Kamis, 29 Agustus 2013

Ghibah? Oh no!


Ghibah, mengapa acapkali diidentikkan kepada kebiasaan para kaum hawa? apakah itu ABG, remaja, maupun ibu-ibu. Memang, seringkali aku melintasi sekelompok ibu-ibu yang sedang ngerumpi di teras rumah mereka, entah apa atau siapa yang sedang mereka ceritakan, hingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Menurut ilmiah, wanita memang memiliki keterampilan bahasa yang lebih tinggi dibanding lelaki. Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa kaum wanita terkhusus ibu, seringkali dicap ‘cerewet’ dari pada seorang bapak. Bedanya, bapak memiliki wibawa yang lebih tinggi dibanding ibu.

Ngomongin soal ghibah atau menggunjing, anak SD juga sudah tau bahwa hal tersebut adalah perbuatan tercela. Namun terkadang, karena kebiasaanlah yang suka membuat awal perbincangan berujung menjadi pergunjingan. Jika ditengan obrolan ada yang mengingatkan untuk menghentikannya, tak jarang dari mereka berdalih bahwa hal itu bukan termasuk ghibah, karena bertujuan untuk bla..bla..bla.. ya begitulah, mungkin sebagian dari mereka, atau terkadang diriku sendri tidak menyadari dan kurang berhat-hati dengan lidah yang tak bertulang ini.

Lalu, pembicaraan seperti apa yang telak masuk ke ranah ghibah?
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra : Rasulullah Saw. bersabda, “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Sabda beliau, “Ghibah ialah kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai olehnya.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang kukatakan itu memang terjadi pada saudaraku?” Jawab beliau, “Kalau memang terjadi apa yang kamu katakan itu pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya. Jika tidak terjadi, berarti kamu telah melakukan tuduhan dusta kepadanya.” (HR.Muslim-8:21 S.M.)  

Demikianlah pengertian ghibah yang dijelaskan oleh Nabi Saw. Perhatikanlah, tema-tema yang dighibahkan pun tak jarang yang sampai membuka aib-aib orang lain, padahal dalam pelajaran Riyadhus Shalihin diterangkan, bahwa orang yang menyebarkan atau menceritakan aib orang lain di dunia, maka kelak di hari kiamat Allah akan membuka aibnya di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak menceritakan aib orang lain di dunia, maka kelak di hari kiamat Allah akan menutupi aibnya. Sebab, pahala yang Allah janjikan sesuai dengan jenis amal yang dilakukan. Allah akan menutupi aibnya, bisa berarti menghapus dosanya dan tidak menanyakannya, atau menanyakannya secara pribadi lalu mengampuninya. Nah, setelah tahu balasan yang telah Allah janjikan, masihkah kita berani untuk berghibah? Na’udzubillah..

Mari kita buka Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha penyayang.”

Meski berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain serta menggunjing memiliki kesinambungan, namun kali ini mari kita bahas sesuai judul yang tengah kita diskusikan saja, yakni ‘menggunjing’.

Sebagaimana hadis Rasul tadi, Al-Qur’an lebih dulu melarang aktivitas tersebut. Yaitu membicarakan orang lain yang sesuai dengan realita yang tidak disukainya. Pada suatu hari seorang lelaki berdiri dihadapan Rasulullah, sedangkan para sahabat yang hadir melihat perawakan lemah pada diri orang tersebut ketika ia berdiri. Kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah lemahnya (perawakan) fulan itu.” Lantas Rasul bersabda, “Kalian telah memakan daging saudara kalian dan kalian telah menggunjingnya.”
Lihatlah, alangkah seringnya kita berkata demikian tanpa menyadari bahwa hal tersebut telah dicatat dosa oleh para malaikat. Tidakkah kita merasa jijik jika memakan bangkai saudara kita sendiri? Namun lihatlah kalimat indah selanjutnya yang mengakhiri ayat tersebut, “Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”.

Menurut imam Zaki Al—Barudi, ada beberapa faktor yang memicu seseorang untuk melakukan ghibah, antanya ialah adanya rasa dengki dan benci, persaingan yang tidak sehat, egois, lalai dengan dzikrullah, bergurau yang berlebihan, sikap berpura-pura, menganggur dan sebagainya.

Tapi, adapula jenis-jenis ghibah yang diperbolehkan, yakni :
  1. Berghibah karena dizalimi dan meminta pengadilan.
  2. Berghibah untuk meminta fatwa.
  3. Berghibah untuk bermusyawarah.
  4. berghibah untuk memberi peringatan atau penjelasan.
Namun, jangan juga kita memakai point-point di atas untuk mendalih, padahal jelas-jelas yang kita lakukan ialah dosa. Berhati-hatilah, jangan sampai orang lain merasa terganggu dengan lidah kita yang tajam tak bertulang ini, yang kerap kali menyakiti hati mereka. Rasul bilang, “Man kana yu’minu billahi wal yawmil akhir, fal yaqul khairan aw liyasmut!”. Anda beriman dengan Allah dan hari akhir? Maka berkatalah yang baik atau DIAM!. Benarlah kata pepatah mutiara yang popular terbaca oleh kita, bahwa diam adalah emas. Ingin mendapat emas, maka diamlah dan ucapkanlah amar makruf nahi munkar, agar kamu dan orang sekitarmu selamat dari bahaya lisanmu.

“Tiada satu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (QS. Qaf: 18)

(LISANA SHIDQIN ‘ALIYYA ^_^)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar