“Temukan, dan sebutkan tiga target dekat dalam hidupmu, lima menit dari sekarang!”
***
Sejak
kecil, aku sangat suka membeli dan mengumpulkan buku-buku nota yang lucu
sebagai wadahku menuliskan apapun. Apakah itu curahan hati, cerita, gambar,
puisi, ataupun impian-impian yang kumiliki. Banyak sekali. Mungkin, tiap kali
ke toko buku dekat rumah, incaran pertamaku adalah mencari buku nota terbaru
dan menarik. Meskipun seringkali kena omel sama ibu gara-gara boros.
Terpaksa harus beli secara diam-diam. Hehe..
Tapi
entah kenapa, aku bukanlah tipe orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Sehingga siapapun yang ingin ngintip nota-notaku, meskipun hanya sekedar
puisi-puisiku, cerita pengalamanku, impian kecilku, tak akan aku izinkan. Aku
tak punya cukup keberanian untuk memberitahukan kepada orang lain, terutama perihal
mimpi-mimpiku dalam nota itu. Hanya sekedar meminta didoakan, didukung, dan
sebagainya saja.
Pernah
untuk pertama kalinya, aku mencoba menuliskan impian-impian, target mendatang,
serta harapan-harapan secara mendetail di selembar kertas binder. Lalu kutempel
kertas itu di dinding tepat di samping ranjangku di pesantren. Alhasil,
bukannya menambah semangat, justru aku semakin malu jika ada teman-teman yang
membacanya. Dan akhirnya, kucopot lagi dari dindingku dan kusimpan kembali
dalam lemari.
Suatu
hari orangtuaku bertanya kepada kami, anak-anaknya. Mengenai cita-cita kami
kedepan. Ingin kuliah jurusan apa? Ingin berprofesi sebagai apa? Dan pertanyaan
lainnya. Dan lagi-lagi, aku hanya menjawab “Ada deh, lihat saja nanti.” Orang tuaku sih yakin-yakin saja
kalau anaknya yang satu ini memiliki impian keren (ciye). Tapi, tak cukup percaya
diri.
Seorang
sahabatku mengatakan, “memang, rata-rata orang lebih memilih diam daripada
bercerita. Bahkan jarang sekali ditemui orang yang bercerita dengan antusias
tentang cita-citanya di masa mendatang. Padahal, siapa tahu dengan bercerita
itulah ada peluang-peluang yang Allah titipkan melalui orang-orang sekitar
kita.”
Benar.
Tapi lagi-lagi aku masih belum berani mengutarakan.
***
Seorang
sahabatku di kampus meminjamkan sebuah buku karya mas Ippho Santosa. Kayanya
sih dia penggemar beratnya. Semua buku karya beliau dia punya. WOW. Hehe. Ya,
buku itu benar-benar menyuruh kita untuk action dalam merealisasikan mimpi.
Satu impian = seribu aksi. Jangan malah dibalik. Buku itu juga menganjurkan
untuk percaya diri. Ungkapkan kepada orang-orang tercinta tentang mimpi-mimpi
kita. Karena dengan begitu, mereka pasti akan mendoakan dan mensuport secara
sungguh-sungguh. Sebab, harapan kita sudah jelas dipengetahuan mereka,
Khususnya keluarga.
Hmm, aku
masih belum Pe-De untuk yang satu ini. Kalau action insyaAllah sudah. Tapi, rasanya
masih ada yang kurang jika belum kuceritakan kepada orang lain tentang mimpiku.
***
Kamis
siang, seperti biasa. Aku dan segenap komunitas Muslimah Anti galau
(Jiahh..alay) berkumpul di atas rumput hijau yang berembun akibat hujan malam.
Masih menunggu seorang teman yang bertugas menjadi narasumber kami. Detik
berlalu, menit berlalu, akhirnya dia datang. Bukan datang dengan raganya
melainkan mendatangkan sebuah sms, “maaf temen-temen M.Ag, ada urusan
mendadak. Siang ini tak bisa hadir.”
Saat yang
tepat. Kucoba membuka diskusi santai. Mengajukan sebuah pertanyaan sekaligus
mencari tahu, apakah mereka bisa menjawabnya dengan antusias.
“Teman-teman, coba temukan, dan sebutkan tiga
target dekat dalam hidup kalian, lima menit dari sekarang!”
Semua
diam. Berpikir. Mencari-cari impian terdekat mereka. Bagi yang sudah biasa
merancangnya, terlihat dengan jelas ia sudah siap untuk menjawab. Oke, lima
menit sudah berakhir. Dimulai dari yang kanan.
“Untuk
target dan harapanku dekat ini, aku ingin menjadi designer busana muslimah,
ingin memantabkan lagi bahasa Arab, Ingin istiqomah menghafal Qur’an.”
“Aku
ingin menjadi da’i, yang dengan mudah menyampaikan nasihat di hadapan banyak
orang, ingin menikah dini, juga ingin istiqomah menghafal Qur’an.”
“Aku
ingin istiqomah salat Tahajud, ingin beli sepeda buat kendaraan ke kampus,
serta ingin melancarkan bahasa Arab dan Inggris.”
Dan
lain-lain...
Subhanallah.
Aku salut dengan mereka. Yang dengan antusias menceritakan tiga impian terdekat
mereka. Sepertinya, sahabat-sahabatku adalah calon muslimah sukses di masa
mendatang. Tidak hanya impian, ternyata mereka juga sudah mulai bergerak.
Bertahap mewujudkan impian-impian mereka itu. Kini, giliranku menyebutkan tiga
impian.
“Bismillah..
dalam waktu dekat ini, minimal terealisasikan di tahun 2014 mendatang. Pertama,
aku ingin menulis sebuah buku. Buku yang tidak jauh dari tema Al-Qur’an. Karna
memang itu bidang yang kugeluti selama ini. Kedua, aku ingin menjadikan Rumah
Tahfiz kami berkembang dan maju, juga permanen dengan fasilitas yang memadai.
Ketiga, aku berharap komunitas kita pun berkembang, diminati dan bermanfaat
bagi setiap muslimah di kampus.”
Kami
semua bertepuk tangan atas masing-masing penjelasan mengenai impian-impian
kami. Tak kusangka, ada getaran positif menyetrum pada tiap-tiap urat syarafku
setelah kujelaskan semuanya. Mungkin apa yang kurasakan sama dengan yang
teman-temanku rasakan. Kami semakin bersemangat untuk bergerak. Solusi yang
belum di dapat kami selesaikan bersama. Saling membantu dan mendukung atas
segala cita-cita.
***
Alhamdulillah,
kini Ibu dan Ayahku antusias mensuport dan mendoakanku. Setelah sesekali dengan
riang kujelaskan apa-apa yang aku impikan. Mulai dari target Indeks Prestasi,
target pekerjaan, target impian, dan sebagainya. Sehingga keringanan, serta kemudahan
dalam urusan terus mengalir dalam tiap langkahku mengejar mimpi. Tentu saja, karena
doa muslim kepada muslim lainnya pasti diijabah oleh Allah. Apalagi doa Orang
tua. Selain lancar, juga berkah. Insya Allah.
“Nah, ini
impian kami, apa impianmu?”
"Selamat Tahun Baru yah! Semoga menjadi lebih baik" ^_^



Tidak ada komentar:
Posting Komentar