Senin, 16 September 2013

Inspirasi, where are U ?

Siang yang sejuk. Tepat di depan mataku sebuah pemandangan asri nan indah, diiringi musik gamelan dengan sindennya yang menyenandung sedari tadi. Aku bukan sedang berada di tempat wisata, melainkan di sebuah Rumah Sakit di puncak kota Purwakarta. Nenekku dinyatakan terkena kanker stadium akhir. Sambil membawa tumpukan tugas kuliahku, kami sekeluarga dari rumah pun datang untuk merawat beliau.

Pandanganku masih tertuju pada perbukitan di depan ruang inap nenek, dengan berbagai ranting tanaman yang menghiasi gazebo-gazebo mungil itu. Menerawang, sembari mencari inspirasi untuk karya yang akan kukumpulkan sebagai syarat menjadi anggota Forum Lingkar Pena di kampusku. “ah..” kukira menulis tak serumit ini. Tiap kali kumemulainya, bahkan hingga hampir selesai, selalu saja ada bisikan kecil yang menyinggung bahwa itu bukan cerita yang menarik untuk kujadikan karya. Hingga “Back Space” di keyboard laptopku yang akhirnya menjadi langganan ketukan jemariku.

“Nak..” sahut ibuku dari dalam kamar. “kemarilah! Pijit dulu kaki mbah uti, sambil didoakan supaya lekas sembuh” aku mendekati nenekku yang tengah tergeletak lemah di ranjang kayu beralas kasur putih. Aku tahu, penyakitnya bukanlah yang mudah disembuhkan, namun ibuku selalu menghiburnya agar ia tak terbebani dengan penyakit yang belum diketahuinya itu. Kusentuh kakinya, kulit betisnya masih bersih dan putih, persis seperti warna kulit orang belanda, hanya saja gelombang keriput telah memenuhi kulit tuanya.

Tanganku masih memijat-mijat kakinya yang semakin kurus itu. Tiba-tiba pikiranku melayang, membayangkan jika di suatu hari nanti akulah orang yang akan meniduri kasur ini, tergeletak lemah tak berdaya, hanya tinggal menunggu ajal saja. “Ya Rabb..” lirihku. Aku tak tahu sampai kapan umurku di dunia ini. Kuharap sebelum ajal menjemputku, sebelum malaikat Izrail mendapat tugas untuk mencabut nyawaku, sisa nafas ini masih terus untuk mendayu berzikir menyebut asma-Mu. “Dek..!” suara kakakku membuyarkan bayang-bayang sendu itu “keluar yuk, liat-liat pemandangan” kulirik wajah nenekku, ia sudah tertidur. Semoga di alam mimpinya ia tak membawa rasa sakit yang sedang menjalar di sekujur tubuhnya.

***
Aku berlari menaiki tangga-tangga batu menuju ke kamar, untuk memperbaiki jilbab segi empat putihku yang sudah tak karuan posisinya, beberapa helai rambut juga sudah muncul dari balik kain itu. “ceklek..!” kubuka pintu perlahan, Ada ibu dan nenekku yang sedang duduk di kursi rodanya, dengan mukenah yang masih menempel menutup rapi seluruh tubuhnya. Lantunan Al-Qur’an dari sebuah stasiun televisi ikut menyejukkan ruangan ini. “hidup ini kaya mimpi ya..tiba-tiba sudah di atas kursi roda” sahut nenekku. Kami hanya tersenyum mendengarnya. “drrrt..drrt..” si Samsung bergetar dari balik saku gamisku, menandakan ada pesan datang. “ya, ndak apa-apa dek, semoga neneknya lekas sembuh ya, salam untuk keluarga semua :)” begitulah bunyi teks sms balasan dari seorang teman liqo’ku. Seharusnya pertemuan kami hari ini diadakan di rumahku. Tapi aku berhalangan karna kondisi nenekku yang sudah sedemkian rupa.

Aku kembali keluar dengan membawa laptopku, menuju pada sebuah bangku yang terbuat dari semen berukiran batang pohon. “klik” kupencet tombol power di Asus mungil itu, kusentuh pointernya dan menuntunnya membuka Microsoft Office Word. Kutatap kertas putih di dalam layar berukuran kecil, sambil tersenyum dan… “aha..!” sekarang aku tau apa akan kutulis. Agaknya pemandangan di sekitarku yang membuat otak ini merayap menelusuri alang-alang, menemukan inspirasi yang dari tadi sembunyi entah di mana. Oke… akan kucoba membagi kisah hikmah di hari ini, esok, hingga seterusnya. Sampai jemari ini mudah dan terbiasa memainkan susunan kata dan kalimatnya, lalu menuangkan beberapa cerita pendeknya.

Selesai.

1 komentar: