Sabtu, 16 Agustus 2014

Kisah di bilik GAZA

“DUARR!!”

“DUARR!!”

“DUARR!!”

Puluhan roket meluncur tepat ke ranah bumi para Nabi. Anak-anak yang tengah riuh dan melebur dalam permainan mereka siang itu harus redup seketika. Tawa riang telah disulap menjadi jerit tangis yang amat mencekam. Debu-debu terhempas, serta daratan kian bersimbah oleh darah. Ibu-ibu berlarian sembari menggendong balitanya hendak bersembunyi. Bukan takut atau gentar yang dirasa, melainkan naluri keibuan yang ingin melindungi buah hati mereka.

“Farhaaaaaaan!!”

Seorang wanita memanggil anak lelakinya yang sedang berlalu dengan nada gemetar. Larian lincah lelaki berusia sembilan tahun itu seolah tengah mengejar kawan-kawan yang sedang bermain dengannya. Tapi pemandangan di depan mata bukanlah demikian. Langkahnya terhenti, lelaki pemberani itu meraih bebatuan yang berada di sebelah kaki mungilnya. Dengan gagah berani tangannya yang menggenggam batu pun mengayun ke arah mobil tank baja berhiaskan meriam yang berada tepat di hadapannya.

Tepat sasaran. Salah seorang tentara Israel berteriak histeris mendapati kepalanya berlumur darah akibat lemparan batu yang sangat kencang dari anak tak berdosa itu. Tak sanggup lagi untuk bangkit, tentara biadab itu hanya mencaci-maki lelaki mungil yang berlari putar arah untuk menuju ibunya yang tak henti menderaskan air mata.

Farhan berusaha keras menyembunyikan air matanya di hadapan sang Ibu. Anak seusia itu dapat memahami betapa perih nurani Ibu yang ditinggal mati anak bungsunya dengan sangat tragis. Adik Farhan, lima menit lalu menjadi korban kekejian tentara pengecut itu dengan luncuran meriam yang selalu menjadi kebanggaan mereka. Hatinya geram. Entah harus dengan apa ia melampiaskan amarah dan kesedihannya itu selain dengan lemparan batu bisu, yang ia hidupkan dengan gemuruh takbir. Bahkan gemuruhnya seolah memanggil Izrail untuk segera mencabut dengan ganas nyawa-nyawa mereka yang hina.

“Apa yang kalian tunggu! Cepat tembak anak bajingan itu!!” Tentara berdarah dingin itu membusungkan dadanya memerintahkan keparat lain untuk tidak mengabaikan perlawanan yang dilakukan Farhan.

“Sudahlah. Dia hanya anak kecil!” Sekawanan yang lain menimpali perintah agar mengabaikannya.

“Apa yang kalian pikirkan?! Masih kecil saja dia sudah berani melempari kita dengan batu, bagaimana ia besar nanti?! Anak ingusan itu pasti akan meluncurkan peluru apinya! CEPAT HABISI DIA!!!”

Seketika saja ribuan peluru beterbangan ke arah Farhan dan penduduk sipil lainnya. Mereka semakin membabi buta menembaki para warga yang tidak berdosa. Bukannya menghindar, Farhan malah melepaskan genggaman tangannya dari sang Ibu dan kembali mengumpulkan kerikil-kerikil tajam hingga memenuhi jemari kecilnya. Pemandangan itu justru menarik perhatian para warga yang akhirnya turut mengumpulkan batu dan melempari tentara-tentara berpopok itu dengan tanpa rasa takut.

“DUARR!!”

Belum berhasil peluru tentara mengenai Farhan, mobil tank baja yang mereka naiki tiba-tiba meledak. Api mengepul disusul gumpalan asap yang menganga seolah menelan satu-persatu nyawa mereka. Seorang pria gagah perkasa, mengenakan seragam militer dengan kain hitam yang membalut menutupi wajahnya, baru saja melemparkan granat ke arah kendaraan tentara-tentara itu. Tapi Farhan tau betul siapa dia. Sudah lama Farhan dan teman-teman sebayanya mengagumi sosok pria itu juga sekawanannya.

HAMAS. Benar. Pria itu adalah salah satu anggota dari Hamas. Organisasi Muslim Palestina yang memiliki cabang politik dan militan yang sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup negara Palestina. Bocah-bocah muslim seusia Farhan, sebagian besar mereka bercita-cita menjadi bagian dari Hamas. Bagian dari anggota para hamilal Qur’an nan pemberani itu adalah sebuah penghargaan bagi kalangan lelaki Muslim Palestina. Begitupun halnya dengan Farhan, di usianya yang sangat dini ia tengah berjuang menghafal kalamullah demi sebuah penghargaan dan perjuangan kelak.

“FARHAAAN! AWAS NAAK!”

Terlambat. Seruan Ibu Farhan terlambat sedetik dari peluru yang meluncur secepat kilat mengenai tepat di dada anak tak berdosa itu. Seorang tentara menembaknya dari arah berlawanan yang kemudian berlari terbirit-birit sebelum pasukan Hamas membalasnya dengan granat.Darahnya mengalir deras. Sederas air mata Ibunya yang detik itu telah ditingal mati kedua anaknya. Kematian tragis itu menjadi pemandangan mata. Peluh hangat membanjiri dan membasahi pelukan wanita janda itu pada Farhan. Semua menjadi saksi atas kekejaman tentara Israel yang telah berhasil merenggut nyawa anak-anak tak berdosa. Anak-anak yang mencoba membela diri menunjukkan keberanian mereka dengan sebongkah batu bisu. Hingga Allah memerintahkan malaikat Izrail mencabut halus nyawa mereka, demi kebahagiaan abadi di akhirat sana.





Dan sinar mentari pun membara,
Menyaksikan jiwa suci direbut haknya,
Menggelora semangat bagi diri yang tak rela,
Tanpa membuang Ikhlas demi pertemuan dengan Sang Pencipta.


SELESAI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar