“Kenapa belum
berjilbab?”
“Ah..nanti deh, hijabin
hati aja dulu.”
“Apa hubungannya?”
“Iya, hati dan akhlak dulu
diperbaiki, baru berhijab.”
Hmm..
mendengar alasannya, sebetulnya ada benarnya juga. Nabi Muhammad diutus sebagai
penyempurna AKHLAK, dan akhlak bersumber dari hati. Tapi, apakah Allah memerintahkan
wanita islam berhijab dengan syarat? Dengan ketentuan harus sudah baik lahir
dan bathin? Sudah sempurna akhlak dan hatinya? Sedangkan manusia adalah makhluk
yang tak luput dari kesalahan. Jika demikian, sampai kapankah alasan ‘menghijabi
hati’ itu berujung?
Entahlah,
Namun
yang harus kita ketahui, hijab atau jilbab, adalah IDENTITAS. Adalah KEWAJIBAN.
Adalah KEHORMATAN. Bagi seluruh wanita baligh yang beragama Islam. Dengan tidak
memandang apakah ia baik hatinya ataukah buruk hatinya. Apakah kaya ataukah
miskin. Apakah berpendidikan tinggi ataukah tidak. Apakah bangsa Arab ataukah
tidak. Lantas, alasan apapun untuk menunda berhijab tidaklah bisa diterima. Sebab
perintah Allah bukanlah untuk dikompromi.
Andai
kita menyaksikan, tatkala Allah menurunkan firmannya dengan perintah “..Hendaklah mereka menutup kain kerudung ke
dadanya..” (24:31), maka saat itu pula para wanita mengambil kain apa saja
yang bisa menutupi aurat mereka, dari kepala hingga melabuh ke dada. Tanpa protes,
tanpa komentar, tanpa alasan apapun melainkan “sami’na wa ‘atha’na”.
Andaikan
pula, wanita yang beralasan itu tahu, bahwa ada hikmah disebalik segala
perintah. Allah tidak akan menjadikan segala sesuatu itu sia-sia, semua ada
manfaatnya. Justru dengan melaksanakan perintah berhijab, sedikit-demi sedikit,
hati pula akan ikut terhijabi, secara otomatis pula akhlak akan menyesuaikan
apa yang telah menjadi identitas diri. Bukankah Allah telah menjelaskan, “Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
dikenal, karena itu mereka tidak akan diganggu.” (33:59)
Lihat
saja adegan-adegan yang sering terjadi ketika para wanita melintasi segerombolan
laki-laki yang suka menggoda. Apa yang mereka katakan kepada wanita yang tak
menutup aurat? Dan apa yang mereka katakan kepada wanita yang menutup aurat
dengan berjilbab? Kontras! Meski sama-sama disapa, namun maksudnya berbeda. Setidaknya
mereka sentiasa mendoakan wanita yang berjilbab dengan iseng menyapa, “Assalamu’alaikum
Bu Haji”. So, tinggal dijawab dan meng-aminkan dalam hati, semoga segera pergi
haji. Hehe..
() () ()
Bersyukur,
dewasa ini jilbab bukan lagi hal yang tabu disandangkan oleh para wanita
muslimah. Berbagai fasilitas telah disediakan guna memper-elok penampilan para
hijaber. Banyak toko-toko menyediakan bermacam model jilbab. Dari warnanya yang
cantik, gayanya yang anggun, coraknya yang memperindah, kombinasi yang menawan,
dan sebagainya. Tapi, mari kembalikan lagi kepada tuntunan syari’at. berfachion
tidaklah masalah, asalakan tidak berlebihan dalam berhias. Memperindah diri
dianjurkan, asalkan niat murni tetap diteguhkan.
Firman
Allah, “..dan janganlah kamu berhias dan
bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah..” (33:33)
() () ()
Teruntuk muslimah di
manapun berada, semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita semua,
memurnikan hati untuk taat kepada-Nya, terjaga dengan hijab yang melindungi,
anggun dengan akhlak yang menawan hati, lembut oleh tutur yang berhikmah,
mempesona dengan jiwa yang rahmah.
(I LOVE you coz ALLAH
^_^)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar