Sabtu, 21 September 2013

Sejernih Cinta Lisa


Cinta
Katanya fitrah manusia
Anugrah dari yang Maha Esa
Setiap insan yang memiliki hati nurani
pasti merasai keajaiban cinta
Apakah itu kepada Sang Pemberi cinta
Atau kepada keluarga
Kepada teman dan sahabat
Juga kepada yang terkhusus,
Yang terpilih untuk dicinta

Cinta
Hingga tak cukup kata tuk memaknainya
Beribu bahasa di dalamnya
Bercampur aduk,
Membentuk rasa yang tak tersisa
Ada, dan semakin ada
Jika tiada,
Maka itu hanya dusta

Hati ini, sulit mendefinisikan cinta di dalamnya. Meski terasa, namun tak terungkap oleh kata-kata. Mungkin seperti bunga, saat ia merona, merekahkan kelopaknya, memancarkan pesona keindahannya, memenuhi warna pada tiap pelupuk mata yang memandangnya, mendamaikan siapa saja yang memerhatinya, seolah sedang berada di puncak kemekarannya. Tapi, mungkinkah? Sedangkan bunga memiliki saat di mana ia akan layu, mengguguri kelopak yang pernah mempercantiknya itu, memudarkan aroma keharumannya seperti dulu, mematahkan batang dedaunan, yang dahulu melengkapi wujud keindahan. Ah, seperti itukah cinta? Tidak! aku tidak ingin begitu, egoku memaksa cinta untuk terus mekar selamanya, tanpa harus melewati musim gugur yang merusak keindahan bunga-bunga cinta.

Kata-kata itu terus bertempur meresahkan hati Lisa. Gadis berkerudung biru itu masih terisak di dalam kamarnya, setelah ia mengetahui Kang Ahmad baru saja menemui kedua orang tuanya tadi pagi. Lisa sudah menduga sebelumnya, bahwa Ayah dan Ibu tidak akan menerima lamaran Ahmad.
“Ahmad itu masih terlalu muda nak, kalau dia mau, dia bisa menunggumu sampai lulus kuliah kan?” kata ibu menatap lekat wajah sembab Lisa.
Padahal Lisa sudah berusaha menyembunyikan kekecewaannya di depan sang Ibu, tapi Ibu selalu tau apa yang tersirat tentang hatinya.
“Kalau dia ngga mau nunggu juga ngga papa kok bu.” balas Lisa sambil memalingkan wajahnya.
“Ibu cuma mau kamu belajar dulu, sarjana dulu, setelah itu Ibu izinkan kamu menikah.” kata Ibu dengan lembut.
“Iya bu.” Singkatnya. Padahal batinnya tak begitu setuju dengan ucapan Ibu.
Apa setelah menikah berarti tak bisa meneruskan pendidikan? bisiknya dalam hati.
“Maksud Ibu bukan tak bisa belajar setelah menikah, tapi konsentrasimu akan terganggu dengan urusan keluarga.” Tegas Ibu membaca pikiran Lisa.

Lisa berlalu, ia tidak ingin membuat konflik dengan Ibunya. Sakit hatinya masih terasa sangat ngilu, dirinya pun belum bisa menerima keputusan dari sang Ibu. Dia sangat mencintai Ahmad. Namun, sepertinya Ibu tidak begitu menyukai Ahmad - seorang ustad dari sebuah pesantren ternama di Ibu kota, setelah Ibu tahu mereka berdua belum sama sekali bertemu, namun sudah sangat dekat. Memang, awalnya Lisa dan Ahmad berjumpa di dunia maya, tiada lain hanya sebatas pertemanan di jejaring sosial. Hingga sampai saat itu, setelah Lisa memberikan nomor handphone nya kepada Ahmad, Ahmad berniat untuk datang ke rumahnya, menemui kedua orang tuanya.

