Senin, 30 Desember 2013

Muslimah dan Impian Hebatnya!


“Temukan, dan sebutkan tiga target dekat dalam hidupmu, lima menit dari sekarang!”



***
Sejak kecil, aku sangat suka membeli dan mengumpulkan buku-buku nota yang lucu sebagai wadahku menuliskan apapun. Apakah itu curahan hati, cerita, gambar, puisi, ataupun impian-impian yang kumiliki. Banyak sekali. Mungkin, tiap kali ke toko buku dekat rumah, incaran pertamaku adalah mencari buku nota terbaru dan menarik. Meskipun seringkali kena omel sama ibu gara-gara boros. Terpaksa harus beli secara diam-diam. Hehe..

Tapi entah kenapa, aku bukanlah tipe orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Sehingga siapapun yang ingin ngintip nota-notaku, meskipun hanya sekedar puisi-puisiku, cerita pengalamanku, impian kecilku, tak akan aku izinkan. Aku tak punya cukup keberanian untuk memberitahukan kepada orang lain, terutama perihal mimpi-mimpiku dalam nota itu. Hanya sekedar meminta didoakan, didukung, dan sebagainya saja.

Pernah untuk pertama kalinya, aku mencoba menuliskan impian-impian, target mendatang, serta harapan-harapan secara mendetail di selembar kertas binder. Lalu kutempel kertas itu di dinding tepat di samping ranjangku di pesantren. Alhasil, bukannya menambah semangat, justru aku semakin malu jika ada teman-teman yang membacanya. Dan akhirnya, kucopot lagi dari dindingku dan kusimpan kembali dalam lemari.

Suatu hari orangtuaku bertanya kepada kami, anak-anaknya. Mengenai cita-cita kami kedepan. Ingin kuliah jurusan apa? Ingin berprofesi sebagai apa? Dan pertanyaan lainnya. Dan lagi-lagi, aku hanya menjawab “Ada deh, lihat saja nanti.”  Orang tuaku sih yakin-yakin saja kalau anaknya yang satu ini memiliki impian keren (ciye). Tapi, tak cukup percaya diri.

Seorang sahabatku mengatakan, “memang, rata-rata orang lebih memilih diam daripada bercerita. Bahkan jarang sekali ditemui orang yang bercerita dengan antusias tentang cita-citanya di masa mendatang. Padahal, siapa tahu dengan bercerita itulah ada peluang-peluang yang Allah titipkan melalui orang-orang sekitar kita.”

Benar. Tapi lagi-lagi aku masih belum berani mengutarakan.


***
Seorang sahabatku di kampus meminjamkan sebuah buku karya mas Ippho Santosa. Kayanya sih dia penggemar beratnya. Semua buku karya beliau dia punya. WOW. Hehe. Ya, buku itu benar-benar menyuruh kita untuk action dalam merealisasikan mimpi. Satu impian = seribu aksi. Jangan malah dibalik. Buku itu juga menganjurkan untuk percaya diri. Ungkapkan kepada orang-orang tercinta tentang mimpi-mimpi kita. Karena dengan begitu, mereka pasti akan mendoakan dan mensuport secara sungguh-sungguh. Sebab, harapan kita sudah jelas dipengetahuan mereka, Khususnya keluarga.

Hmm, aku masih belum Pe-De untuk yang satu ini. Kalau action insyaAllah sudah. Tapi, rasanya masih ada yang kurang jika belum kuceritakan kepada orang lain tentang mimpiku.  

***
Kamis siang, seperti biasa. Aku dan segenap komunitas Muslimah Anti galau (Jiahh..alay) berkumpul di atas rumput hijau yang berembun akibat hujan malam. Masih menunggu seorang teman yang bertugas menjadi narasumber kami. Detik berlalu, menit berlalu, akhirnya dia datang. Bukan datang dengan raganya melainkan mendatangkan sebuah sms, “maaf temen-temen M.Ag, ada urusan mendadak. Siang ini tak bisa hadir.”

Saat yang tepat. Kucoba membuka diskusi santai. Mengajukan sebuah pertanyaan sekaligus mencari tahu, apakah mereka bisa menjawabnya dengan antusias.

 “Teman-teman, coba temukan, dan sebutkan tiga target dekat dalam hidup kalian, lima menit dari sekarang!”

Semua diam. Berpikir. Mencari-cari impian terdekat mereka. Bagi yang sudah biasa merancangnya, terlihat dengan jelas ia sudah siap untuk menjawab. Oke, lima menit sudah berakhir. Dimulai dari yang kanan.

“Untuk target dan harapanku dekat ini, aku ingin menjadi designer busana muslimah, ingin memantabkan lagi bahasa Arab, Ingin istiqomah menghafal Qur’an.”

“Aku ingin menjadi da’i, yang dengan mudah menyampaikan nasihat di hadapan banyak orang, ingin menikah dini, juga ingin istiqomah menghafal Qur’an.”

“Aku ingin istiqomah salat Tahajud, ingin beli sepeda buat kendaraan ke kampus, serta ingin melancarkan bahasa Arab dan Inggris.”

Dan lain-lain...

Subhanallah. Aku salut dengan mereka. Yang dengan antusias menceritakan tiga impian terdekat mereka. Sepertinya, sahabat-sahabatku adalah calon muslimah sukses di masa mendatang. Tidak hanya impian, ternyata mereka juga sudah mulai bergerak. Bertahap mewujudkan impian-impian mereka itu. Kini, giliranku menyebutkan tiga impian.

“Bismillah.. dalam waktu dekat ini, minimal terealisasikan di tahun 2014 mendatang. Pertama, aku ingin menulis sebuah buku. Buku yang tidak jauh dari tema Al-Qur’an. Karna memang itu bidang yang kugeluti selama ini. Kedua, aku ingin menjadikan Rumah Tahfiz kami berkembang dan maju, juga permanen dengan fasilitas yang memadai. Ketiga, aku berharap komunitas kita pun berkembang, diminati dan bermanfaat bagi setiap muslimah di kampus.”

Kami semua bertepuk tangan atas masing-masing penjelasan mengenai impian-impian kami. Tak kusangka, ada getaran positif menyetrum pada tiap-tiap urat syarafku setelah kujelaskan semuanya. Mungkin apa yang kurasakan sama dengan yang teman-temanku rasakan. Kami semakin bersemangat untuk bergerak. Solusi yang belum di dapat kami selesaikan bersama. Saling membantu dan mendukung atas segala cita-cita.



***
          Alhamdulillah, kini Ibu dan Ayahku antusias mensuport dan mendoakanku. Setelah sesekali dengan riang kujelaskan apa-apa yang aku impikan. Mulai dari target Indeks Prestasi, target pekerjaan, target impian, dan sebagainya. Sehingga keringanan, serta kemudahan dalam urusan terus mengalir dalam tiap langkahku mengejar mimpi. Tentu saja, karena doa muslim kepada muslim lainnya pasti diijabah oleh Allah. Apalagi doa Orang tua. Selain lancar, juga berkah. Insya Allah.

“Nah, ini impian kami, apa impianmu?”




 "Selamat Tahun Baru yah! Semoga menjadi lebih baik" ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar