“Drrrtt.. Drrrtt.. Drrrtt.”
HP-ku bergetar dari balik saku seragam batik yang kukenakan. Tiga sms masuk dengan inti pesan yang sama. Mengirimkan doa tulus agar kami selamat dalam perjalanan hingga ke Saudi nanti. Tertulis pula beragam doa yang mereka pinta untuk kami panjatkan kepada-Nya di depan rumah-Nya yang persegi, serta di sisi makam hamba-Nya yang paling mulia. Ialah Ka’bah dan Raudhah.
Bus melaju cukup cepat. Menghantarkan rombongan kami sampai ke muka Bandara Radin Inten Lampung. Setelah check-in dan prosedur lainnya telah usai kami lakukan, maka tiba waktunya aku, dan kedua sahabatku menaiki pesawat untuk yang pertama kalinya. Lalu melesatlah benda raksasa itu hingga menembus gumpalan awan, terbang menjauh dari daratan yang sungguh amat rupawan jika dilihat dari ketinggian. Betapa takjub kami memandanginya, seraya mengucap syukur berjuta kali dalam hati, atas karunia yang Ia hadiahkan untuk kami.
***
“Hadirin yang kami hormati, mari kita panggilkan, tiga Wisudawati terbaik dari Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an, Al-Huffazh,” Suasana riuh di acara wisuda siang itu lengang seketika. Para hadirin, tak terkecuali peserta wisudawati, memasang telinga mereka dengan saksama, menanti tiga nama yang akan dipanggil oleh sang pembawa acara.
“Wisudawati dengan nama Hafizha Fillah, Fauliya Shalihah, dan Nisfah Fadhilah, dimohon agar menaiki panggung,” jantungku berdegup kencang saat mendengar namaku disebut pertama kali oleh pembawa acara itu. Puluhan pasang mata para wisudawati yang lain tertuju ke arah kami bertiga, yang ketika itu duduk bersebelahan.
sorak-sorai tepuk tangan dimeriahkan oleh para hadirin yang menyaksikan. Ada semburat senyum bahagia yang terlontar dari bibir kedua orang tuaku yang berada di antara tamu undangan, tatkala kami bertiga telah sampai di podium. Aku dan kedua sahabatku disambut oleh Kyai Pondok beserta para Asatidz yang lebih dahulu sampai ke atas panggung. Sebuah map disodorkan oleh Kyai kepadaku, juga kedua sahabatku, yang kami sama-sama belum mengetahui apa isi di dalamnya. Hingga sambutan yang diutarakan oleh Kyai sesaat setelah kami bertiga kembali ke tempat duduk, membuat hatiku tersentak tak percaya. Mataku menoleh cepat ke arah panggung, tercengang mendengar sepatah kata yang baru saja beliau sampaikan. Buru-buru kami bertiga membuka isi map. Ada secarik kertas di dalamnya. Allahu Akbar. Tertera tulisan di atasnya dengan huruf Kapital “HADIAH UMRAH WISUDAWATI TERBAIK”.
Ada binar di mataku kala itu. Dan bulirnya pun membendung.

***
Angin malam menampar pipiku tepat ketika kaki melangkah menuruni tangga pesawat. Rombongan kami telah tiba di kota Jeddah setelah hampir sepuluh jam lamanya duduk di dalam Garuda Indonesia, seraya mengisi waktu dengan tadarus. Selepasnya kami pun langsung dijemput oleh bus menuju kota suci Madinah Al-Munawwarah. Makin lama hati ini kian berdesir kegirangan. Ada campur aduk rasa yang membahana dalam jiwa. Di samping bahagia, kecemasan jua terngiang membentuk tanya dalam benakku, ‘Akahnkah diberkahi? Akankah diridhai?’
“Bangun, Nak. Lihat jendela sebelah kanan,” Ustazahku, yang juga turut serta dalam perjalanan ibadah ini menepuk pundakku yang sedang terlelap di bus. Lekas kepalaku menoleh ke arah kanan. Mataku masih sedikit berkabut. Aku memilih beringsut dari tempat duduk dan menuju kursi kedua sahabatku, nisfah dan fauliya, yang berada tepat di sisi jendela kanan.
“Subhanallah!” Decak kekaguman bersamaan terlontar dari bibir kami, saat berpuluh pasang mata sama-sama tengah terpana memandang bangunan Masjid nan megah yang sedang dilintasi bus dengan sangat perlahan.
Burung-burung pun tak kalah ramai menikmati panorama keindahan laksana bangunan syurga yang bertapak di dunia. Sesekali segerombol burung-burung itu mengepakkan sayap mereka, berterbangan, mempersilahkan para jama’ah yang hendak lewat untuk ke Masjid. Tiang-tiang berpayung elektrik yang melebar dan menguncup secara otomatis pun turut memperindah Majid berkubah hijau itu. Hatiku kian melonjak-lonjak tak sabar ingin segera berlari meraih keutamaan yang tersedia di dalamnya.
***
“Labbaikallâhumma labbaîk, labbaika lâ syarîka laka labbaîk..”
Lafaz talbiyah terus saja menggema dalam kumandang. Seluruh rombongan kami serta para jama’ah umrah dari berbagai negara tengah berduyun mengayunkan kaki, melangkah bersama menuju Ka’bah yang berada di dalam Masjidil Haram. Air mataku telah berhasil mengubah pipi menjadi sembab, bersamaan dengan bibir yang mengirama, serta hati yang telah sepenuhnya siap menjalani inti dari perjalananku ini.
Baru saja kedua kaki berhasil memasuki Masjid yang indah menjulang, mendadak air mataku jatuh dengan deras. Terlihat bangunan hitam persegi yang kokoh tengah berdiri gagah di hadapanku. Sontak saja Fauliya, sahabatku yang sejak perjalanan tadi menggandeng tanganku, memelukku dengan erat. Sehingga Nisfa, yang melihat kami berpelukan pun turut menyusul. Kami bertiga tenggelam dalam isak tangis yang menggetarkan.
Tersimpan takjub dalam hatiku. Selaksa pengembaraan batin ini hanya sebuah hayalan yang mungkin akan terwujud saat keriput nanti. Namun tanpa dinyana, Dia bersedia mengundangku dan kedua sahabatku meraih kenikmatan ibadah yang tiada tara di tanah haram ini, kendati tanpa modal sepeserpun yang harus kami keluarkan. Lantas, sekelabat bayangan seseorang hadir di pupil mataku, tiada lain adalah guru kami yang kala itu pernah bertutur bahwa, ‘Al-Qur’an-lah yang akan membawamu, kemanapun engkau mau’.

(Terimakasih untuk semua yang telah mengupayakan)
*True Story berpoles fiksi*
Wah pengalaman yg gakan kemlupain yaa, lanjut kmna skrg stlh lulus??
BalasHapus