“Di awal kita bersua
Mencoba untuk saling memahami
Keping-keping di hati terajut dengan indah
Rasakan persaudaraan kita...” (1)
Tiba-tiba
syair itu mengalun begitu saja dalam benakku, tepat saat setelah seorang
sahabat mengirimkan foto kami semasa SMA dua tahun lalu. Kuperhatikan
satu-persatu sosok yang berpose di sana, mengenakan pakaian putih abu-abu yang
hanya bisa kami pakai ketika Ujian Nasional berlangsung, tentu saja hanya seminggu
dalam tiga tahun. Hihi.. suka geli sendiri jika mengingatnya. Padahal butuh
waktu berminggu-minggu untuk menunggu pesanan jahitan seragam itu selesai. Memang,
saat itu pesantren kami belum memiliki fasilitas buat para santri yang hendak ujian
untuk kelulusan. Maka dari itu, sekolah
kami sementara menginduk di sebuah Madrasah swasta nan sederhana, khusus untuk
Ujian Nasional saja. So, kalau kata orang-orang “lebih asyik tanpa UN”, namun
bagi kami sebaliknya, yaitu “sungguh asyik ketika UN” hihi.. ^_^
Hm,
kucoba putar lagu itu seluruhnya. Kudengar dengan sangat seksama, kutelusuri
bait-bait mesranya, dan.. “tes..” lagi-lagi aku mendadak melankolis. Cepat-cepat
kuusap air mataku dengan ujung jilbab yang kukenakan sebelum orang lain melihat
adegan ini (hehe lebay). Nasyid ini cukup bersejarah bagi kebersamaan kami
selama di perantauan.
“Dan masa pun silih berganti
Ukhuwah dan amanah tertunaikan
Berpeluh suka dan duka kita jalani semua
Semata-mata harapkan ridho-Nya...” (2)
Suatu
waktu, kami pernah menghayal bisa dipersatukan dalam satu kamar, satu kegiatan,
satu amanah, dan satu perjuangan. Hingga beriringnya waktu, tak terasa
satu-persatu di antara kami berhasil menyelesaikan target yang memungkinkan
bagi kami untuk berada pada satu kegiatan, satu amanah, satu perjuangan, dan
satu kamar tentunya. Benar, aku dan sahabat-sahabatku dipercaya untuk
berkhidmah di pesantren, guna membantu mengajarkan adik-adik santri untuk
menghafal Al-Qur’an. Sungguh bahagia, dan menentramkan jiwa.
Tapi
beginilah hidup, terlalu sepi jika tak dihiasi oleh sedikit kekacauan ataupun
ketidakharmonisan. Meski kebersamaan kami dalam satu atap sudah berjalan lama,
namun cekcok antara kita masih sering terjadi. Apakah itu karna kesalahpahaman,
keegoisan, kecemburuan, dan lain sebagainya. Namun di mata kami sahabat
tetaplah sahabat. Mungkin saat itu tak ada yang lebih berharga daripada
persahabatan. Bahkan meski tanpa berjabat tangan, kami sudah bisa bersenda
gurau kembali.
“Sahabat tibalah masanya
Bersua pasti ada berpisah
Bila nanti kita jauh berpisah
Jadikan rabithah pengikatnya
Jadikan doa ekspresi rindu
Semoga kita bersua di syurga...” (3)
Ah,,
kenapa lagunya hanya tiga bait saja, seolah perjalanan bersama sahabat
sesingkat alunan musik sigma ini. Tapi, perhatikan liriknya, di manapun ia dipisahkan
akan tetap mampu disatukan dengan untaian doa tulus yang terus mengalir menghiasi
ekspresi kerinduan.
Dan
sedikit demi sedikit di antara kami pun keluar meninggalkan pesantren tercinta,
rumah masa kecil kami, sekolah kami,
pembentuk pribadi kami, pengukir akhlak kami, pelengkap sejarah hidup kami,
pewujud impian kami, serta penumbuh kecintaan kami pada Ilahi Rabbi. Guna meneruskan
perjuangan selanjutnya, yang mengharuskan keadaan kami berpisah, untuk sementara.
Hingga nanti dipertemukan kelak, di syurga Firdaus-Nya :)
“Ukuwah yang terbina persis sekuntum bunga
Yang meski kini kita terpisah demi kasih-Nya
Namun cebisan kenangan kita sentiasa bermain di
bayangan mata
Detik
waktu yang berlalu menjadi memori kau dan aku...”
((*Secuap curahan hati, Just for U ^_^))






Tidak ada komentar:
Posting Komentar