Jumat, 17 Januari 2014

HIJABMU IDENTITASMU




“Kenapa belum berjilbab?”

“Ah..nanti deh, hijabin hati aja dulu.”

“Apa hubungannya?”

“Iya, hati dan akhlak dulu diperbaiki, baru berhijab.”

Hmm.. mendengar alasannya, sebetulnya ada benarnya juga. Nabi Muhammad diutus sebagai penyempurna AKHLAK, dan akhlak bersumber dari hati. Tapi, apakah Allah memerintahkan wanita islam berhijab dengan syarat? Dengan ketentuan harus sudah baik lahir dan bathin? Sudah sempurna akhlak dan hatinya? Sedangkan manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan. Jika demikian, sampai kapankah alasan ‘menghijabi hati’ itu berujung?

Entahlah,

Namun yang harus kita ketahui, hijab atau jilbab, adalah IDENTITAS. Adalah KEWAJIBAN. Adalah KEHORMATAN. Bagi seluruh wanita baligh yang beragama Islam. Dengan tidak memandang apakah ia baik hatinya ataukah buruk hatinya. Apakah kaya ataukah miskin. Apakah berpendidikan tinggi ataukah tidak. Apakah bangsa Arab ataukah tidak. Lantas, alasan apapun untuk menunda berhijab tidaklah bisa diterima. Sebab perintah Allah bukanlah untuk dikompromi.

Andai kita menyaksikan, tatkala Allah menurunkan firmannya dengan perintah “..Hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..” (24:31), maka saat itu pula para wanita mengambil kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka, dari kepala hingga melabuh ke dada. Tanpa protes, tanpa komentar, tanpa alasan apapun melainkan “sami’na wa ‘atha’na”.

Andaikan pula, wanita yang beralasan itu tahu, bahwa ada hikmah disebalik segala perintah. Allah tidak akan menjadikan segala sesuatu itu sia-sia, semua ada manfaatnya. Justru dengan melaksanakan perintah berhijab, sedikit-demi sedikit, hati pula akan ikut terhijabi, secara otomatis pula akhlak akan menyesuaikan apa yang telah menjadi identitas diri. Bukankah Allah telah menjelaskan, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak akan diganggu.” (33:59)  

Lihat saja adegan-adegan yang sering terjadi ketika para wanita melintasi segerombolan laki-laki yang suka menggoda. Apa yang mereka katakan kepada wanita yang tak menutup aurat? Dan apa yang mereka katakan kepada wanita yang menutup aurat dengan berjilbab? Kontras! Meski sama-sama disapa, namun maksudnya berbeda. Setidaknya mereka sentiasa mendoakan wanita yang berjilbab dengan iseng menyapa, “Assalamu’alaikum Bu Haji”. So, tinggal dijawab dan meng-aminkan dalam hati, semoga segera pergi haji. Hehe..

() () ()

Bersyukur, dewasa ini jilbab bukan lagi hal yang tabu disandangkan oleh para wanita muslimah. Berbagai fasilitas telah disediakan guna memper-elok penampilan para hijaber. Banyak toko-toko menyediakan bermacam model jilbab. Dari warnanya yang cantik, gayanya yang anggun, coraknya yang memperindah, kombinasi yang menawan, dan sebagainya. Tapi, mari kembalikan lagi kepada tuntunan syari’at. berfachion tidaklah masalah, asalakan tidak berlebihan dalam berhias. Memperindah diri dianjurkan, asalkan niat murni tetap diteguhkan.

Firman Allah, “..dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah..”  (33:33)



() () ()

Teruntuk muslimah di manapun berada, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua, memurnikan hati untuk taat kepada-Nya, terjaga dengan hijab yang melindungi, anggun dengan akhlak yang menawan hati, lembut oleh tutur yang berhikmah, mempesona dengan jiwa yang rahmah.

(I LOVE you coz ALLAH ^_^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar