proses memasukkan kalam Allah ke dalam dada. Aduhai…. Apakah aku diantara hamba-Nya yang terpilih itu? Yang dapat menghimpun seluruh firman-Nya ke dalam jiwa?(menetes).

Semakin lama kedekatan dengan Al-Qur’an pun kurasakan. Seperti tak ada yang ku hiraukan kecuali hanya membaca dan menghafalkannya. Namun semakin kudekat, semakin banyak pula godaan-godaan yang memaksaku untuk menjauh. Bahkan aku pernah ‘galau’ dengan semua godaan itu. Setelah berkonsultasi dengan ustazah, beliau menyarankan agar tidak memaksakan diri untuk menghafal ketika hati masih sedang dilanda kefuturan. Fokuskan pada penataan hati agar konsentrasi dan semangat hadir lagi. Teman… Sungguh tidak mudah mengembalikan semangat yang hampir rapuh, tapi kucoba semaksimal mungkin dengan do’a, sholat, dan membaca hadis-hadis tentang keutamaan menghafal Al-Qur’an, hingga akhirnya gairah itu hadir kembali. “Alhamdulillah… aku rasa harus tetap waspada untuk masalah ini. Semoga takdirku sesuai dengan citaku” gumam hati ini.

23 Juli 2009

Tanggal yang istimewa, sangaat istimewa. Kebahagiaan serta kesedihan bahkan ketakutan campur menjadi satu dalam hati ini. Setelah do’a (dipipimpin oleh ustad) di depan para santri dan ustazah, air mata ini tak bisa berhenti mengalir, membasahi hingga ke rongga hati. Benar sobat, aku berhasil menyelesaikannya. Baru menyelesaikannya. “Alhamdulillah…” kalimat itu tak henti ku ucapkan.
“Selamat ya… semoga selalu Istiqomah dengan Al-Qur’an..”
Begitulah kalimat do’a yang dipanjatkan dari para santri untukku sembari menjabat tanganku.

Terima kasih Ya Allah, meskipun butuh waktu lama ku mengkhatamkannya. Tapi karunia ini takkan habis kusyukuri. Aku tau setelah ini justru tanggung jawabku terhadap kalam-Mu lebih besar. Bismillah… Akanku perjuangkan itu, karna setelah menggenggemnya, berarti kita telah berjanji untuk menjaganya selamanya!

Cinta

Eits… jangan salah sangka dulu dengan judulnya. Kisah cinta ini bukanlah cinta biasa (kaya judul lagu, hehe..). Berawal dari pertanyaan seorang ustad kepada para santri selepas shalat ashar, “mana yang lebih mudah kalian hafal, Ayat Al-Qur’an atau lirik lagu?” dengan serempak, “lirik lagu taad..” “mengapa?” Tanya ustad lagi. Salah satu santri menjawab, “karna lagu pake bahasa Indonesia” “ada yang lebih tepat?” Tanya beliau. Setelah beberapa jawaban mereka lontarkan, ustad pun menjelaskannya dan menghubungkan dengan ayat, yang artinya, “Dan sungguh, telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Al-Qamar:17).
Benar sekali, Al-Qur’an itu mudah tuk dihafal jika kita mau mempelajarinya. Mau berarti telah menyukai dan mencintai. Jadi menurutku, modal pertama menghafal Al-Qur’an adalah, menCINTAinya (Al-Qur’an) terlebih dahulu.

Ijazah

Setelah khatam, berinteraksi dengan Al-Qur’an jadi lebih nikmat terasa. Tadabur itu selalu hadir dalam tiap-tiap lantunanku. Banyak orang bilang, menghafal yang baru lebih mudah dibanding mengulang yang telah dihafal. Benar, tapi menurutku ndak juga. berkat aturan-aturan yang ustad berikan padaku, agar memaksimalkan waktuku untuk mengulang hafalan. Alhamdulillah… dengan mentaati guru, semua ilmu itu terasa berkah bukan? 
Dan akhirnya ijazah syahadah itu berhasil ku dapatkan. Terima kasihku untukmu karena Allah.

Kanikmatan dari Al-Qur’an

Jika kita mau meluangkan hidup untuk mengurusi Al-Qur’an, maka Allah yang akan mengurusi kita, kapanpun dimanapun. Kalau ndak percaya coba saja buktikan. Tanyakan pada mereka yang berpengalaman, dan katakan apa jawabannya!

Percayalah kawan, aku merasakannya. Berjuta kenikmatan yang tak cukup jika disebutkan satu persatu. Ini baru menghafalkannya, bagaimana jika ditambah dengan mengamalkan dan mengajarkannya? Tak terhitung. Belum lagi jaminan syurga baginya, Subhanallah ya… ^^

Do’a

“Ya Allah izinkan aku, aku ingin, aku mohon, aku pinta….”
Tak kusia-siakan saat-saat berharga itu. Ku perbanyak do’a di sana. Sungguh, hadiah terindah dapat pergi ke tanah suci. Semua yang kudapatkan adalah berkah dari Al-Qur’an.

Hingga saat ini, do’a-do’a itu telah terpenuhi sebagian besarnya.
Keinginanku dapat membuka lembaga tahfizh Al-Qur’an pun telah terpenuhi, dan yang lain sebagainya. Jika syukur ini tak mengalir pada-Nya. Akankah Ia memberi lagi dan lagi?
Diri ini hanya ingin membagi kebahagiaan padamu juga kawan… 

***





Catatan kenangan di atas ditulis sebagaimana pengalaman dari perjalanan seseorang selama ia menghafal Al-Qur’an. Dia bukanlah seorang penulis yang pandai dan mahir dalam karya tulisnya. Namun ia hanya mencoba berbagi ceritanya bersama Al-Qur’an kepada para pembaca sekalian. Menurutnya, berjuang demi Al-Qur’an berarti berjuang mengumpulkan bekal untuk dunia & akhirat. Selalu ada point-point istimewa di dalamnya, bahkan janji Allah bagi penghafalnya tidaklah sedikit.

Dari Anas ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas bertanya, “
siapakah mereka itu wahai Rasulullah? Baginda menjawab, “Ia itu ahli Qur’an (orang yang membaca atau menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.”

Penutup

Malam sabtu, tak lain dengan malam di hari-hari biasa. Lantunan suara yang saling bersahutan, selalu menghidupkan suasana Al-Qur’an di tengah kesunyian malam. Tampak jelas di wajah mereka aura kesungguhan yang juga dibarengi dengan keletihan. Sungguh, suasana seperti ini yang selalu ingin kutemui, mengisi detik demi detik yang kulewati. Semoga saja, untuk esok dan seterusnya.

***

01-01-2013
Hurun ‘in
Yang selalu merindukan ketenangan

"الحمدلله رب العلمين"

Sabtu, 16 Agustus 2014

Cerita Jayuz

Adalah Tono, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun yang tinggal di pelosok desa, bersama bapaknya yang bernama Joko. Ibunya, yang biasa dipanggil Surti telah meninggal dunia setelah melahirkan Tono. Konon katanya, Bapaknya memberikan nama itu kepada Tono, adalah karena Tono mewarisi golongan darah bapaknya yang ‘O’. Sementara surti belum jelas apa golongan darahnya, dan itu masih menjadi misteri bagi keluarga mereka. Tapi masalahnya cerita gokil tentang keluarga pak Joko bukanlah tentang golongan darah.

Melainkan, Lohno. Lohno sudah seperti keluarga mereka sendiri, terutama bagi Joko. Lohno bukan kerabat Joko, ataupun temannya, apalagi sahabat karibnya. Bukan. Sama sekali bukan. Tetapi Lonho adalah Lou-Han. Salah satu jenis ikan hias yang dibeli dan dipelihara Joko. Lonho memiliki postur tubuh yang aduhai indah. Matanya yang belo, warna tubuhnya yang cemerlang, kendati warnanya cendrung lebih lembut dengan warna dasar kuning atau hijau kekuningan. Ada degradasi warna di sekujur tubuhnya. Pancaran mutiara di balik sisiknya selalu membuat Joko terpesona. Namun setiap ada kelebihan pasti ada kekurangan. Lonho ini jenongnya minta ampun, dan itulah pemandangan yang tidak disukai anaknya, si Tono.

“Pak.. tuh si Jenong udah minta makan!” Teriak Tono meledek Bapaknya. Sebetulnya Tono agak iri melihat bapaknya lebih perhatian terhadap Lonho dibanding dirinya yang sudah piatu itu.

“Jenong! jenong! Itu ikan kesayangan Bapak tau!” Sahut Joko dari balik kamar yang kumuh akibat jarang dibersihkan. Lain halnya dengan akuarium Lonho, yang setiap harinya rajin sekali dibersihkan dan dikuras oleh Joko.

Tono langsung kabur keluar rumah sebelum bapaknya muncul dan mengeluarkan mata besarnya yang tajam ala Joko. Seketika Tono bergabung dengan teman-temannya sambil ngos-ngosan.

“Lu, kenapa Ton? Ngos-ngosan gitu.” Tanya teman-teman Tono mengerubungi.

“Biasa, abis ngeledekin si Jenong kesayangan bapak gua.”

“Haha parah lu Ton.”

“Lagian yang diurus si Jenongnya mulu. Lah gua, makan pagi aja pake minta sama tetangga.” Kesal Tono.

“Kenapa gak elu jual aja Lou-Han bapak lu Ton, kan lumayan dapet satu jutaan lebih.”

“Wah gak mungkin. Kalo gua jual tuh Jenong, bisa diabisin gua sama bapak.”

***

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun mentok tak berganti lagi. Keuangan keluarga Joko pun menipis. Akhirnya Joko terpaksa hendak menjual Lonho kesayangannya itu seharga satu juta kepada tetangga-tetangga di desanya. Namun sungguh malang nasib Joko, karena si Lonho tersayang sudah semakin tua dan keriput, beberapa sisiknya ada yang terkelupas, matanya semakin sayu, warnanya pun tak secemerlang dulu. Alhasil, tak ada satupun yang mau membeli ikan lou-han milik Joko.

“Turunin aja harganya pak, lima ratus ribu masih lumayan kok.” Ucap Tono menanggapi wajah lesu bapaknya.

“Apa gak usah kita jual aja ya, si Lonho.” Kata Joko putus asa. Mata besarnya menatap lonho dengan tajam, seolah tak sanggup berpisah dengan lou-hannya tersayang.

“Bapak ini gimana?! ikan jenong ga berguna itu cuma bisa nyusahin doang pak! Lebih baik kita jual, walaupun murah setidaknya menghasilkan uang!” Bentak Tono yang kian naik pitam mendengar ujaran bapaknya sembari melirik si Lonho peyot.

***

Sore itu, Tono memilih keluar rumah dan kumpul bareng teman-temannya di gardu desa. Joko benar-benar tidak jadi menjual Lonho kepada siapapun. Tono tak habis pikir mengapa bapaknya mempertahankan Lonho sedemikian rupa. Padahal yang mengakibatkan keringnya ekonomi keluarga mereka adalah juga karena Lonho yang membutuhkan perawatan terus-menerus. Selain uang, kepergian Lonho adalah harapan besar bagi Tono yang benci sekali dengan perlakuan bapaknya terhadap ikan jenong itu.

“Gua ada ide bro..” Kipli, salah satu sobat Tono yang cungkring mengeluarkan suara setelah Tono menceritakan semua pada mereka.

“Apa?”

“Sinih, gua bisikin.” Seketika wajah dekil itu nyengir tak karuan mendengar saran yang diberikan Kipli kepadanya.

“Serius lu bro? Bakal kacau gak tuh?”

“Enggak... lu bilang aja si Lonho ilang dicuri tetangga!”

Senja pun usai, hanya menyisakan cengiran Tono yang mengingat-ingat bisikan Kipli tadi sore. Tepat tengah malam Tono melakukan aksi yang direncanakan oleh Kipli. Berjalan sesuai rencana.. dan..

***

Keesokan harinya, Tono berjalan dengan lunglai, menyusuri rumah-rumah tetangga hendak menuju gardu tempat teman-temannya nongkrong. Semua tetangga heran memperhatikannya. Bisik-bisik sana sini, beranggapan macam-macam tentang Tono yang berubah rupa. Bencak-bencak merah memenuhi tubuhnya, mata biru, wajah lebam, ditambah dahinya yang menjenong seperti Lonho peliharaan bapaknya.
Sesampainya di gardu..

“TONO??!!” Serempak teman-temannya kaget melihat bentuk Tono yang tidak karuan, dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Gua udah ikut saran lu Pli..” Ujar Tono datar, tanpa ekspresi.

“Jadi itu Lou-han bener-bener lu goreng Ton??? Lu makan??” Tanya Kipli tak percaya kalau Tono benar-benar tega pada Lou-han kesayangan bapaknya. Padahal Kipli tak bermaksud serius dengan sarannya kemarin.
Tono tak menjawab.

“Tapi bapak lu ngira si Lonho itu di culik kan?” tanya Jupri kocak.

“Jangan-jangan.. lu berubah bentuk kaya gini karena kutukan dari si Lonho. Selama hidupnya lu selalu menghina dia, dan setelah lu makan tuh ikan Lou-han, arwahnya gentayangan bales dendam sama lu, sampe rupa lu persis kaya Lou-han.” Lanjut Kipli asal.

“Gua agak percaya sama Kipli, Ton. Terus gimana caranya buat ngilanin kutukan itu?” Jupri menatap serius wajah merah Tono.
Tono yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara,

“Ngaco lu semua!” Tangkasnya.

“Mana ada orang kena kutukan gara-gara makan ikan! Semalem, baru gua angkat tuh lou-han dari kuali, dan belum sempet gua makan, bapak gua bangun! Kaget setengah mati dia setelah tau kalau si Lonho udah almarhum gara-gara gua goreng sampe kering. Akibat kesadaran bapak gua yang belum sempurna dari tidurnya, tangannya melayang kuat tepat di dahi gua, alhasil dahi gua jenong alias benjol kaya si almarhum Lonho. Luka benjolnya malah menjalar ke mata dan muka gua sampe gak karuan. Badan gua dicubit dan dipukul tanpa ampun sama bapak sampe merah-merah begini. Puas lu pada ngatain gua kena kutukan??!!"

Teman-teman Tono saling berpandangan, seketika meledak tawa.

“HUAHAHAHAHA!”

***

Kisah di bilik GAZA

“DUARR!!”

“DUARR!!”

“DUARR!!”

Puluhan roket meluncur tepat ke ranah bumi para Nabi. Anak-anak yang tengah riuh dan melebur dalam permainan mereka siang itu harus redup seketika. Tawa riang telah disulap menjadi jerit tangis yang amat mencekam. Debu-debu terhempas, serta daratan kian bersimbah oleh darah. Ibu-ibu berlarian sembari menggendong balitanya hendak bersembunyi. Bukan takut atau gentar yang dirasa, melainkan naluri keibuan yang ingin melindungi buah hati mereka.

“Farhaaaaaaan!!”

Seorang wanita memanggil anak lelakinya yang sedang berlalu dengan nada gemetar. Larian lincah lelaki berusia sembilan tahun itu seolah tengah mengejar kawan-kawan yang sedang bermain dengannya. Tapi pemandangan di depan mata bukanlah demikian. Langkahnya terhenti, lelaki pemberani itu meraih bebatuan yang berada di sebelah kaki mungilnya. Dengan gagah berani tangannya yang menggenggam batu pun mengayun ke arah mobil tank baja berhiaskan meriam yang berada tepat di hadapannya.

Tepat sasaran. Salah seorang tentara Israel berteriak histeris mendapati kepalanya berlumur darah akibat lemparan batu yang sangat kencang dari anak tak berdosa itu. Tak sanggup lagi untuk bangkit, tentara biadab itu hanya mencaci-maki lelaki mungil yang berlari putar arah untuk menuju ibunya yang tak henti menderaskan air mata.

Farhan berusaha keras menyembunyikan air matanya di hadapan sang Ibu. Anak seusia itu dapat memahami betapa perih nurani Ibu yang ditinggal mati anak bungsunya dengan sangat tragis. Adik Farhan, lima menit lalu menjadi korban kekejian tentara pengecut itu dengan luncuran meriam yang selalu menjadi kebanggaan mereka. Hatinya geram. Entah harus dengan apa ia melampiaskan amarah dan kesedihannya itu selain dengan lemparan batu bisu, yang ia hidupkan dengan gemuruh takbir. Bahkan gemuruhnya seolah memanggil Izrail untuk segera mencabut dengan ganas nyawa-nyawa mereka yang hina.

“Apa yang kalian tunggu! Cepat tembak anak bajingan itu!!” Tentara berdarah dingin itu membusungkan dadanya memerintahkan keparat lain untuk tidak mengabaikan perlawanan yang dilakukan Farhan.

“Sudahlah. Dia hanya anak kecil!” Sekawanan yang lain menimpali perintah agar mengabaikannya.

“Apa yang kalian pikirkan?! Masih kecil saja dia sudah berani melempari kita dengan batu, bagaimana ia besar nanti?! Anak ingusan itu pasti akan meluncurkan peluru apinya! CEPAT HABISI DIA!!!”

Seketika saja ribuan peluru beterbangan ke arah Farhan dan penduduk sipil lainnya. Mereka semakin membabi buta menembaki para warga yang tidak berdosa. Bukannya menghindar, Farhan malah melepaskan genggaman tangannya dari sang Ibu dan kembali mengumpulkan kerikil-kerikil tajam hingga memenuhi jemari kecilnya. Pemandangan itu justru menarik perhatian para warga yang akhirnya turut mengumpulkan batu dan melempari tentara-tentara berpopok itu dengan tanpa rasa takut.

“DUARR!!”

Belum berhasil peluru tentara mengenai Farhan, mobil tank baja yang mereka naiki tiba-tiba meledak. Api mengepul disusul gumpalan asap yang menganga seolah menelan satu-persatu nyawa mereka. Seorang pria gagah perkasa, mengenakan seragam militer dengan kain hitam yang membalut menutupi wajahnya, baru saja melemparkan granat ke arah kendaraan tentara-tentara itu. Tapi Farhan tau betul siapa dia. Sudah lama Farhan dan teman-teman sebayanya mengagumi sosok pria itu juga sekawanannya.

HAMAS. Benar. Pria itu adalah salah satu anggota dari Hamas. Organisasi Muslim Palestina yang memiliki cabang politik dan militan yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup negara Palestina. Bocah-bocah muslim seusia Farhan, sebagian besar mereka bercita-cita menjadi bagian dari Hamas. Bagian dari anggota para hamilal Qur’an nan pemberani itu adalah sebuah penghargaan bagi kalangan lelaki Muslim Palestina. Begitupun halnya dengan Farhan, di usianya yang sangat dini ia tengah berjuang menghafal kalamullah demi sebuah penghargaan dan perjuangan kelak.

“FARHAAAN! AWAS NAAK!”

Terlambat. Seruan Ibu Farhan terlambat sedetik dari peluru yang meluncur secepat kilat mengenai tepat di dada anak tak berdosa itu. Seorang tentara menembaknya dari arah berlawanan yang kemudian berlari terbirit-birit sebelum pasukan Hamas membalasnya dengan granat.Darahnya mengalir deras. Sederas air mata Ibunya yang detik itu telah ditingal mati kedua anaknya. Kematian tragis itu menjadi pemandangan mata. Peluh hangat membanjiri dan membasahi pelukan wanita janda itu pada Farhan. Semua menjadi saksi atas kekejaman tentara Israel yang telah berhasil merenggut nyawa anak-anak tak berdosa. Anak-anak yang mencoba membela diri menunjukkan keberanian mereka dengan sebongkah batu bisu. Hingga Allah memerintahkan malaikat Izrail mencabut halus nyawa mereka, demi kebahagiaan abadi di akhirat sana.





Dan sinar mentari pun membara,
Menyaksikan jiwa suci direbut haknya,
Menggelora semangat bagi diri yang tak rela,
Tanpa membuang Ikhlas demi pertemuan dengan Sang Pencipta.


SELESAI.

Selasa, 28 Januari 2014

SENJA


Matahari pergi
Bukan keletihan melanda
Dan mengalah pada senja
Tetapi,
Sebuah keniscayaan
Laksana api yang panas
Atau air yang mengalir
Atau bumi yang berputar
Bagai kisahku,
Yang mengekor pada nasib
Hampa,
Pudar,
Lebur,
Bak petang kini
Mengusir cerah mentari



SEMOGA


Letih ini kuharap tak berakhir sendu
Melainkan kucapai getaran rindu,
Peluhku membasahi kening
Pintaku tak kian berujung hening,
Sebab,
Dalam lelah kutemukan gairah
Dalam helaan kudapati kehangatan
Dalam guntai kuperoleh cinta nan damai,
Semoga..


Pulau Kenanga


Silir angin menghembus ujung kain jilbabku
membuatnya menari-nari serasa di tepian pantai
gemericik air yang saling berbenturan, menjadi ombak
riuh menemani kesendirian

Tatapanku menerawang ke dasar lautan
seolah tenggelam amat sangat dalam
berenang kian kemari bersama kekawanan lumba betina
lalu, menghayal bersama

Tak terasa begitu lama termenung
Suara kapal berbunyi pertanda akan merapat
Mengusik kenangan indah yang tengah kuselami
Bersama mereka yang kurindui

Sahabat,
Inilah pelabuhan kita, pulau terindah kita,
Di mana aku, dan kamu, dipertemukan, lalu dipisahkan,
Harapku kini, semoga dipertemukan kembali,



SERAHKAN


Gelora itu hadir,
Tatkala yang tercinta mendorong mendukung cita,
Terasa beda,
Oh amat beda,
Sempurna mengundang asa yang sempat kelabu,
Namun,
Sekejap saja ia mampu memudar,
Jika sokongan tak lagi menawan mewarnai hati,
Pupus oleh degupa tak menentu,
Rapuh oleh pematah kalbu,
Entah,
Meskipun begitu,
Janganlah!
Usirlah!
Kembali menuju sasaran mimpi,
Dan serahkan semua pada Ilahi []

TAHUKAH CINTA



Tahukah cinta,
Derai kata mulutmu berbusa,
Mencuap curahan isi hati nan permai,
Sajakku membisik,
Bahwa sejatinya ungkapanmu tak butuh rupa,
Sebab hati tlah menjadikanmu nyata,

Tahukah cinta,
Beradu rinduku di malam sunyi,
Berteman huruf membentuk puisi,
Kata demi kata,
Kuurai tuk nyatakan cinta,
Meski berakhir padaku sahaja,
Dan tatapmu tak pernah menyaksikan,
Kuharap keu menantikan,
Adegan yang pasti,
Yang nyata walau tak berarti,

Karna aku,
Lunglai dalam rindku.