***

Siang hari di kampus, Lisa menceritakan semuanya perihal kegalauan yang tengah ia rasakan kepada Nur, teman dekatnya sejak awal mereka kuliah. Nur selalu bisa menjadi pendengar setia Lisa. Tidak hanya itu, Nur sangat bijak memberikan solusi-solusi atas permasalahan sahabatnya itu.
“Kamu sudah istikhoroh?” Tanya Nur serius.
“Sudah. Baru tiga kali sih, tapi aku yakin dengan dia.” Jawab Lisa sambil menyeka air matanya sedikit mengalir.
“Loh, tapi kamu belum sekalipun menemuinya kan?” lanjut Nur menyerongkan badan mengadap Lisa.
“Aku sendiri gak paham nur. Hanya saja dia sangat baik. Tanpaku melihatnya intuisi ini sudah bisa menilai bahwa dia lelaki yang cocok.”
“Kamu sudah katakan ini kepada orang tua? Kamu sudah utarakan semuanya?”
“Belum nur, aku ga bisa terus terang pada mereka.”
“Hhh…Lisa, bagaimana Ibumu bisa menyetujui kalau kamu gak berani terus terang?”
“Seorang Ibu itu selalu tau isi hati anaknya nur, Apalagi soal beginian, Ibu mana sih yang gak peka, pake harus dikasih tau dulu baru ngerti!” Kata Lisa sebal.
“Istighfar sa! pasti beliau punya alasan yang tepat, Ibu itu selalu ingin yang terbaik buat anaknya.” Tekas nur membela.
“Iya, seperti yang kuceritakan tadi, beliau ingin agar aku menyelesaikan studiku ini. Ibu khawatir setelah aku menikah maka kuliahku akan terbengkalai.”
“Yasudah, turuti saja kata Ibumu. Selagi beliau masih ada, dan kamu belum milik orang lain, kapan lagi kau akan membahagiakannya? Yang Ikhlas ya Lisa, kalau jodoh gak kemana kok.” Kata Nur menguati Lisa yang sedari tadi membendung butiran di matanya.
“Baik nur, makasih ya.” Lirihnya sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan pulang, ucapan Nur tadi masih terngiang dalam hati dan pikirannya. “Sepertinya Nur benar, kalau tidak sekarang, kapan lagi aku membahagiakan kedua orang tuaku?” Lisa membatin. Kedua orang tuanya memang sangat saklek kalau soal pendidikan, khususnya sang Ibu. Meski beliau bukan lulusan sarjana, namun disiplinnya terhadap Ilmu sangat menggelora. Jika saja masa mudanya tak ia habiskan hanya untuk bekerja, membanting tulang demi kehidupan keluarganya yang hidup di bawah rata-rata, pastilah saat ini dia telah menyandang gelar di belakang namanya. Karna itu, ia ingin anak semata wayangnya mampu berpendidikan tinggi, hingga kelak sang anak dihormati oleh orang lain, terutama oleh keluarga suaminya nanti.

Pandangan Lisa masih tertuju ke luar jendela angkot yang ia naiki. Ia merasa bersalah, padahal dari awal Ibu sudah sering mewanti-wantinya agar tidak dulu berkenalan secara spesial dengan lelaki manapun. Ibu sudah sering mengingatkannya untuk fokus belajar dan belajar. Tapi, Lisa membuat Ibu kecewa. “Maafkan Lisa bu..” Bisik hatinya.

“Assalamu’alaiakum dek Lisa, maafkan saya, saya tau anti kecewa dan sedih. Saya hanya ingin serius, karna saya menghargai anti sebagai muslimah, maka dari itu saya tidak ingin berlama bermain dengan ketidakpastian ini. Sampaikan salam maaf saya kepada Ayah dan Ibu ya, Wassalam.”
Bunyi pesan dari Kang Ahmad membuyarkan lamunannya. Ia teringat, sebelum Kang Ahmad datang ke rumah, mereka berdua berjanji seandainya orangtua tak mengizinkan, maka setelahnya adalah menjalani kehidupan masing-masing, tanpa ada ikatan yang menggantung hubungan mereka, seperti pacaran. Agak berat bagi Lisa, namun itu sudah menjadi kesepakatan yang menentukan akibat baik buruknya hati mereka. Ahmad memang lelaki yang baik, dia tidak ingin memperburuk kualitas hati wanita yang dicintainya. Walau usianya masih terbilang sangat muda, ia berani mengutarakan keinginannya meminang Lisa untuk dijadikan istrinya. Mungkin saat ini juga terselip rasa resah gelisah di hatinya, kecewa dan takut kehilangan wanita pujaannya, namun lelaki tampan itu tetap tegar, bersikeras atas janji yang telah disepakatinya bersama Lisa.

***

Malam itu Lisa menatap lekat sebuah buku di hadapannya. Buku itu hadiah dari fauliya, seorang sahabat yang sudah hampir dua tahun tak lagi berada di sisinya, ia telah kembali kepada Sang Ilahi. Buku itu berjudul ‘Aku Mencintaimu Karena Allah’ sebagai hadiah di ulang tahun Lisa yang ke 18. Ia meresapi kalimat yang tertulis di cofer buku itu, merenunginya, dan mencari tau kemana arah jalan cintanya.

“Rabb.. mungkin untuk bersamanya dalam waktu dekat ini bukanlah hal yang tepat. Maka tekadku sudah bulat, ingin membahagakan kedua orangtuaku, menyelesaikan terlebih dahulu kuliahku. Tapi, sulit untuk tidak mengakui bahwa hatiku masih mengharapkannya. Desir-desir cinta ini hanya Kau yang mengetahui, jika ini sebagian dari fitrahku, mohon jaga hatiku sampai aku sanggup menghalalkannya. Namun jika ternyata rasa ini hanya sekedar nafsu, mohon Bantu daku tuk mengendalikannya.”  

Malam masih dalam kepekatannya. Lisa berharap dapat menemui hatinya yang baru tuk esok hari, hati yang jernih sejernih tetesan embun, seputih gumpalan awan, dan seindah rembulan yang menyinar di gelapnya malam.


Ah, karnamukah cinta?
Mengubah duka menjadi suka
Menghapus tangis membuat tawa
Meredam benci membentuk sayang
Menghilangi frustasi, mengunggah asa dalam diri     

3 komentar: