Senja
kian hinggap, gerimis masih saja membasahi bumi di kota Jombang. Seorang wanita
paruh baya tengah berjalan menyusuri trotoar di sepanjang pinggiran jalan raya,
hendak kembali ke rumah. Tubuhnya basah terkena guyuran hujan. Hari ini adalah
yang kesekian kalinya ia tidak diterima untuk mendaftarkan diri sebagai santri
di beberapa pesantren khusus menghafal Al-Qur’an.
“ndak
diterima lagi kan cun?” tanya seorang wanita tua yang tiada lain adalah
mertuanya, ketika ia baru saja memasuki rumah kecilnya yang bisa dibilang tak
layak pakai itu.
“Belum
mak, tapi akan saya coba lagi besok” jawabnya dengan optimis.
“Sudahlah
nduk.. kamu itu sudah berumur. Tak pantas lagi masuk pesantren yang
dihuni anak-anak remaja. lebih baik kamu jaga ibumu yang sudah tua renta ini.”
Ia tak
berkomentar. Disadarinya memang, saat setelah sepeninggal suaminya yang terkena
penyakit keras dua tahun lalu, kini mertuanya adalah satu-satunya keluarga yang
ia miliki.
“Saya
janji mak, hanya sebentar saja, tak lebih dari setahun.”
“Yo
karepmu lah, andai kamu punya anak, pasti tak perlu seribet ini mengabulkan
impianmu.
Ah,
lagi-lagi emak mengungkit hal itu. Tiga puluh tahun lamanya ia menikah belum
juga dikaruniai seorang anak. Anak yang ia harapkan kelak menjadi sosok ulama
yang hafal Al-Qur’an, agar derajat keluarganya tak selamanya di bawah rata-rata.
Ia selalu
teringat ceramah ustad Soleh di mushola kala itu. Bahwa Al-Qur’an mampu
memuliakan hidup seseorang yang berpegang teguh pada ajarannya, mengamalkannya,
bahkan sampai menghafalkan seluruh ayatnya. Karna Allah melihat manusia bukan
dari segi materi, melainkan dari ketakwaan dalam dirinya. Itulah yang mendorong
Encun untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Meski wanita pedagang sayur keliling ini
sudah berumur lima puluh tahun, namun ia tetap yakin bahwa harapannya akan
menjadi nyata, yang kelak akan menghantarkannya kepada kehidupan sesungguhnya.
***
Malam
yang pekat, selepas tahajud encun belum bangkit dari sajadah lusuhnya. Ia masih
mencari cara bagaimana agar ibu-ibu seusianya mampu menghafal Al-Qur’an meski
tidak tinggal di lingkungan pesantren. Padahal untuk sekedar membacanya saja ia
masih sangat terbata-bata. Sedang sang mertua akhir-akhir ini sering
sakit-sakitan sehingga tidak bisa ditinggal sendiri untuk merawat diri. Pikirannya
berkecamuk, sungguh harapan ini cukup sulit direalisasikan.
Namun
tekad itu sangat kuat tertancap dalam hati Encun. Seolah impiannya itu adalah
panggilan Ilahi kepadanya agar ia mampu mendalami ilmu agama secara mendalam.
Sebelum ia manyusul sang suami dan kembali ke pelukan Tuhan.
“Cun..”
panggil emak dari bilik kamar yang sudah reot, berdinding kayu yang sedikit
lembab terkena rembesan air hujan.
“Ya
mak..” Encun segera membuka mukenanya dan meletakkannya asal ke atas sajadah
lalu menghampiri emak.
“Emak
sesak nafas lagi, dada emak terasa di tekan-tekan.”
Dengan
cekatan Encun segera mengambil air putih dan langsung meminumkannya ke mulut
emak yang sedari tadi mangap lebar memaksa udara keluar masuk ke dalam
paru-parunya melalui mulut.
“Nanti
pagi kita ke Rumah Sakit ya mak”
“Ndak
usah nduk, mak tahu seminggu ini kamu tidak jualan sayur, sedangkan uangmu
habis untuk ongkos pergi ke beberapa pesantren”
“Njih
mak, hari ini saya mulai berjualan lagi, semoga hasilnya bisa cukup membawa
emak berobat.”
Encun
segera bergegas membawa sayur seadanya untuk dijual di sekitar desa tempat
tinggalnya. Baru dua tahun ia menekuni pekerjaannya sebagai pedagang sayur
keliling, hanya dengan modal sayur-mayur segar di belakang rumahnya, ia
berjalan melewati rumah-rumah tetangga sembari menawarkan dagangannya.
Baru
seperempat jalan, tiba-tiba bu Eti, tetangganya memanggil dari teras rumah yang
berubin hijau kebiru-biruan.
“Bu
Encun..! Sini sebentar..!”
“Ya
sebentar bu..” Jawab Encun segera menyongsong.
“Saya
dapet kabar katanya bu Encun lagi nyari tempat pengajian ya?” tanyanya seolah
mengintrogasi.
“Iya..
sebenarnya bukan tempat pengajian ibu-ibu biasa, tapi saya kepingin yang ada
khusus menghafal Al-Qur’annya.” Jelas Encun.
“Ada bu..
kemarin lusa menantu ustad Sholeh, ustad Agus baru membuka rumah... apa tuh
namanya...” Putus bu Eti sambil mengingat-ingat.
“Oh iya,
rumah Tahfiz. Pokoknya yang khusus menghafal Al-Qur’an gitu.” Lanjut bu Eti
sembari menjawil centil lengan Encun.
“Bener
bu??” Tanya Encun penasaran. Ada secercah harapan yang menerangi kembali hati
kelabunya pagi itu.
“Iiiih
kalau ndak percaya tanya aja langsung sama ustad Agus.”
“Nggih
bu, nanti saya tanyakan. Terima kasih banyak ya.” Pamit Encun dengan
senyumnya yang merekah laksana kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong.
***
“Benar bu Encun.. saya memang
membuka rumah tahfiz, tapi untuk anak-anak usia Sekolah Dasar.” Jelas ustad
Agus.
“Kalau begitu saya ingin belajar
privat saja sama ustad. Saya ingin menghafal tapi tidak tahu metodenya. Apalagi
untuk ibu-ibu seperti saya, pasti cara menghafalnya berbeda dengan anak-anak.” Encun
memohon.
“Hmm..
baiklah, begini saja, bu Encun cukup seminggu sekali ketemu saya untuk
menyetorkan hafalan dan membenarkan bacaan. Di hari-hari biasa bu Encun tetap
jualan, pagi sebelum pergi berjualan sempatkan waktu satu jam untuk mengafal
setengah halaman saja. Mulai dari juz 30 dulu ya. Oiya, jangan lupa ayat yang
sudah dihafal diulang terus menerus dimanapun dan kapanpun bu Encun berada.” Kata
ustad Agus menjelaskan dengan gamblang.
***
Setelah
mengikuti saran ustad Agus, hari-hari yang dilewati Encun terasa lebih
bergairah. Kini ia tidak lagi berdagang sayur keliling, semenjak pertama
kalinya ia disuruh mengisi pengajian di majelis ta’lim, para jama’ah merasa
puas dengan penyampaiannya. Hingga akhirnya ia resmi menjadi guru ngaji di mushola
desa.
Prosesnya
dalam menghafal Al-Qur’an sangat getir ia rasakan. Sesekali jenuh menerpa,
namun segera ia tepis demi mewujudkan impian dan cita. Pasalnya, impian ini
bukan sekedar mencari kebahagiaan dunia semata. Tapi juga infestasi untuk
kehidupan akhirat nanti. Oleh sebabnya, Encun merasa harus mengubah nasib
dirinya dengan cara ini.
“Alhamdulillah..
Emak, Abang..” suaranya lirih hampir tak terdengar. Matanya sembab. Dipandanginya
dua gundukan tanah yang kian dihiasi ilalang kecil dan rumput-rumput yang
menjalar. Tepat setahun yang lalu mertuanya wafat menyusul suaminya. Sesak
nafas yang sering dideritanya waktu itu tak lekas sembuh meski sudah dibawa
berobat.
“Terima
kasih telah menemaniku dalam perjuangan hidup ini. Encun harap Emak dan Abang
damai di sisi Tuhan. Jangan khawatirkan kesendirian Encun. Encun punya
Al-Qur’an yang sentiasa menemani.” Air mukanya memerah, seolah tak mampu
menahan haru senang bercampur sedihnya itu.
Encun
memang tidak lagi memiliki keluarga. Tapi dia tak pernah merasa sebatang kara.
Al-Qur’an yang telah ia hafal selalu membuat tenang hidupnya. Orang-orang
sekitarnya semakin kagum dan menyayanginya. Rezeki dan Materi untuk kebutuhan
hidup serta merta ia dapati dari mana saja datangnya tanpa disangka. Kini, di
usianya yang ke lima puluh lima tahun ia merancang impian dan target baru yaitu,
“Naik
haji”.
(TEEEEEEEEET!!! Fiksi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar