Cinta
Katanya fitrah manusia
Anugrah dari yang Maha Esa
Setiap insan yang memiliki hati nurani
pasti merasai keajaiban cinta
Apakah itu kepada Sang Pemberi cinta
Atau kepada keluarga
Kepada teman dan sahabat
Juga kepada yang terkhusus,
Yang terpilih untuk dicinta
Cinta
Hingga tak cukup kata tuk memaknainya
Beribu bahasa di dalamnya
Bercampur aduk,
Membentuk rasa yang tak tersisa
Ada, dan semakin ada
Jika tiada,
Maka itu hanya dusta
Hati
ini, sulit mendefinisikan cinta di dalamnya. Meski terasa, namun tak terungkap
oleh kata-kata. Mungkin seperti bunga, saat ia merona, merekahkan kelopaknya,
memancarkan pesona keindahannya, memenuhi warna pada tiap pelupuk mata yang
memandangnya, mendamaikan siapa saja yang memerhatinya, seolah sedang berada di
puncak kemekarannya. Tapi, mungkinkah? Sedangkan bunga memiliki saat di mana ia
akan layu, mengguguri kelopak yang pernah mempercantiknya itu, memudarkan aroma
keharumannya seperti dulu, mematahkan batang dedaunan, yang dahulu melengkapi
wujud keindahan. Ah, seperti itukah cinta? Tidak! aku tidak ingin begitu, egoku
memaksa cinta untuk terus mekar selamanya, tanpa harus melewati musim gugur
yang merusak keindahan bunga-bunga cinta.
Kata-kata
itu terus bertempur meresahkan hati Lisa. Gadis berkerudung biru itu masih
terisak di dalam kamarnya, setelah ia mengetahui Kang Ahmad baru saja menemui
kedua orang tuanya tadi pagi. Lisa sudah menduga sebelumnya, bahwa Ayah dan Ibu
tidak akan menerima lamaran Ahmad.
“Ahmad
itu masih terlalu muda nak, kalau dia mau, dia bisa menunggumu sampai lulus
kuliah kan?”
kata ibu menatap lekat wajah sembab Lisa.
Padahal
Lisa sudah berusaha menyembunyikan kekecewaannya di depan sang Ibu, tapi Ibu
selalu tau apa yang tersirat tentang hatinya.
“Kalau
dia ngga mau nunggu juga ngga papa kok bu.” balas Lisa sambil memalingkan
wajahnya.
“Ibu
cuma mau kamu belajar dulu, sarjana dulu, setelah itu Ibu izinkan kamu
menikah.” kata Ibu dengan lembut.
“Iya
bu.” Singkatnya. Padahal batinnya tak begitu setuju dengan ucapan Ibu.
Apa
setelah menikah berarti tak bisa meneruskan pendidikan? bisiknya dalam hati.
“Maksud
Ibu bukan tak bisa belajar setelah menikah, tapi konsentrasimu akan terganggu dengan
urusan keluarga.” Tegas Ibu membaca pikiran Lisa.
Lisa
berlalu, ia tidak ingin membuat konflik dengan Ibunya. Sakit hatinya masih
terasa sangat ngilu, dirinya pun belum bisa menerima keputusan dari sang Ibu. Dia
sangat mencintai Ahmad. Namun, sepertinya Ibu tidak begitu menyukai Ahmad - seorang
ustad dari sebuah pesantren ternama di Ibu kota, setelah Ibu tahu mereka berdua belum
sama sekali bertemu, namun sudah sangat dekat. Memang, awalnya Lisa dan Ahmad
berjumpa di dunia maya, tiada lain hanya sebatas pertemanan di jejaring sosial.
Hingga sampai saat itu, setelah Lisa memberikan nomor handphone nya kepada
Ahmad, Ahmad berniat untuk datang ke rumahnya, menemui kedua orang tuanya.
***
Siang
hari di kampus, Lisa menceritakan semuanya perihal kegalauan yang tengah ia
rasakan kepada Nur, teman dekatnya sejak awal mereka kuliah. Nur selalu bisa
menjadi pendengar setia Lisa. Tidak hanya itu, Nur sangat bijak memberikan
solusi-solusi atas permasalahan sahabatnya itu.
“Kamu
sudah istikhoroh?” Tanya Nur serius.
“Sudah.
Baru tiga kali sih, tapi aku yakin dengan dia.” Jawab Lisa sambil menyeka air
matanya sedikit mengalir.
“Loh,
tapi kamu belum sekalipun menemuinya kan?”
lanjut Nur menyerongkan badan mengadap Lisa.
“Aku
sendiri gak paham nur. Hanya saja dia sangat baik. Tanpaku melihatnya intuisi
ini sudah bisa menilai bahwa dia lelaki yang cocok.”
“Kamu
sudah katakan ini kepada orang tua? Kamu sudah utarakan semuanya?”
“Belum
nur, aku ga bisa terus terang pada mereka.”
“Hhh…Lisa,
bagaimana Ibumu bisa menyetujui kalau kamu gak berani terus terang?”
“Seorang
Ibu itu selalu tau isi hati anaknya nur, Apalagi soal beginian, Ibu mana sih
yang gak peka, pake harus dikasih tau dulu baru ngerti!” Kata Lisa sebal.
“Istighfar
sa! pasti beliau punya alasan yang tepat, Ibu itu selalu ingin yang terbaik
buat anaknya.” Tekas nur membela.
“Iya,
seperti yang kuceritakan tadi, beliau ingin agar aku menyelesaikan studiku ini.
Ibu khawatir setelah aku menikah maka kuliahku akan terbengkalai.”
“Yasudah,
turuti saja kata Ibumu. Selagi beliau masih ada, dan kamu belum milik orang
lain, kapan lagi kau akan membahagiakannya? Yang Ikhlas ya Lisa, kalau jodoh
gak kemana kok.” Kata Nur menguati Lisa yang sedari tadi membendung butiran di
matanya.
“Baik
nur, makasih ya.” Lirihnya sambil tersenyum.
Sepanjang
perjalanan pulang, ucapan Nur tadi masih terngiang dalam hati dan pikirannya.
“Sepertinya Nur benar, kalau tidak sekarang, kapan lagi aku membahagiakan kedua
orang tuaku?” Lisa membatin. Kedua orang tuanya memang sangat saklek kalau soal
pendidikan, khususnya sang Ibu. Meski beliau bukan lulusan sarjana, namun
disiplinnya terhadap Ilmu sangat menggelora. Jika saja masa mudanya tak ia
habiskan hanya untuk bekerja, membanting tulang demi kehidupan keluarganya yang
hidup di bawah rata-rata, pastilah saat ini dia telah menyandang gelar di
belakang namanya. Karna itu, ia ingin anak semata wayangnya mampu berpendidikan
tinggi, hingga kelak sang anak dihormati oleh orang lain, terutama oleh
keluarga suaminya nanti.
Pandangan
Lisa masih tertuju ke luar jendela angkot yang ia naiki. Ia merasa bersalah, padahal
dari awal Ibu sudah sering mewanti-wantinya agar tidak dulu berkenalan secara
spesial dengan lelaki manapun. Ibu sudah sering mengingatkannya untuk fokus
belajar dan belajar. Tapi, Lisa membuat Ibu kecewa. “Maafkan Lisa bu..” Bisik
hatinya.
“Assalamu’alaiakum
dek Lisa, maafkan saya, saya tau anti kecewa dan sedih. Saya hanya ingin
serius, karna saya menghargai anti sebagai muslimah, maka dari itu saya tidak
ingin berlama bermain dengan ketidakpastian ini. Sampaikan salam maaf saya
kepada Ayah dan Ibu ya, Wassalam.”
Bunyi
pesan dari Kang Ahmad membuyarkan lamunannya. Ia teringat, sebelum Kang Ahmad
datang ke rumah, mereka berdua berjanji seandainya orangtua tak mengizinkan,
maka setelahnya adalah menjalani kehidupan masing-masing, tanpa ada ikatan yang
menggantung hubungan mereka, seperti pacaran. Agak berat bagi Lisa, namun itu
sudah menjadi kesepakatan yang menentukan akibat baik buruknya hati mereka.
Ahmad memang lelaki yang baik, dia tidak ingin memperburuk kualitas hati wanita
yang dicintainya. Walau usianya masih terbilang sangat muda, ia berani
mengutarakan keinginannya meminang Lisa untuk dijadikan istrinya. Mungkin saat
ini juga terselip rasa resah gelisah di hatinya, kecewa dan takut kehilangan
wanita pujaannya, namun lelaki tampan itu tetap tegar, bersikeras atas janji
yang telah disepakatinya bersama Lisa.
***
Malam
itu Lisa menatap lekat sebuah buku di hadapannya. Buku itu hadiah dari fauliya,
seorang sahabat yang sudah hampir dua tahun tak lagi berada di sisinya, ia
telah kembali kepada Sang Ilahi. Buku itu berjudul ‘Aku Mencintaimu Karena
Allah’ sebagai hadiah di ulang tahun Lisa yang ke 18. Ia meresapi kalimat yang
tertulis di cofer buku itu, merenunginya, dan mencari tau kemana arah jalan
cintanya.
“Rabb..
mungkin untuk bersamanya dalam waktu dekat ini bukanlah hal yang tepat. Maka tekadku
sudah bulat, ingin membahagakan kedua orangtuaku, menyelesaikan terlebih dahulu
kuliahku. Tapi, sulit untuk tidak mengakui bahwa hatiku masih mengharapkannya. Desir-desir
cinta ini hanya Kau yang mengetahui, jika ini sebagian dari fitrahku, mohon
jaga hatiku sampai aku sanggup menghalalkannya. Namun jika ternyata rasa ini
hanya sekedar nafsu, mohon Bantu daku tuk mengendalikannya.”
Malam
masih dalam kepekatannya. Lisa berharap dapat menemui hatinya yang baru tuk esok
hari, hati yang jernih sejernih tetesan embun, seputih gumpalan awan, dan
seindah rembulan yang menyinar di gelapnya malam.
Ah, karnamukah cinta?
Mengubah duka menjadi suka
Menghapus tangis membuat tawa
Meredam benci membentuk sayang
Menghilangi frustasi, mengunggah asa dalam
diri
< fiksi >
BalasHapusAku ingin cinta yang halal, dimata dunia juga akhirat... :)
BalasHapuskumenanti cinta... ^_^
BalasHapus