Minggu, 29 Desember 2013

Mushaf Encun



Senja kian hinggap, gerimis masih saja membasahi bumi di kota Jombang. Seorang wanita paruh baya tengah berjalan menyusuri trotoar di sepanjang pinggiran jalan raya, hendak kembali ke rumah. Tubuhnya basah terkena guyuran hujan. Hari ini adalah yang kesekian kalinya ia tidak diterima untuk mendaftarkan diri sebagai santri di beberapa pesantren khusus menghafal Al-Qur’an.

“ndak diterima lagi kan cun?” tanya seorang wanita tua yang tiada lain adalah mertuanya, ketika ia baru saja memasuki rumah kecilnya yang bisa dibilang tak layak pakai itu.

“Belum mak, tapi akan saya coba lagi besok” jawabnya dengan optimis.

“Sudahlah nduk.. kamu itu sudah berumur. Tak pantas lagi masuk pesantren yang dihuni anak-anak remaja. lebih baik kamu jaga ibumu yang sudah tua renta ini.”

Ia tak berkomentar. Disadarinya memang, saat setelah sepeninggal suaminya yang terkena penyakit keras dua tahun lalu, kini mertuanya adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki.

“Saya janji mak, hanya sebentar saja, tak lebih dari setahun.”

Yo karepmu lah, andai kamu punya anak, pasti tak perlu seribet ini mengabulkan impianmu.

Ah, lagi-lagi emak mengungkit hal itu. Tiga puluh tahun lamanya ia menikah belum juga dikaruniai seorang anak. Anak yang ia harapkan kelak menjadi sosok ulama yang hafal Al-Qur’an, agar derajat keluarganya tak selamanya di bawah rata-rata.

Ia selalu teringat ceramah ustad Soleh di mushola kala itu. Bahwa Al-Qur’an mampu memuliakan hidup seseorang yang berpegang teguh pada ajarannya, mengamalkannya, bahkan sampai menghafalkan seluruh ayatnya. Karna Allah melihat manusia bukan dari segi materi, melainkan dari ketakwaan dalam dirinya. Itulah yang mendorong Encun untuk bisa menghafal Al-Qur’an. Meski wanita pedagang sayur keliling ini sudah berumur lima puluh tahun, namun ia tetap yakin bahwa harapannya akan menjadi nyata, yang kelak akan menghantarkannya kepada kehidupan sesungguhnya.

***
Malam yang pekat, selepas tahajud encun belum bangkit dari sajadah lusuhnya. Ia masih mencari cara bagaimana agar ibu-ibu seusianya mampu menghafal Al-Qur’an meski tidak tinggal di lingkungan pesantren. Padahal untuk sekedar membacanya saja ia masih sangat terbata-bata. Sedang sang mertua akhir-akhir ini sering sakit-sakitan sehingga tidak bisa ditinggal sendiri untuk merawat diri. Pikirannya berkecamuk, sungguh harapan ini cukup sulit direalisasikan.

Namun tekad itu sangat kuat tertancap dalam hati Encun. Seolah impiannya itu adalah panggilan Ilahi kepadanya agar ia mampu mendalami ilmu agama secara mendalam. Sebelum ia manyusul sang suami dan kembali ke pelukan Tuhan.

“Cun..” panggil emak dari bilik kamar yang sudah reot, berdinding kayu yang sedikit lembab terkena rembesan air hujan.

“Ya mak..” Encun segera membuka mukenanya dan meletakkannya asal ke atas sajadah lalu menghampiri emak.

“Emak sesak nafas lagi, dada emak terasa di tekan-tekan.”

Dengan cekatan Encun segera mengambil air putih dan langsung meminumkannya ke mulut emak yang sedari tadi mangap lebar memaksa udara keluar masuk ke dalam paru-parunya melalui mulut.

“Nanti pagi kita ke Rumah Sakit ya mak”

Ndak usah nduk, mak tahu seminggu ini kamu tidak jualan sayur, sedangkan uangmu habis untuk ongkos pergi ke beberapa pesantren”

Njih mak, hari ini saya mulai berjualan lagi, semoga hasilnya bisa cukup membawa emak berobat.”

Encun segera bergegas membawa sayur seadanya untuk dijual di sekitar desa tempat tinggalnya. Baru dua tahun ia menekuni pekerjaannya sebagai pedagang sayur keliling, hanya dengan modal sayur-mayur segar di belakang rumahnya, ia berjalan melewati rumah-rumah tetangga sembari menawarkan dagangannya.

Baru seperempat jalan, tiba-tiba bu Eti, tetangganya memanggil dari teras rumah yang berubin hijau kebiru-biruan.

“Bu Encun..! Sini sebentar..!”

“Ya sebentar bu..” Jawab Encun segera menyongsong.

“Saya dapet kabar katanya bu Encun lagi nyari tempat pengajian ya?” tanyanya seolah mengintrogasi.

“Iya.. sebenarnya bukan tempat pengajian ibu-ibu biasa, tapi saya kepingin yang ada khusus menghafal Al-Qur’annya.” Jelas Encun.

“Ada bu.. kemarin lusa menantu ustad Sholeh, ustad Agus baru membuka rumah... apa tuh namanya...” Putus bu Eti sambil mengingat-ingat.

“Oh iya, rumah Tahfiz. Pokoknya yang khusus menghafal Al-Qur’an gitu.” Lanjut bu Eti sembari menjawil centil lengan Encun.

“Bener bu??” Tanya Encun penasaran. Ada secercah harapan yang menerangi kembali hati kelabunya pagi itu.

“Iiiih kalau ndak percaya tanya aja langsung sama ustad Agus.”

Nggih bu, nanti saya tanyakan. Terima kasih banyak ya.” Pamit Encun dengan senyumnya yang merekah laksana kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong.

                                                ***
“Benar bu Encun.. saya memang membuka rumah tahfiz, tapi untuk anak-anak usia Sekolah Dasar.” Jelas ustad Agus.

“Kalau begitu saya ingin belajar privat saja sama ustad. Saya ingin menghafal tapi tidak tahu metodenya. Apalagi untuk ibu-ibu seperti saya, pasti cara menghafalnya berbeda dengan anak-anak.” Encun memohon.

“Hmm.. baiklah, begini saja, bu Encun cukup seminggu sekali ketemu saya untuk menyetorkan hafalan dan membenarkan bacaan. Di hari-hari biasa bu Encun tetap jualan, pagi sebelum pergi berjualan sempatkan waktu satu jam untuk mengafal setengah halaman saja. Mulai dari juz 30 dulu ya. Oiya, jangan lupa ayat yang sudah dihafal diulang terus menerus dimanapun dan kapanpun bu Encun berada.” Kata ustad Agus menjelaskan dengan gamblang.

***

Setelah mengikuti saran ustad Agus, hari-hari yang dilewati Encun terasa lebih bergairah. Kini ia tidak lagi berdagang sayur keliling, semenjak pertama kalinya ia disuruh mengisi pengajian di majelis ta’lim, para jama’ah merasa puas dengan penyampaiannya. Hingga akhirnya ia resmi menjadi guru ngaji di mushola desa.

Prosesnya dalam menghafal Al-Qur’an sangat getir ia rasakan. Sesekali jenuh menerpa, namun segera ia tepis demi mewujudkan impian dan cita. Pasalnya, impian ini bukan sekedar mencari kebahagiaan dunia semata. Tapi juga infestasi untuk kehidupan akhirat nanti. Oleh sebabnya, Encun merasa harus mengubah nasib dirinya dengan cara ini.

“Alhamdulillah.. Emak, Abang..” suaranya lirih hampir tak terdengar. Matanya sembab. Dipandanginya dua gundukan tanah yang kian dihiasi ilalang kecil dan rumput-rumput yang menjalar. Tepat setahun yang lalu mertuanya wafat menyusul suaminya. Sesak nafas yang sering dideritanya waktu itu tak lekas sembuh meski sudah dibawa berobat.

“Terima kasih telah menemaniku dalam perjuangan hidup ini. Encun harap Emak dan Abang damai di sisi Tuhan. Jangan khawatirkan kesendirian Encun. Encun punya Al-Qur’an yang sentiasa menemani.” Air mukanya memerah, seolah tak mampu menahan haru senang bercampur sedihnya itu.

Encun memang tidak lagi memiliki keluarga. Tapi dia tak pernah merasa sebatang kara. Al-Qur’an yang telah ia hafal selalu membuat tenang hidupnya. Orang-orang sekitarnya semakin kagum dan menyayanginya. Rezeki dan Materi untuk kebutuhan hidup serta merta ia dapati dari mana saja datangnya tanpa disangka. Kini, di usianya yang ke lima puluh lima tahun ia merancang impian dan target baru yaitu,
“Naik haji”.  

(TEEEEEEEEET!!! Fiksi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar