Senin, 14 Oktober 2013

Istiqomah

Istiqomah berarti setia. Setia kepada sesuatu yang telah menjadi prinsipnya. Tak goyah, tak lengah, semua berjalan secara continue atas dasar kesetiaan. Apakah itu setia kepada agama, setia pada profesi, setia pada pasangan, atau setia pada suatu pekerjaan. Setia memiliki ganjaran yang besar. Karna setia, hasil pun kan diperoleh dengan cuma-cuma.

Namun kuakui, tidak mudah untuk bersikap istiqomah, khususnya pada aktifitas ibadah yang terbilang langka jika dilihat pada lingkungan sekitarnya. Mungkin istiqomah juga bisa disebut disiplin. Sedang disiplin adalah hal yang perlu dilakukan dengan kerja keras, ketelatenan, keteguhan, kerajinan, dan sebagainya. Hingga membentuk suatu tabiat yang tak mudah terlepas, karna sudah menjadi kebiasaan.

Hampir sekitar tujuh tahun lamanya, aku menyandang status sebagai santriwati di sebuah pesantren. Pesantren yang mengajarkan serta mempraktekkan segala amalan yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadis. Segala bentuk ibadah wajib dan sunnah sudah menjadi rutinitas yang enteng untuk dikerjakan para santrinya. Seperti; shalat fardhu, shalat rawatib, shalat tahajud, shalat dhuha, puasa senin kamis, puasa daud, puasa yaumulbit, menghafal Al-Qur’an, menghafal hadis, menghafal doa-doa, dan sebagainya. Meski awalnya adalah sebuah peraturanan formal, namun lama-kelamaan membentuk menjadi sebuah kebiasaan yang tak mudah ditinggalkan. Bukan lagi atas dasar peraturan atau takut mendapat hukuman, melainkan karna ketaatan pada  Allah Ta’ala.

Beriringnya waktu, sampailah pada tahap yang selanjutnya. Yang tidak lagi memungkinkan aku untuk meneruskan perjuangan di pesantren, melainkan di rumah bersama keluarga. Cukup kaget awalnya, ketika menghadapi berbagai macam godaan di rumah, mulai dari televisi, handphone, internet, dan lain-lain yang seringkali menghalangiku melaksakan rutinitas sebagaimana di pesantren dulu. Padahal dari awal sudah ditekadkan, di manapun dan kapanpun berada, rutinitas itu harus berjalan seperti biasanya. Tapi ternyata, tak semudah yang kubayangkan, gejolak nafsu yang selalu ingin ini dan itu tak lekas terlumpuhkan dengan ayat-ayat yang cinta yang biasa kujadikan senjata. Astaghfirullah… begini rasanya, tatkala setan berhasil membujuk manusia untuk berpaling dari perintah Tuhannya.

Terlintas di benakku suatu ayat, “Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah…” (Fushilat:36) kemudian ditegaskan lagi oleh ayat yang lain, “Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (Az-Zukhruf:62)

Maha benar Allah yang Maha Agung, semoga Dia berkenan melindungi kita dari segala jenis godaan dan bisikan jahat dari syetan yang terkutuk. Tapi, apakah bisa sepenuhnya menyalahkan setan? Sedangkan menggoda manusia adalah profesinya hingga hari kiamat kelak, dan telah disetujui oleh Allah dengan catatan : “kecuali hamba-hamba-Ku yang ikhlas”. Ikhlas? Hm, mungkin itu yang menjadi kendalanya. Yang jika tanpanya maka syetan akan leluasa mengelabui manusia, dan membuatnya berpaling dari beribadah kepada Allah. 

Ikhlas, suatu perkara yang sebetulnya hanya jiwa dan Allah sahaja yang mengetahui. Imam Ibnu Al-Jauzy berkata, “Manusia harus sadar bahwa ada Zat yang Maha Membalas perbuatan dosa. Manusia pun harus sadar bahwa tiada berguna dinding yang ia jadikan benteng untuk bersembunyi. Ia pun harus tahu bahwa amal-amalnya tak akan sirna begitu saja laksana debu yang ditiup angin. Manurut Ibn Al-Jauzy dalam nasihatnya, Kecendrungan nafsu mengikuti ajakan setan disebabkan oleh dua hal. Pertama, senang bermalas-malasan. Kedua, senang pujian.

Tercium sudah faktor apa saja yang menyurutkan tingkat keistiqomahan. Yakni, beribadah tanpa keihklasan, bermalas-malasan, senang pujian, dan menuruti hawa nafsu. Namun di sebalik masalah selalu ada jalan keluarnya. Begitu juga yang dinasehatkan oleh Ibnu Al-Jauzy agar dapat menjadi insan yang lebih baik dan tetap isiqomah dalam kebaikan : 
  1. Perbanyak diam, untuk meraba keburukan diri.
  2. Ingatkan diri atas kekeliruan yang diperbuat.
  3. Lupakan ketaatan, mengingat kelalaian.
  4. Sampaikan kepada hati bahwa harus segera melepaskan diri dari kemaksiatan.
  5. Tinggalkan semua penyebab kemaksiatan.
  6. Lemahkan jiwa dengan rasa lapar (puasa).
  7. Perangi sikap menunda-nunda.
  8. Mengingat bahwa ajal tak bisa diperkira.
  9. Mengisi jiwa dengan kebaikan dan ibadah.
  10. Ajaklah lisan berzikir untuk mengganti kelalaian.
  11. Mengenal sirah dan akhlak orang-orang shalih.
  12. Jadikan ketaatan sebagai tabiat.

“Sesungguhnya mencapai puncak itu sulit,
Tetap bertahan untuk tetap di puncak itu lebih sulit.”

“Yaa Muqollibal Quluub, tsabbit Qalby ‘alaa diinika wa thaa’atika”
( Wahai Zat yang Maha membolak-balikan hati, tetapkanlah hatiku pada agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu. Aamiin )

2 komentar: