Rabu, 16 Oktober 2013

Sahabat




“Di awal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita...” (1)

Tiba-tiba syair itu mengalun begitu saja dalam benakku, tepat saat setelah seorang sahabat mengirimkan foto kami semasa SMA dua tahun lalu. Kuperhatikan satu-persatu sosok yang berpose di sana, mengenakan pakaian putih abu-abu yang hanya bisa kami pakai ketika Ujian Nasional berlangsung, tentu saja hanya seminggu dalam tiga tahun. Hihi.. suka geli sendiri jika mengingatnya. Padahal butuh waktu berminggu-minggu untuk menunggu pesanan jahitan seragam itu selesai. Memang, saat itu pesantren kami belum memiliki fasilitas buat para santri yang hendak ujian  untuk kelulusan. Maka dari itu, sekolah kami sementara menginduk di sebuah Madrasah swasta nan sederhana, khusus untuk Ujian Nasional saja. So, kalau kata orang-orang “lebih asyik tanpa UN”, namun bagi kami sebaliknya, yaitu “sungguh asyik ketika UN” hihi.. ^_^

Hm, kucoba putar lagu itu seluruhnya. Kudengar dengan sangat seksama, kutelusuri bait-bait mesranya, dan.. “tes..” lagi-lagi aku mendadak melankolis. Cepat-cepat kuusap air mataku dengan ujung jilbab yang kukenakan sebelum orang lain melihat adegan ini (hehe lebay). Nasyid ini cukup bersejarah bagi kebersamaan kami selama di perantauan. 




“Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridho-Nya...” (2)

Suatu waktu, kami pernah menghayal bisa dipersatukan dalam satu kamar, satu kegiatan, satu amanah, dan satu perjuangan. Hingga beriringnya waktu, tak terasa satu-persatu di antara kami berhasil menyelesaikan target yang memungkinkan bagi kami untuk berada pada satu kegiatan, satu amanah, satu perjuangan, dan satu kamar tentunya. Benar, aku dan sahabat-sahabatku dipercaya untuk berkhidmah di pesantren, guna membantu mengajarkan adik-adik santri untuk menghafal Al-Qur’an. Sungguh bahagia, dan menentramkan jiwa.

Tapi beginilah hidup, terlalu sepi jika tak dihiasi oleh sedikit kekacauan ataupun ketidakharmonisan. Meski kebersamaan kami dalam satu atap sudah berjalan lama, namun cekcok antara kita masih sering terjadi. Apakah itu karna kesalahpahaman, keegoisan, kecemburuan, dan lain sebagainya. Namun di mata kami sahabat tetaplah sahabat. Mungkin saat itu tak ada yang lebih berharga daripada persahabatan. Bahkan meski tanpa berjabat tangan, kami sudah bisa bersenda gurau kembali.








“Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di syurga...” (3)

Ah,, kenapa lagunya hanya tiga bait saja, seolah perjalanan bersama sahabat sesingkat alunan musik sigma ini. Tapi, perhatikan liriknya, di manapun ia dipisahkan akan tetap mampu disatukan dengan untaian doa tulus yang terus mengalir menghiasi ekspresi kerinduan.

Dan sedikit demi sedikit di antara kami pun keluar meninggalkan pesantren tercinta, rumah masa kecil  kami, sekolah kami, pembentuk pribadi kami, pengukir akhlak kami, pelengkap sejarah hidup kami, pewujud impian kami, serta penumbuh kecintaan kami pada Ilahi Rabbi. Guna meneruskan perjuangan selanjutnya, yang mengharuskan keadaan kami berpisah, untuk sementara. Hingga nanti dipertemukan kelak, di syurga Firdaus-Nya :)




“Ukuwah yang terbina persis sekuntum bunga
Yang meski kini kita terpisah demi kasih-Nya
Namun cebisan kenangan kita sentiasa bermain di bayangan mata
       Detik waktu yang berlalu menjadi memori kau dan aku...”   

((*Secuap curahan hati, Just for U ^_^))



Tidak ada komentar:

Posting Komentar