Buku dengan tebal 210 halaman ini menjelaskan panjang lebar, mengenai seluk-beluk perjalanan hidup seorang putri Rasulullah SAW. Yang mana urgensi keberadaannya mengubah sekaligus menjadikan peradaban hebat bagi umat manusia terkhusus kaum wanita. Jika masa jahiliyah dahulu wanita dijadikan makhluk yanag hina dina oleh kaum lelaki, maka kehadiran Fathimah di tengah Rasulullah adalah sebaliknya. Beliau amat sangat bangga memiliki putri seorang Fathimah.
Setelah melewati berbagai cobaan dan rintangan; menerima boikot dari kafir Quraisy sejak usianya yang baru tiga tahun, kemudian ditinggal mati sang ibunda, dikucilkan lingkungn sekitarnya, hingga beliau serta keluarga hijrah ke Madinah. Allah pun menikahkan Fathimah, putra Rasul itu dengan pemuda gagah nan sederhana, sholeh dan berbudi luruh, yakni Ali bin Abi Thalib, sepupu ayahnya sendiri yang telah masuk agama Islam sejak kecil, yang tergolong assabiqun al-awwalun.
Kehidupan barunya bersama Ali amat sangat harmonis, meski berada dalam kesederhanaan. Ada cinta yang bersemi antara mereka. Apalagi setelah Nabi mengutarakan kepada masing2 mereka tentang keutamaan pasangan mereka, Fathimah makin cinta pada Ali dan Ali pun sebaliknya. Hingga selang beberapa bulan setelah pernikahannya, keluarga mereka dikaruniai anak bernama Hasan, lalu menyusul Husein, Zainab dan Ummu kultsum.
Saat setelah melahirkan bayi Husein, Rasulullah bersedih. Karena melihat tanda-tanda tidak baik pada ummat di masanya, setelah Nabi, Fathimah dan Ali meninggal. Akan ada pertumpahan darah dan mengakibatkan kematian tragis yang menimpa Husein. Fathimah ikut menangis karena ucapan Nabi.
Tahun-tahun pun berlalu, masa kejayaan Islam akhirnya kian gemilang sebagai buah tangan Nabi dan sahabatnya, juga Fathimah, anaknya. Masyarakat Arab semakin banyak yang memeluk agama Islam secara kaffah. Kepemimpinan yang diatur oleh beliau mencapai keberhasilan.
Hingga akhirnya tibalah hari, dimana Nabi akan berpisah dengan Fathimah, juga umat manusia seluruhnya di bumi. Tibalah hari terakhir beliau menunaikan Ibadah haji yang terakhir serta dakwahnya yang terakhir. Di dalam dakwahnya beliau berpesan bahwa setelah kepergiannya, warisan yang ia berikan kepada ummat ialah al-qur’an dan sunnah, beserta ahlul baitnya. Sehingga Beliau mempercayakan Ali, menantunya itu untuk menggantikan posisinya.
Belum sempat beliau dikebumikan, kaum muhajirin dan anshar sudah membuat konspirasi untuk membaiat Abu Bakar ash-Shidiq sebagai khalifah pertama. Betapa terkejut Fathimah dan Ali, hingga terjadilah perang saudara tanpa senjata antara mereka. Fathimah merasa Kaum muslimin dengan cepat meninggalakan mereka sebagai ahlul bait Nabi. Keluarga yang paling dicintai Nabi.
Sepeninggal Nabi, tiada hari tanpa air mata baginya. Selain merindukan sosok Ayah yang tiada tandingnya itu, ia juga menangisi kelakuan Ummat yang sedikit demi sedikit mengabaikan pesan agung dari Ayahnya. Begitulah persepsinya. Sampai ia jatuh sakit berhari-hari dan berbaring lemah di tempat tidur.
Menjelang kematiannya, orang-orang menjenguknya, tak terkecuali khalifah Abu Bakar. Khalifah meminta maaf kepada Fathimah karena telah membuatnya murka dan marah. Sebab Nabi pernah bersabda, “Siapa yang mencintai Fathimah maka aku juga mencintainya, siapa yang membuatnya marah maka aku juga marah padanya.”
Tiada daya, Fathimah sudah sangat kecewa dengan semua ini, dia tau, sepeninggal ayahnya yang kemudian akan disusul olehnya, niscaya peristiwa besar yang tak diharapkan akan segera menempa bertubi-tubi. Ia tidak tega dengan keempat anaknya di hari kemudian kelak. Tapi ia juga amat sangat rindu bertemu dengan Rasulullah di syurga. Maka dengan lembut, Izrail mencabut nyawanya dan suaminya, Ali menguburkannya secara diam-diam di pemakaman yang tidak diketahui siapapun selain dirinya dan beberapa orang saja. Untuk menghindari perbuatan yang tidak diinginkan dari orang-orang zalim disekelilingnya.
Demikianlah. Wanita mulia kini telah tiada. Menyisakan jejak sejarah yang gemilang sepanjang zaman. Wallahua’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar