Ghibah,
mengapa acapkali diidentikkan kepada kebiasaan para kaum hawa? apakah itu ABG,
remaja, maupun ibu-ibu. Memang, seringkali aku melintasi sekelompok ibu-ibu
yang sedang ngerumpi di teras rumah mereka, entah apa atau siapa yang
sedang mereka ceritakan, hingga bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Menurut
ilmiah, wanita memang memiliki keterampilan bahasa yang lebih tinggi dibanding lelaki.
Mungkin itu juga salah satu alasan mengapa kaum wanita terkhusus ibu,
seringkali dicap ‘cerewet’ dari pada seorang bapak. Bedanya, bapak memiliki
wibawa yang lebih tinggi dibanding ibu.
Ngomongin
soal ghibah atau menggunjing, anak SD juga sudah tau bahwa hal tersebut adalah
perbuatan tercela. Namun terkadang, karena kebiasaanlah yang suka membuat awal
perbincangan berujung menjadi pergunjingan. Jika ditengan obrolan ada yang
mengingatkan untuk menghentikannya, tak jarang dari mereka berdalih bahwa hal
itu bukan termasuk ghibah, karena bertujuan untuk bla..bla..bla.. ya begitulah,
mungkin sebagian dari mereka, atau terkadang diriku sendri tidak menyadari dan
kurang berhat-hati dengan lidah yang tak bertulang ini.
Lalu,
pembicaraan seperti apa yang telak masuk ke ranah ghibah?
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah ra : Rasulullah Saw. bersabda, “Tahukah kamu, apakah ghibah
itu?” Sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Sabda beliau,
“Ghibah ialah kamu menyebut-nyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak disukai
olehnya.” Beliau ditanya, “Bagaimana pendapat engkau, jika yang kukatakan itu
memang terjadi pada saudaraku?” Jawab beliau, “Kalau memang terjadi apa yang
kamu katakan itu pada saudaramu, berarti kamu telah menggunjingnya. Jika tidak
terjadi, berarti kamu telah melakukan tuduhan dusta kepadanya.” (HR.Muslim-8:21
S.M.)
Demikianlah
pengertian ghibah yang dijelaskan oleh Nabi Saw. Perhatikanlah, tema-tema yang
dighibahkan pun tak jarang yang sampai membuka aib-aib orang lain, padahal
dalam pelajaran Riyadhus Shalihin diterangkan, bahwa orang yang menyebarkan
atau menceritakan aib orang lain di dunia, maka kelak di hari kiamat Allah akan
membuka aibnya di akhirat. Sebaliknya, orang yang tidak menceritakan aib orang
lain di dunia, maka kelak di hari kiamat Allah akan menutupi aibnya. Sebab,
pahala yang Allah janjikan sesuai dengan jenis amal yang dilakukan. Allah akan
menutupi aibnya, bisa berarti menghapus dosanya dan tidak menanyakannya, atau
menanyakannya secara pribadi lalu mengampuninya. Nah, setelah tahu balasan yang
telah Allah janjikan, masihkah kita berani untuk berghibah? Na’udzubillah..
Mari
kita buka Al-Qur’an surat
Al-Hujurat ayat 12, yang artinya :
“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan
janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di
antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu
merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat,
Maha penyayang.”
Meski
berprasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain serta menggunjing
memiliki kesinambungan, namun kali ini mari kita bahas sesuai judul yang tengah
kita diskusikan saja, yakni ‘menggunjing’.
Sebagaimana hadis
Rasul tadi, Al-Qur’an lebih dulu melarang aktivitas tersebut. Yaitu membicarakan
orang lain yang sesuai dengan realita yang tidak disukainya. Pada suatu hari
seorang lelaki berdiri dihadapan Rasulullah, sedangkan para sahabat yang hadir
melihat perawakan lemah pada diri orang tersebut ketika ia berdiri. Kemudian
berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah lemahnya (perawakan) fulan itu.” Lantas
Rasul bersabda, “Kalian telah memakan daging saudara kalian dan kalian telah
menggunjingnya.”
Lihatlah, alangkah
seringnya kita berkata demikian tanpa menyadari bahwa hal tersebut telah
dicatat dosa oleh para malaikat. Tidakkah kita merasa jijik jika memakan bangkai
saudara kita sendiri? Namun lihatlah kalimat indah selanjutnya yang mengakhiri
ayat tersebut, “Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima
taubat, Maha Penyayang.”.
Menurut imam Zaki
Al—Barudi, ada beberapa faktor yang memicu seseorang untuk melakukan ghibah,
antanya ialah adanya rasa dengki dan benci, persaingan yang tidak sehat, egois,
lalai dengan dzikrullah, bergurau yang berlebihan, sikap berpura-pura,
menganggur dan sebagainya.
Tapi, adapula
jenis-jenis ghibah yang diperbolehkan, yakni :
- Berghibah karena dizalimi dan meminta pengadilan.
- Berghibah untuk meminta fatwa.
- Berghibah untuk bermusyawarah.
- berghibah untuk memberi peringatan atau penjelasan.
Namun, jangan juga
kita memakai point-point di atas untuk mendalih, padahal jelas-jelas yang kita
lakukan ialah dosa. Berhati-hatilah, jangan sampai orang lain merasa terganggu
dengan lidah kita yang tajam tak bertulang ini, yang kerap kali menyakiti hati
mereka. Rasul bilang, “Man kana yu’minu billahi wal yawmil akhir, fal yaqul
khairan aw liyasmut!”. Anda beriman dengan Allah dan hari akhir? Maka
berkatalah yang baik atau DIAM!. Benarlah kata pepatah mutiara yang popular
terbaca oleh kita, bahwa diam adalah emas. Ingin mendapat emas, maka diamlah
dan ucapkanlah amar makruf nahi munkar, agar kamu dan orang sekitarmu selamat
dari bahaya lisanmu.
“Tiada satu
ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang
selalu hadir”. (QS. Qaf:
18)
(LISANA SHIDQIN
‘ALIYYA ^_^)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar