Pandanganku masih
tertuju pada perbukitan di depan ruang inap nenek, dengan berbagai ranting
tanaman yang menghiasi gazebo-gazebo mungil itu. Menerawang, sembari mencari
inspirasi untuk karya yang akan kukumpulkan sebagai syarat menjadi anggota
Forum Lingkar Pena di kampusku. “ah..” kukira menulis tak serumit ini. Tiap
kali kumemulainya, bahkan hingga hampir selesai, selalu saja ada bisikan kecil
yang menyinggung bahwa itu bukan cerita yang menarik untuk kujadikan karya. Hingga
“Back Space” di keyboard laptopku yang akhirnya menjadi langganan ketukan
jemariku.
“Nak..” sahut
ibuku dari dalam kamar. “kemarilah! Pijit dulu kaki mbah uti, sambil didoakan
supaya lekas sembuh” aku mendekati nenekku yang tengah tergeletak lemah di
ranjang kayu beralas kasur putih. Aku tahu, penyakitnya bukanlah yang mudah
disembuhkan, namun ibuku selalu menghiburnya agar ia tak terbebani dengan
penyakit yang belum diketahuinya itu. Kusentuh kakinya, kulit betisnya masih
bersih dan putih, persis seperti warna kulit orang belanda, hanya saja
gelombang keriput telah memenuhi kulit tuanya.
Tanganku masih
memijat-mijat kakinya yang semakin kurus itu. Tiba-tiba pikiranku melayang,
membayangkan jika di suatu hari nanti akulah orang yang akan meniduri kasur
ini, tergeletak lemah tak berdaya, hanya tinggal menunggu ajal saja. “Ya
Rabb..” lirihku. Aku tak tahu sampai kapan umurku di dunia ini. Kuharap sebelum
ajal menjemputku, sebelum malaikat Izrail mendapat tugas untuk mencabut
nyawaku, sisa nafas ini masih terus untuk mendayu berzikir menyebut asma-Mu. “Dek..!”
suara kakakku membuyarkan bayang-bayang sendu itu “keluar yuk, liat-liat
pemandangan” kulirik wajah nenekku, ia sudah tertidur. Semoga di alam mimpinya
ia tak membawa rasa sakit yang sedang menjalar di sekujur tubuhnya.
***
Aku berlari
menaiki tangga-tangga batu menuju ke kamar, untuk memperbaiki jilbab segi empat
putihku yang sudah tak karuan posisinya, beberapa helai rambut juga sudah
muncul dari balik kain itu. “ceklek..!” kubuka pintu perlahan, Ada ibu dan nenekku yang sedang duduk di
kursi rodanya, dengan mukenah yang masih menempel menutup rapi seluruh
tubuhnya. Lantunan Al-Qur’an dari sebuah stasiun televisi ikut menyejukkan
ruangan ini. “hidup ini kaya mimpi ya..tiba-tiba sudah di atas kursi roda”
sahut nenekku. Kami hanya tersenyum mendengarnya. “drrrt..drrt..” si Samsung
bergetar dari balik saku gamisku, menandakan ada pesan datang. “ya, ndak
apa-apa dek, semoga neneknya lekas sembuh ya, salam untuk keluarga semua :)”
begitulah bunyi teks sms balasan dari seorang teman liqo’ku. Seharusnya
pertemuan kami hari ini diadakan di rumahku. Tapi aku berhalangan karna kondisi
nenekku yang sudah sedemkian rupa.
Aku kembali keluar
dengan membawa laptopku, menuju pada sebuah bangku yang terbuat dari semen
berukiran batang pohon. “klik” kupencet tombol power di Asus mungil itu,
kusentuh pointernya dan menuntunnya membuka Microsoft Office Word.
Kutatap kertas putih di dalam layar berukuran kecil, sambil tersenyum dan…
“aha..!” sekarang aku tau apa akan kutulis. Agaknya pemandangan di sekitarku
yang membuat otak ini merayap menelusuri alang-alang, menemukan inspirasi yang
dari tadi sembunyi entah di mana. Oke… akan kucoba membagi kisah hikmah di hari
ini, esok, hingga seterusnya. Sampai jemari ini mudah dan terbiasa memainkan susunan
kata dan kalimatnya, lalu menuangkan beberapa cerita pendeknya.
Selesai.
NIce... :) lanjutkan ukhty...
BalasHapus