Jumat, 26 September 2014

Cebisan Kenangan (ditulis hampir dua tahun yang lalu)

Sebelum memulai, jangan lupa baca ‘basmalah’ ya…
“بسم الله الرحمن الرحيم”

Hari ini

Tak terasa usiaku sudah hampir menginjak 19 tahun. Kata orang-orang itu adalah usia anak yang baru menginjak dewasa. Rasanya baru kemarin aku lulus SMP, eh SMA maksudku. Dan sekarang, UAS baru saja berakhir dan aku akan naik kelas semester 2.

Ya, kini aku adalah mahasiswi seperti anak-anak kuliahan yang lain. Tepatnya mahasiswi di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta. Asyik juga, banyak hal-hal baru yang kudapati, seperti; teman baru, guru baru, ilmu baru, suasana baru, dan lain-lain yang serba baru.

Hey…. Ngomongin teman baru, membawaku pada kenangan itu.
Yap, Kenanganku bersama teman lama. Ooh aku jadi ngerasa kangen sekangen-kangennya dengan mereka. Teman semasa aku masih di usia SMA, SMP, bahkan SD. Teman yang tinggal seatap denganku, yang sama-sama berjuang demi cita-cita kami. Tentu saja, mereka selalu membuatku merindu. Rindu yang selalu memaksa untuk bertemu.

Flashback

Seingatku, hari itu bertepatan pada tanggal 5 juli 2005.
Setelah tes mengaji dan menghafal Al-Qur’an dihadapan guru-guru wanita, atau sebut saja para ustazah. Aku diterima dan langsung mendaftarkan diri sebagai calon santri Pondok Pesantren Darul Huffazh Lampung. “Oh, begini rupanya suasana pesantren? bagus juga” kataku dalam hati. Inilah awal kehidupan baru sekaligus perjuangan baruku.

Bayangkan, beberapa santri baru tugas mereka tiap malam adalah menangis. Lho? Hehe.. namanya juga baru ngerasain nginep di tempat asing, tanpa orang tua yang biasa menemani di rumah. Tapi tidak denganku, ya jelas saja, waktu itu aku bersama kakakku yang setahun lebih dulu sekolah disana. Membuatku merasa ada yang menemani.

Awal perjuangan

Alhamdulillah… beberapa minggu setelah masuk pesantren baru, aku di izinkan ustazah memulai menghafal surat-surat pendek ― setelah melalui proses pembenaran bacaan. Inilah awal dari perjuangan. Ya, perjuangan menghafal firman-Nya. Meskipun waktu itu aku hanyalah anak kecil yang masih suka main-main, tapi keyakinan dapat menggapai cita itu sudah tertanam. 

Di usiaku yang masih 11 tahun, aku relakan pisah jauh dari orang tua untuk belajar di sebuah pesantren (yang telah kuceritakan sebelumnya) tahfizh Al-Qur’an, yang berada di pulau seberang. Keinginanku sendiri dan tanpa paksaan siapapun. Entah motivasiku waktu itu berawal dari mana, namun yang kuingat, aku hanya kagum dengan profesi ibuku sebagai guru ngaji. Aku rasa itu adalah suatu pekerjaan yang mulia. Dan aku ingin sepertinya.

Sahabat

Aku lupa awal mulanya. Dia baik, cantik dan pintar. Meskipun kami sekelas, tapi dia adalah seniorku, karena sudah satu tahun lebih ia nyantri di DeHa (singkatan pesantren kami). Hmm.. Belum lama bersama dengannya, kami harus berpisah karena ia akan melanjutkan SMP di kampung halamannya, Padang. Waktu itu kami baru lulus SD.

Alhamdulillah… setelah kepergiannya, Allah menggantikan sahabat-sahabat yang lebih baik buatku (menurut keyakinanku) untuk menemani perjuangan ini. Hingga (kini) cita-cita itu tergenggam erat di hati kami. Terima kasih sobat, kalian telah melengkapi ceritaku. ^_^

Teladan

“lan tana lul birro hatta tunfiqu mimma tuhibbuun…”
Suara itu terdengar merdu. Seorang akhwat dua tahun lebih tua dariku, yang tengah duduk di dalam Musholla tepatnya di bagian shaf pertama. Hanya ada aku dan dia saat itu. Kami duduk berjauhan, aku duduk di sudut paling belakang (kalo ga salah). Ku ikuti gaya duduknya, cara memegang mushafnya, nada bacanya, pokoknya semuanya. Hihi… untungnya dia ga sadar kalo aku sedang meniru gerak-geriknya.

Namanya… sebut saja Mutiara (bukan nama asli). Sosok teladan bagiku. Bukan karena nasehat atau pesan apapun yang ia beri, melainkan sikap tawadhu’ dan rajinnya yang aku suka, yang menarik minatku untuk mencontohnya. Setelah mendengar nasihat ustazah, bahwa menghafal Al-Qur’an membutuhkan sosok teladan untuk memotivasi diri. Saat itu pula kutemukan seseorang yang tepat, untuk membantuku mencapai cita-cita ini.

Tersayang

Sore itu, masih dalam suasana haru. Sebagian besar santri menangis, dan aku diantaranya. Tahu kenapa? Ustazah kami yang tersayang (menurut pengakuanku), akan pergi meninggalkan pesantren kami tercinta. Beliau ingin melanjutkan perjuangannya di kota Garut. Tentu saja aku bersedih, beliau wanita yang sentiasa membantuku dalam perjalanan cita-cita ini, sejak aku kesulitan dalam menghafal sampai mudah dan terbiasa. Semua karna bantuannya. Sebelum akhirnya aku bertemu dengan guru-guru hebatku yang lain.

Ingat sekali, ketika itu (masih dengan beliau) aku tengah menghafal juz dua. Kata orang-orang juz dua itu agak sulit untuk dihafal. Entah aku percaya atau tidak dengan pernyataan itu, tapi yang kurasakan sama seperti kata mereka. Aduuh.. sebentar lagi giliranku untuk menyetor. Tanpa pikir panjang aku ambil selembar mushaf yang telah terpisah dari kelompoknya. Kebetulan sekali lembaran itu adalah halaman yang akan kusetorkan. Aku masukkan kertas itu ke dalam jilbab merahku, dengan alasan ingin khusyu’ aku meminta izin ustazah untuk merundukkan kepala ketika setor. Setelah selesai dan ‘kecuranganku’ itu sukses, ustazahku hanya tersenyum tanpa sepatah kata. “hmm.. tak biasanya beliau diam. Biasanya setelah setoran selalu ada nasehat atau pesan yang beliau sampaikan padaku” bisik hatiku.

Besoknya, aku coba lagi ‘kecurangan’ itu. Ketika mengantri hendak menyetorkan hafalan, ustazahku bilang, “hafi terakhir ya setornya”. Tanpa mencurigai apapun langsung saja kuanggukkan kepalaku. Loh..loh.. sampai jam belajar (tahfizh) habis belum juga ustazah mempersilahkan aku untuk menyetor. Sampai akhirnya semua bubar ustazah baru memanggilku, “sini setorannya sekarang aja, tapi jangan kaya kemaren ya…” aku tersentak, “Astaghfirullah ustazah… maafin aku…” kataku sambil menunduk malu. “Ga usah dengar kata orang nak, semua itu mudah kalau hafi mau usaha dengan sabar. Bagaimanapun hasilnya, lancar atau tidak, ustazah ga akan marah asal hafi ga bohong kaya kemarin, ya…” kata ustazahku menasehati sembari tersenyum simpul padaku. Persisnya beginilah kisah ‘kecuranganku’ waktu itu. Aku ingin para pembaca yang budiman mengetahui hal ini (meski memalukan), namun pengalaman ini adalah suatu pelajaran buatku, karna yang terpenting bagiku adalah keberkahan ilmu.

