Sabtu, 16 Agustus 2014

Cerita Jayuz

Adalah Tono, seorang anak lelaki berusia dua belas tahun yang tinggal di pelosok desa, bersama bapaknya yang bernama Joko. Ibunya, yang biasa dipanggil Surti telah meninggal dunia setelah melahirkan Tono. Konon katanya, Bapaknya memberikan nama itu kepada Tono, adalah karena Tono mewarisi golongan darah bapaknya yang ‘O’. Sementara surti belum jelas apa golongan darahnya, dan itu masih menjadi misteri bagi keluarga mereka. Tapi masalahnya cerita gokil tentang keluarga pak Joko bukanlah tentang golongan darah.

Melainkan, Lohno. Lohno sudah seperti keluarga mereka sendiri, terutama bagi Joko. Lohno bukan kerabat Joko, ataupun temannya, apalagi sahabat karibnya. Bukan. Sama sekali bukan. Tetapi Lonho adalah Lou-Han. Salah satu jenis ikan hias yang dibeli dan dipelihara Joko. Lonho memiliki postur tubuh yang aduhai indah. Matanya yang belo, warna tubuhnya yang cemerlang, kendati warnanya cendrung lebih lembut dengan warna dasar kuning atau hijau kekuningan. Ada degradasi warna di sekujur tubuhnya. Pancaran mutiara di balik sisiknya selalu membuat Joko terpesona. Namun setiap ada kelebihan pasti ada kekurangan. Lonho ini jenongnya minta ampun, dan itulah pemandangan yang tidak disukai anaknya, si Tono.

“Pak.. tuh si Jenong udah minta makan!” Teriak Tono meledek Bapaknya. Sebetulnya Tono agak iri melihat bapaknya lebih perhatian terhadap Lonho dibanding dirinya yang sudah piatu itu.

“Jenong! jenong! Itu ikan kesayangan Bapak tau!” Sahut Joko dari balik kamar yang kumuh akibat jarang dibersihkan. Lain halnya dengan akuarium Lonho, yang setiap harinya rajin sekali dibersihkan dan dikuras oleh Joko.

Tono langsung kabur keluar rumah sebelum bapaknya muncul dan mengeluarkan mata besarnya yang tajam ala Joko. Seketika Tono bergabung dengan teman-temannya sambil ngos-ngosan.

“Lu, kenapa Ton? Ngos-ngosan gitu.” Tanya teman-teman Tono mengerubungi.

“Biasa, abis ngeledekin si Jenong kesayangan bapak gua.”

“Haha parah lu Ton.”

“Lagian yang diurus si Jenongnya mulu. Lah gua, makan pagi aja pake minta sama tetangga.” Kesal Tono.

“Kenapa gak elu jual aja Lou-Han bapak lu Ton, kan lumayan dapet satu jutaan lebih.”

“Wah gak mungkin. Kalo gua jual tuh Jenong, bisa diabisin gua sama bapak.”

***

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun, dan tahun mentok tak berganti lagi. Keuangan keluarga Joko pun menipis. Akhirnya Joko terpaksa hendak menjual Lonho kesayangannya itu seharga satu juta kepada tetangga-tetangga di desanya. Namun sungguh malang nasib Joko, karena si Lonho tersayang sudah semakin tua dan keriput, beberapa sisiknya ada yang terkelupas, matanya semakin sayu, warnanya pun tak secemerlang dulu. Alhasil, tak ada satupun yang mau membeli ikan lou-han milik Joko.

“Turunin aja harganya pak, lima ratus ribu masih lumayan kok.” Ucap Tono menanggapi wajah lesu bapaknya.

“Apa gak usah kita jual aja ya, si Lonho.” Kata Joko putus asa. Mata besarnya menatap lonho dengan tajam, seolah tak sanggup berpisah dengan lou-hannya tersayang.

“Bapak ini gimana?! ikan jenong ga berguna itu cuma bisa nyusahin doang pak! Lebih baik kita jual, walaupun murah setidaknya menghasilkan uang!” Bentak Tono yang kian naik pitam mendengar ujaran bapaknya sembari melirik si Lonho peyot.

***

Sore itu, Tono memilih keluar rumah dan kumpul bareng teman-temannya di gardu desa. Joko benar-benar tidak jadi menjual Lonho kepada siapapun. Tono tak habis pikir mengapa bapaknya mempertahankan Lonho sedemikian rupa. Padahal yang mengakibatkan keringnya ekonomi keluarga mereka adalah juga karena Lonho yang membutuhkan perawatan terus-menerus. Selain uang, kepergian Lonho adalah harapan besar bagi Tono yang benci sekali dengan perlakuan bapaknya terhadap ikan jenong itu.

“Gua ada ide bro..” Kipli, salah satu sobat Tono yang cungkring mengeluarkan suara setelah Tono menceritakan semua pada mereka.

“Apa?”

“Sinih, gua bisikin.” Seketika wajah dekil itu nyengir tak karuan mendengar saran yang diberikan Kipli kepadanya.

“Serius lu bro? Bakal kacau gak tuh?”

“Enggak... lu bilang aja si Lonho ilang dicuri tetangga!”

Senja pun usai, hanya menyisakan cengiran Tono yang mengingat-ingat bisikan Kipli tadi sore. Tepat tengah malam Tono melakukan aksi yang direncanakan oleh Kipli. Berjalan sesuai rencana.. dan..

***

Keesokan harinya, Tono berjalan dengan lunglai, menyusuri rumah-rumah tetangga hendak menuju gardu tempat teman-temannya nongkrong. Semua tetangga heran memperhatikannya. Bisik-bisik sana sini, beranggapan macam-macam tentang Tono yang berubah rupa. Bencak-bencak merah memenuhi tubuhnya, mata biru, wajah lebam, ditambah dahinya yang menjenong seperti Lonho peliharaan bapaknya.
Sesampainya di gardu..

“TONO??!!” Serempak teman-temannya kaget melihat bentuk Tono yang tidak karuan, dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Gua udah ikut saran lu Pli..” Ujar Tono datar, tanpa ekspresi.

“Jadi itu Lou-han bener-bener lu goreng Ton??? Lu makan??” Tanya Kipli tak percaya kalau Tono benar-benar tega pada Lou-han kesayangan bapaknya. Padahal Kipli tak bermaksud serius dengan sarannya kemarin.
Tono tak menjawab.

“Tapi bapak lu ngira si Lonho itu di culik kan?” tanya Jupri kocak.

“Jangan-jangan.. lu berubah bentuk kaya gini karena kutukan dari si Lonho. Selama hidupnya lu selalu menghina dia, dan setelah lu makan tuh ikan Lou-han, arwahnya gentayangan bales dendam sama lu, sampe rupa lu persis kaya Lou-han.” Lanjut Kipli asal.

“Gua agak percaya sama Kipli, Ton. Terus gimana caranya buat ngilanin kutukan itu?” Jupri menatap serius wajah merah Tono.
Tono yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara,

“Ngaco lu semua!” Tangkasnya.

“Mana ada orang kena kutukan gara-gara makan ikan! Semalem, baru gua angkat tuh lou-han dari kuali, dan belum sempet gua makan, bapak gua bangun! Kaget setengah mati dia setelah tau kalau si Lonho udah almarhum gara-gara gua goreng sampe kering. Akibat kesadaran bapak gua yang belum sempurna dari tidurnya, tangannya melayang kuat tepat di dahi gua, alhasil dahi gua jenong alias benjol kaya si almarhum Lonho. Luka benjolnya malah menjalar ke mata dan muka gua sampe gak karuan. Badan gua dicubit dan dipukul tanpa ampun sama bapak sampe merah-merah begini. Puas lu pada ngatain gua kena kutukan??!!"

Teman-teman Tono saling berpandangan, seketika meledak tawa.

“HUAHAHAHAHA!”

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar