Istiqomah
berarti setia. Setia kepada sesuatu yang telah menjadi prinsipnya. Tak goyah,
tak lengah, semua berjalan secara continue atas dasar kesetiaan. Apakah itu
setia kepada agama, setia pada profesi, setia pada pasangan, atau setia pada
suatu pekerjaan. Setia memiliki ganjaran yang besar. Karna setia, hasil pun kan
diperoleh dengan cuma-cuma.
Namun
kuakui, tidak mudah untuk bersikap istiqomah, khususnya pada aktifitas ibadah
yang terbilang langka jika dilihat pada lingkungan sekitarnya. Mungkin
istiqomah juga bisa disebut disiplin. Sedang disiplin adalah hal yang perlu
dilakukan dengan kerja keras, ketelatenan, keteguhan, kerajinan, dan
sebagainya. Hingga membentuk suatu tabiat yang tak mudah terlepas, karna sudah
menjadi kebiasaan.
Hampir
sekitar tujuh tahun lamanya, aku menyandang status sebagai santriwati di sebuah
pesantren. Pesantren yang mengajarkan serta mempraktekkan segala amalan yang
terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis. Segala bentuk ibadah wajib dan sunnah
sudah menjadi rutinitas yang enteng untuk dikerjakan para santrinya. Seperti;
shalat fardhu, shalat rawatib, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa senin kamis,
puasa daud, puasa yaumulbit, menghafal Al-Qur’an, menghafal hadis, menghafal
doa-doa, dan sebagainya. Meski awalnya adalah sebuah peraturanan formal, namun
lama-kelamaan membentuk menjadi sebuah kebiasaan yang tak mudah ditinggalkan. Bukan
lagi atas dasar peraturan atau takut mendapat hukuman, melainkan karna ketaatan
pada Allah Ta’ala.
Beriringnya
waktu, sampailah pada tahap yang selanjutnya. Yang tidak lagi memungkinkan aku
untuk meneruskan perjuangan di pesantren, melainkan di rumah bersama keluarga. Cukup
kaget awalnya, ketika menghadapi berbagai macam godaan di rumah, mulai dari
televisi, handphone, internet, dan lain-lain yang seringkali menghalangiku
melaksakan rutinitas sebagaimana di pesantren dulu. Padahal dari awal sudah
ditekadkan, di manapun dan kapanpun berada, rutinitas itu harus berjalan
seperti biasanya. Tapi ternyata, tak semudah yang kubayangkan, gejolak nafsu
yang selalu ingin ini dan itu tak lekas terlumpuhkan dengan ayat-ayat yang cinta
yang biasa kujadikan senjata. Astaghfirullah… begini rasanya, tatkala setan
berhasil membujuk manusia untuk berpaling dari perintah Tuhannya.
Terlintas
di benakku suatu ayat, “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan,
maka mohonlah perlindungan kepada Allah…” (Fushilat:36) kemudian ditegaskan
lagi oleh ayat yang lain, “Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh
setan sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Az-Zukhruf:62)
Maha
benar Allah yang Maha Agung, semoga Dia berkenan melindungi kita dari segala
jenis godaan dan bisikan jahat dari syetan yang terkutuk. Tapi, apakah bisa
sepenuhnya menyalahkan setan? Sedangkan menggoda manusia adalah profesinya
hingga hari kiamat kelak, dan telah disetujui oleh Allah dengan catatan : “kecuali
hamba-hamba-Ku yang ikhlas”. Ikhlas? Hm, mungkin itu yang menjadi kendalanya.
Yang jika tanpanya maka syetan akan leluasa mengelabui manusia, dan membuatnya
berpaling dari beribadah kepada Allah.
Ikhlas,
suatu perkara yang sebetulnya hanya jiwa dan Allah sahaja yang mengetahui. Imam
Ibnu Al-Jauzy berkata, “Manusia harus sadar bahwa ada Zat yang Maha Membalas
perbuatan dosa. Manusia pun harus sadar bahwa tiada berguna dinding yang ia
jadikan benteng untuk bersembunyi. Ia pun harus tahu bahwa amal-amalnya tak
akan sirna begitu saja laksana debu yang ditiup angin. Manurut Ibn Al-Jauzy
dalam nasihatnya, Kecendrungan nafsu mengikuti ajakan setan disebabkan oleh dua
hal. Pertama, senang bermalas-malasan. Kedua, senang pujian.
Tercium
sudah faktor apa saja yang menyurutkan tingkat keistiqomahan. Yakni, beribadah
tanpa keihklasan, bermalas-malasan, senang pujian, dan menuruti hawa nafsu. Namun
di sebalik masalah selalu ada jalan keluarnya. Begitu juga yang dinasehatkan
oleh Ibnu Al-Jauzy agar dapat menjadi insan yang lebih baik dan tetap isiqomah
dalam kebaikan :
- Perbanyak diam, untuk meraba keburukan diri.
- Ingatkan diri atas kekeliruan yang diperbuat.
- Lupakan ketaatan, mengingat kelalaian.
- Sampaikan kepada hati bahwa harus segera melepaskan diri dari kemaksiatan.
- Tinggalkan semua penyebab kemaksiatan.
- Lemahkan jiwa dengan rasa lapar (puasa).
- Perangi sikap menunda-nunda.
- Mengingat bahwa ajal tak bisa diperkira.
- Mengisi jiwa dengan kebaikan dan ibadah.
- Ajaklah lisan berzikir untuk mengganti kelalaian.
- Mengenal sirah dan akhlak orang-orang shalih.
- Jadikan ketaatan sebagai tabiat.
“Sesungguhnya mencapai puncak itu sulit,
Tetap bertahan untuk tetap di puncak itu
lebih sulit.”
“Yaa Muqollibal Quluub, tsabbit Qalby ‘alaa
diinika wa thaa’atika”
( Wahai Zat yang Maha membolak-balikan
hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Aamiin )
Semoga bermanfaat.. Dan yang menulis mendapat keberkahan. (Finaafida)
BalasHapusAamiin... ^^
BalasHapus