Surat kaleng

“Keikhlasan yang terdapat dalam niat dan tekat di hati akan timbul rasa untuk mencintai Rabbnya, dan dengan ikhlas itu timbulah rasa mencintai seseorang…”

Sedikit kutipan yang tak sengaja kuingat, isi dari secarik kertas yang entah siapa pemiliknya, namun ia berikan untukku melalui temanku. Kertas yang wangiiii sekali baunya. Tapi, tidak diragukan lagi siapakah pengirim surat kaleng itu, tiada lain ia adalah santri sebrang (ikhwan). Hmmm… tanpa pikir panjang surat itu segera kubakar sebelum ia lebih dulu membakar hatiku hingga membuatku susah menghafal (jiee..), lebih tepatnya sebelum ketahuan ustazah. Hehe.. yasudah, ini hanya cerita. Kisah macam ni hanya sekilas pengalaman dalam kenangan. ndak perlu dibaca :D

Takdir istimewa

Kalian tau? Berinteraksi dengan para penghafal Al-Qur’an amat sangat membuat hidupku penuh warna, penuh arti, dan selalu memberikan ketenangan dalam hati (mata mendung). Tak pernah kubayangkan sebelumnya, tentang takdirku yang kurasa istimewa ini. Menghafal Al-Qur’an itu seperti proses memasukkan kalam Allah ke dalam dada. Aduhai…. Apakah aku diantara hamba-Nya yang terpilih itu? Yang dapat menghimpun seluruh firman-Nya ke dalam jiwa?(menetes).

Semakin lama kedekatan dengan Al-Qur’an pun kurasakan. Seperti tak ada yang ku hiraukan kecuali hanya membaca dan menghafalkannya. Namun semakin kudekat, semakin banyak pula godaan-godaan yang memaksaku untuk menjauh. Bahkan aku pernah ‘galau’ dengan semua godaan itu. Setelah berkonsultasi dengan ustazah, beliau menyarankan agar tidak memaksakan diri untuk menghafal ketika hati masih sedang dilanda kefuturan. Fokuskan pada penataan hati agar konsentrasi dan semangat hadir lagi. Teman… Sungguh tidak mudah mengembalikan semangat yang hampir rapuh, tapi kucoba semaksimal mungkin dengan do’a, sholat, dan membaca hadis-hadis tentang keutamaan menghafal Al-Qur’an, hingga akhirnya gairah itu hadir kembali. “Alhamdulillah… aku rasa harus tetap waspada untuk masalah ini. Semoga takdirku sesuai dengan citaku” gumam hati ini.

23 Juli 2009

Tanggal yang istimewa, sangaat istimewa. Kebahagiaan serta kesedihan bahkan ketakutan campur menjadi satu dalam hati ini. Setelah do’a (dipipimpin oleh ustad) di depan para santri dan ustazah, air mata ini tak bisa berhenti mengalir, membasahi hingga ke rongga hati. Benar sobat, aku berhasil menyelesaikannya. Baru menyelesaikannya. “Alhamdulillah…” kalimat itu tak henti ku ucapkan.
“Selamat ya… semoga selalu Istiqomah dengan Al-Qur’an..”
Begitulah kalimat do’a yang dipanjatkan dari para santri untukku sembari menjabat tanganku.

Terima kasih Ya Allah, meskipun butuh waktu lama ku mengkhatamkannya. Tapi karunia ini takkan habis kusyukuri. Aku tau setelah ini justru tanggung jawabku terhadap kalam-Mu lebih besar. Bismillah… Akanku perjuangkan itu, karna setelah menggenggemnya, berarti kita telah berjanji untuk menjaganya selamanya!

Cinta

Eits… jangan salah sangka dulu dengan judulnya. Kisah cinta ini bukanlah cinta biasa (kaya judul lagu, hehe..). Berawal dari pertanyaan seorang ustad kepada para santri selepas shalat ashar, “mana yang lebih mudah kalian hafal, Ayat Al-Qur’an atau lirik lagu?” dengan serempak, “lirik lagu taad..” “mengapa?” Tanya ustad lagi. Salah satu santri menjawab, “karna lagu pake bahasa Indonesia” “ada yang lebih tepat?” Tanya beliau. Setelah beberapa jawaban mereka lontarkan, ustad pun menjelaskannya dan menghubungkan dengan ayat, yang artinya, “Dan sungguh, telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (Al-Qamar:17).
Benar sekali, Al-Qur’an itu mudah tuk dihafal jika kita mau mempelajarinya. Mau berarti telah menyukai dan mencintai. Jadi menurutku, modal pertama menghafal Al-Qur’an adalah, menCINTAinya (Al-Qur’an) terlebih dahulu.

Ijazah

Setelah khatam, berinteraksi dengan Al-Qur’an jadi lebih nikmat terasa. Tadabur itu selalu hadir dalam tiap-tiap lantunanku. Banyak orang bilang, menghafal yang baru lebih mudah dibanding mengulang yang telah dihafal. Benar, tapi menurutku ndak juga. berkat aturan-aturan yang ustad berikan padaku, agar memaksimalkan waktuku untuk mengulang hafalan. Alhamdulillah… dengan mentaati guru, semua ilmu itu terasa berkah bukan? 
Dan akhirnya ijazah syahadah itu berhasil ku dapatkan. Terima kasihku untukmu karena Allah.

Kanikmatan dari Al-Qur’an

Jika kita mau meluangkan hidup untuk mengurusi Al-Qur’an, maka Allah yang akan mengurusi kita, kapanpun dimanapun. Kalau ndak percaya coba saja buktikan. Tanyakan pada mereka yang berpengalaman, dan katakan apa jawabannya!

Percayalah kawan, aku merasakannya. Berjuta kenikmatan yang tak cukup jika disebutkan satu persatu. Ini baru menghafalkannya, bagaimana jika ditambah dengan mengamalkan dan mengajarkannya? Tak terhitung. Belum lagi jaminan syurga baginya, Subhanallah ya… ^^

Do’a

“Ya Allah izinkan aku, aku ingin, aku mohon, aku pinta….”
Tak kusia-siakan saat-saat berharga itu. Ku perbanyak do’a di sana. Sungguh, hadiah terindah dapat pergi ke tanah suci. Semua yang kudapatkan adalah berkah dari Al-Qur’an.

Hingga saat ini, do’a-do’a itu telah terpenuhi sebagian besarnya.
Keinginanku dapat membuka lembaga tahfizh Al-Qur’an pun telah terpenuhi, dan yang lain sebagainya. Jika syukur ini tak mengalir pada-Nya. Akankah Ia memberi lagi dan lagi?
Diri ini hanya ingin membagi kebahagiaan padamu juga kawan… 

***





Catatan kenangan di atas ditulis sebagaimana pengalaman dari perjalanan seseorang selama ia menghafal Al-Qur’an. Dia bukanlah seorang penulis yang pandai dan mahir dalam karya tulisnya. Namun ia hanya mencoba berbagi ceritanya bersama Al-Qur’an kepada para pembaca sekalian. Menurutnya, berjuang demi Al-Qur’an berarti berjuang mengumpulkan bekal untuk dunia & akhirat. Selalu ada point-point istimewa di dalamnya, bahkan janji Allah bagi penghafalnya tidaklah sedikit.

Dari Anas ra. ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas bertanya, “
siapakah mereka itu wahai Rasulullah? Baginda menjawab, “Ia itu ahli Qur’an (orang yang membaca atau menghafal Al-Qur’an dan mengamalkan isinya). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.”

Penutup

Malam sabtu, tak lain dengan malam di hari-hari biasa. Lantunan suara yang saling bersahutan, selalu menghidupkan suasana Al-Qur’an di tengah kesunyian malam. Tampak jelas di wajah mereka aura kesungguhan yang juga dibarengi dengan keletihan. Sungguh, suasana seperti ini yang selalu ingin kutemui, mengisi detik demi detik yang kulewati. Semoga saja, untuk esok dan seterusnya.

***

01-01-2013
Hurun ‘in
Yang selalu merindukan ketenangan

"الحمدلله رب العلمين"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar